Pendekatan Filsafat

bab 8

PENDEKATAN SISTEMATIS

1. Metafisika

Meta berati sesudah atau dibalik, sedangkan fisika bermakna alam nyata. Dengan demikian metafisika berarti cabang filsafat yang membahas tentang hakikat sesuatu dibalik alam nyata ini (Bakry, 1986).

Immanuel Kant mengartikan metafisika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang “yang ada sebagai yang ada”, atau seperti Aristoteles menggunakan istilah being quabeing (Siswanto, 1998) pertanyaan tentang “yang ada” merupakan pertanyaan dalam filsafat. Metafisika bertugas membahas pertanyaan tersebut.

Dalam pengkategoriannya, metafisika dibedakan menjadi ontologi dan teologi.

  • Ontologi

Adanya segala sesuatu merupakan suatu sudut pandang dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk-makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Semua benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, merupakan suatu pengada. Kata Yunani pengada adalah on (genetif ontas). Oleh karena itu pengetahuan tentang pengada-pengada tersebut sejauh mereka ada disebut ontologi. (Hamersma dalam Shidarta, 1999).

Manusia dalam hidupnya senantiasa terkukung oleh fenomena, yaitu adanya kenyataan fisik (lahiriah) yang kasatmata, karena terobservasi oleh inderawi, dan ada pula satu fenomena lain yang berupa kenyataan non fisik. Ontologi mempermasalahkan tentang hubungan antara dua kenyataan tersebut. Apakah kedua satu hakikat, dua hakikat atau ada pendapat yang lain.

Para filosof berupaya untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga muncullah berbagai pandangan yang dapat dikelompokkan dalam aliran-aliran berfikir. Aliran-aliran tersebut adalah: Materialisme, Idealisme (Spiritualisme), Dualisme, dan Agnotisisme.

  • Teologi

Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti dikemukakan di atas, pada akhirnya akan berbenturan dengan satu pertanyaan yang paling hakiki, yaitu tentang Tuhan. Dialah yang dipandang sebagai prima causa, sumber dari segala realitas. Hal tersebut yang menjadi bahasa cabang filsafat teologi. Dalam Theologi muncul aliran-aliran berfikir, yaitu: Monoteisme, Panteisme, Ateisme, dan Agnostisisme.

Kaum monoteisme berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada, adanya tunggal. Sedangkan kaum Panteisme, merupakan aliran yang berpendapat bahwa Tuhan itu banyak (lebih dari satu). Kaum Ateis menganut pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada. Pendapat Agostisisme berpendapat bahwa manusia tidak mungkin tahu jawabannya, karenanya tidak ingin menggali pertanyaan tersebut.

Yang juga dikaji oleh metafisika di luar Tuhan, yaitu alam semesta (kosmologia) dan manusia itu sendiri (antropologia).

.

2. Epistemologi

Epistemelogi atau filsafat pengetahuan membahas filsafat dari asal-usul, ciri-ciri, dan metode dari pengetahuan itu sendiri.

Beberapa cabang yang lebih spesifik dari estimologi adalah logika dan filsafat ilmu. Logika membahas tentang aturan berfikir, khususnya tata cara yang benar dalam menarik kesimpulan. Sedangkan filsafat ilmu membahas hal-hal tentang dasar pembagian ilmu-ilmu dan metode pengumpulan datanya.

Aliran-aliran epistemologi yang muncul, antara lain, adalah: Empirisme, Rasionalisme, Positivisme, dan Intuisionisme.

.

3. Aksiologi

Aksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai ada kaitannya dengan kategori : baik dan buruk; serta indah dan jelek. Nilai baik dan buruk merupakan kajian filsafat tingkah laku yang disebut etika. Sedangkan, kategori indah dan jelek merupakan kajian filsafat keindahan atau estetika.

  • Etika

Objek kajian etika yang telah sangat lama adalah moralitas manusia, yaitu permasalahan perilaku yang sesuai merupakan pembahasannya. Perilaku manusia berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk.

Ada dua teori yang muncul yang menjelaskan bagaimana suatu perilaku tersebut dapat diukur secara etis. Teori-teori tersebut adalah Deontologis dan Teleologis.

