Lingkaran Bob Sadino

TAHAPAN KEMATANGAN HIDUP

Berkaca dari berbagai pengalaman dalam perjalanan hidupnya, Bob Sadino menggambarkan tahapan kematangan hidup seseorang dalam tiga lingkaran yang dia sebut Lingkaran Bob Sadino (LBS). Sejatinya, LBS adalah hasil modifikasi ide Gede Prama, tokoh inspirator muda yang dia kagumi.

Lingkaran pertama, yakni hitam-putih, berupa lingkaran yang terbelah menjadi dua bagian berwarna hitam dan putih. Lingkaran kedua, yakni abu-abu, berupa lingkaran yang masih terbagi dua, namun kedua warna berpadu menjadi satu (abu-abu). Terakhir lingkaran ketiga, yaitu lingkaran kosong, berupa lingkaran tanpa isi atau berwana putih, tak ada lagi hitam, putih, atau abu-abu.

LINGKARAN HITAM-PUTIH

Lingkaran hitam-putih-seperti terlihat pada gambar-berupa lingkaran yang terbelah menjadi dua bagian, yakni hitam dan putih. Lingkaran ini memperlihatkan wilayah orang yang bertumpu pada logika dalam berpikir. Sandarannya adalah otak, sehingga cara berpikirnya masih hitam-putih, baik-buruk, salah-benar, siang-malam, bodoh-pintar, laki-laki-perempuan, dan lain-lain.

Bila ditengok dari segi usia, lingkaran hitam-putih dihuni oleh orang dad lahir hingga rentang usia 25-40 tahun. Jika merujuk pada RBS, wilayah ini identik dengan orang dari kuadran tahu. “Pendek kata, orang lingkaran pertama ini, yang biasanya juga orang-orang kuadran tahu, kalau ditanya 2 x 2 ya jawabnya pasti 4. Tidak ada jawaban lain, karena tidak ada teori yang membenarkan jawaban lainnya”, jelas Bob.

Menurut Bob lagi, berhadapan dengan orang-orang lingkaran pertama bisa gampang-gampang susah. Gampang karena konstruksi pikirannya mudah sekali dikenali, sementara susah karena mereka sangat sulit diajak bergeser atau keluar dari kungkungan lingkaran tersebut.

Karena itu, Bob cukup paham, mengapa orang-orang menganggap sikap, pikiran, maupun pernyataannya aneh, nyentrik, bahkan negatif. Orang-orang pada lingkaran ini, karena dikendalikan cara berpikir hitam-putih, sering tidak bisa melihat sisi lain dari berbagai gejala, peristiwa, fenomena, termasuk ide atau pikiran orang lain yang berbeda. Sekali lagi Bob menegaskan, jam terbang sangat menentukan cara orang berpikir, bersikap, dan bertindak.

LINGKARAN ABU-ABU

Lingkaran abu-abu, digambarkan sebagai lingkaran yang terbelah dua, namun tidak lagi memiliki batasan warna yang tegas. Lingkaran ini memperlihatkan leburnya warn a hitam dan putih akibat proses kehidupan yang dijalani. Bila di lingkaran pertama orang mengandalkan otak atau logika, maka di lingkaran kedua orang sudah bergeser lebih jauh lagi.

Hal ini karena, mereka sudah bersandar pada hati atau kebijaksanaan dalam memandang segala konsep, teori, gagasan, gejala, fenomena, maupun realitas. Di wilayah ini, orang tidak lagi memandang sesuatu secara hitam-putih atau benar-salah, melainkan sudah ada moderasi dengan melihat kedua sisinya.

Lingkaran abu-abu menunjukkan suatu tahap kematangan seseorang akibat berbagai perubahan dalam proses pembelajaran hidupnya. Biasanya, lingkaran ini dihuni oleh orang dengan rentang usia 40-60 tahun. Mereka sudah mampu melihat sesuatu dari beragam sisi. Saat dihadapkan dengan suatu fenomena, mereka cenderung melihat dari sudut pandang lainnya, tidak semata menganggap apa yang salah itu salah, sebab mungkin saja ada kebenaran di baliknya.