Teori deontologis berpendapat bahwa manusia itu baik selama ia tidak melanggar norma-norma yang berlaku, termasuk didalamnya norma agama. Sedangkan teori teleologis berpendapat bahwa perilaku manusia baik jika buah dari perilaku tersebut lebih banyak untung daripada ruginya. Untung-rugi tersebut dilihat dari indikator kepentingan manusia. Dari teori teleologis, muncul dua pandangan, yaitu: a. Egoisme dan b. Untilitarisnisme (Utilisme).

  • Estetika

Estetika disebut juga filsafat keindahan yaitu cabang lain dari filsafat nilai, yang mempermasalahkan indah dan jelek. Estetika menjadi polemik menarik bila terkait dengan agama, nilai kesusilaan, keputusan/kelayakan dan hukum. Estetika sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran filsafat kontemporer pada masanya (Shidarta, 1999).

.

PENDEKATAN HISTORIS

1. Zaman Yunani Kuno

Zaman ini bermula dari sekitar th. 600 SM, yang ditandai dengan munculnya filosof pertama, yaitu Thales dari kota Miletos, di Asia Kecil , Yunani. Thales berhasil memotivasi pemikiran filsafat para filosof, antara lain:

  • Anaximander (610 SM – 540 SM)
  • Anaximenes (585 SM – 525 SM)
  • Herakleitos (540 SM – 480 SM)
  • Pythagoras (580 – 500 SM)
  • Parmenidas (515 SM – 440 SM)

Disini menunjukkan akal mulai berperan. Seiring dengan filosof alam, muncul sekelompok akhli pikir yang disebut kaum sofis. Kaum sofis menawarkan satu nilai baru, yaitu relativisme kebenaran. Disini tampak tanda-tanda akalmulai menguasai manusia dan akibatnya, manusia akhirnya menjadi ragu-ragu akan kebenaran akal tersebut. Masa ini disebut Skeptisisme. Masa berikutnya adalah eranya:

  • Sokrates (469 – 399 SM)
  • Plato (427 – 347 SM)
  • Aristoteles (384 – 322 SM)

Yunani Kuno mengalami puncak perkembangan kebudayaannya pada masa yang disebut Hellenisme.

Zeno (336 – 264 SM) merasakan ketimpangan-ketimpanganan. Ia lalu mendirikan aliran yang disebut Stoisme (Stoa) ia menganggap ada kebenaran universal, dan percaya akan hukum alam, dan percaya akan hukum alam.

Epikurus (341 – 270 SM) dengan ajarannya Epikurisme, berpendapat bahwa kebahagiaan adalah kenikmatan duniawi.

Plotinos (205 -270) dengan Neoplatonisme merupakan ajaran mistis, yang mengajak manusia untuk bersatu dengan Tuhan.

Agama Kristen tumbuh pesat pada zaman Patristik. Kaisar Justinianus (529) terdorong untuk melarang pengajaran filsafat Yunani di akademi Plato. Sejak itu praktis monopoli pendidikan dipegang langsung dibawah komando gereja.

.

2. Abad Pertengahan

Abad pertengahan adalah abad yang memisahkan dua periode besar, yaitu Zaman Yunani Kuno dan Zaman Modern. Masa abad ini yang terkenal dengan periode Skolastik. Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa abad ini merupakan abad kegelapan pada pengembangan pengetahuan ilmiah. Namun ada pula yang berpendapat bahwa masa ± seribu tahun itu merupakan juga masa dimana sistem sekolah yang kita kenal sekarang di kembangkan.

Pada tahun 1200 universitas pertama didirikan, dan subjek-subjek diajarkan dikelompokkan ke ke dalam berbagai fakultas. Negara-negara bangsa (nation state) bertumbuhan, demikian juga kota-kota besar (Gaarder, 1996). Faktor-faktor kondusif yang tumbuh pada masa tersebut adalah:

Faktor pertama, berdirinya universitas ternama seperti Univeritas Paris, Oxford, Bologna dan Cambridge. Uniersitas memiliki empat fakultas, yaitu: sastra, kedokteran, hukum dan teologi. Sebelum masuk ke fakultas lain, semua mahasiswa menempuh fakultas sastra (fucultas artium) guna memperoleh pelajaran tentang ilmu-ilmu bebas (artes liberales).

Menurut Bartens (dalam Shidarta, 1999), faktor lain adalah lahirnya ordo- ordo biara yang baru yakni Ordo Fransiskan dan Ordo Dominikan. Keduanya sangat dekat dengan kehidupan intelektual, misalnya Alexander dari Hales, guru besar universitas di Paris. Ordo Dominikan memperkenalkan adanya studium generale (rumah studi) yang kemudian di gabung dengan universitas setempat.

Thomas Aquinas (1225 – 1274), seorang pengikut Ordo Dominikan yang sering dipandang sebagai figur sentral abad pertengahan. Ia berupaya membangkitkan kembali peran akal. Guru besar dari universitas Napoli ini melahirkan banyak karya di bidang teologi, kosmologi, jiwa, sampai pada etika dan politik.

.

3. Zaman Modern

Zaman modern ditandai dengan munculnya Renaisance, diikuti oleh zaman Barok, Fajar Budi (Aufklaring), dan Romantik.

Renaisance berarti lahir kembali (rebirth), dan gerakan ini diawali di Italia pada abad ke 15 dan 16, yang menjadi indikator bangkitnya kembali independensi rasionalitas manusia pada zaman ini penemuan di bidang sains dan teknologi makin banyak. Pada zaman ini juga tumbuh Humanisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa manusia dapat mengatur dirinya sendiri, juga individualisme.

Tokoh rasionalisme pada zaman modern, ada tiga tokoh, yaitu: Rene Descartes (1596 – 1650); Spinosa (1633 – 1677) dan Leibniz (1646 – 1716). Rasionalisme di bidang agama dan gereja, sedangkan di bidang filsafat untuk menyusun teori pengetahuan.

Paham lain adalah idealisme, dengan tokoh-tokoh: Fichte (1762 – 1814); Hegel (1770 – 1831); dan Schelling (1775 – 1805). Idealisme mempunyai argum epistemologi tersendiri.

Kaum Teisme menyatakan bahwa objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan, sedangkan idealis mengatakan bahwa objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan Rasionalisme. Lawannya adalah Empirisme, yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh melalui rasio, melainkan pengalaman empirik.

Tiga tokoh aliran Empirisme adalah: John Locke (1632 – 1704); David Hume (1711 – 1776); dan Spencer (1820 – 1903).

Ketiga aliran Rasionalisme, Idealisme, dan Empirisme membuat manusia zaman modern bingung. Maka Kant (1724 – 1804), menempatkan keduanya: Ilmu dan agama sama pentingnya dan masing-masing berada pada tempatnya.

.

4. Zaman Sekarang

Pada abad ke 20 terdapat aliran-aliran seperti: Neokantianisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Strukturalisme. Aliran-aliran tersebut pada dasarnya meneruskan pertnetangan antara rasio (akal) dan hati (nurani) dalam sejarah filsafat manusia.

Positivisme dan Marxisme menjagokan ratio. Seangkan Pragmatisme merelatifkan, baik rasio maupun hati. Hal tersebut ditentang lagi oleh Neokantianisme, yang mempopulerkan pola keseimbangan yang diajarkan Kant.

Intuisi mendapat tempat dalam Fenomenologis, sedangkan Eksistensialisme menempatkan kembali empirik sebagai bukti keberadaan manusia. Kalau eksistensialisme, mendorong manusia untuk menjadi ateis, pada aliran Struktualisme, manusia didegradasikan menjadi objek telaahan, seperti halnya orang menelaah simbol-simbol.

Akhir abad ke 20 pemaknaan filsafat sebagai penafsiran simbol-simbol makin bertambah penting. Pada zaman modern orientasi filsafat pada antroposentris, abad ke 20 sudah beralih ke logosentris (kata loga atau simbol).

Kecenderungan manusia ingin lepas dari keterikatan, sehingga lahir suatu gerakan berfikir baru yang dikenal dengan Postmodernisme. Hal ini yang menginginkan keterlepasa manusia dari sistem dan struktur.