Sebaliknya, mereka juga mampu melihat kemungkinan kesalahan dalam sesuatu yang sudah dianggap benar sekalipun. Jadi, saat kebanyakan orang melihat suatu fenomena hanya dari sisi buruknya, orang-orang di lingkaran abu-abu justru melihat kebaikan di balik sesuatu yang tampak buruk itu.

Menurut Bob, penghuni lingkaran kedua, kalau ditanya 2 x 2 jawabnya tidak selalu 4. Bisa 4, bisa 6, atau berapa saja. Mereka dapat melihat peluang di tengah kesulitan. Orang-orang ini juga tidak akan tercengang saat mendengar Bob berujar bahwa bisnis mencari rugi dan memburu risiko. Tidak ada lagi anggapan yang jelek pasti jelek, begitu pula sebaliknya. Lingkaran ini adalah wilayah hati dan wisdom, tak semata logika. Inilah lingkarannya para entrepreneur.

Nah, jika ditarik dalam konsep Roda Bob Sadino, sangat sulit menemukan orang dari kudran tahu yang menghuni lingkaran abu-abu. Walau tidak secara tegas dinyatakan Bob, namun dapat disimpulkan, lingkaran kedua dihuni oleh orang-orang dari kuadran bisa, terampil, dan ahli. Singkat kata, inilah lingkaran bagi mereka yang lepas dari kurungan teori, serta lulus dari dialektika antara kuadran tahu dan bisa.

Jika diterapkan dalam kepemimpinan, maka seorang pemimpin yang mampu mengetahui kondisi nyata masyarakatnya, tidak terpaku pada apa yang tampak di luar, tetapi juga mengerti masalah utama masyarakat, adalah pemimpin yang sudah mampu bergeser ke lingkaran kedua.

Pemimpin seperti ini biasanya cukup peka, sehingga mampu mengambil kebijakan sesuai kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya. Bila perlu, pemimpin justru dapat memberikan yang terbaik, melebihi ekspektasi orang-orang yang dia pimpin.

Bob menjelaskan, untuk mencapai kemampuan ini dibutuhkan jam terbang yang cukup. Orang harus memiliki cukup waktu dan pengalaman dalam berproses. Dengan kata lain, bergerak melingkar dari kuadran tahu hingga kuadran ahli, kemudian kembali lagi ke kuadran tahu. Begitu seterusnya.

LINGKARAN KOSONG

Lingkaran kosong digambarkan sebagai lingkaran putih atau polos, seolah tanpa isi atau hampa, meski sebenarnya tidak. Penghuni lingkaran ini biasanya berusia di atas 60 tahun. Mereka sudah semakin bergeser dari lingkaran-lingkaran sebelumnya, sehingga seolah benar-benar terlepas dari belenggu pikiran. Sementara bagi orang di lingkaran hitam-putih, penghuni lingkaran kosong adalah mereka yang memiliki logika sendiri alias otonom.

Orang di lingkaran kosong juga terlihat beranjak setingkat lebih tinggi dibanding kebijaksanaan. Tak ada lagi beban akibat keberadaan dan pertentangan konsep, peristiwa, gejala, fenomena, dan realitas. Keberadaan mereka seolah melebur, mengalir, dan bersama dalam kondisi apa pun. Suatu kesempurnaan dalam kelenturan hidup.

Bob menjelaskan, di sinilah tempatnya iman, kepercayaan, dan keyakinan. Orang telah sepenuhnya menyandarkan hidup pada kekuatan Tuhan. Tidak ada lagi salah atau benar, karena yang ada anyalah iman. Karena bersandar pada ikhlas, maka tak ada lagi rencana dan harapan, atau arah dan tujuan.

Hidup seolah tanpa titik, karena dijalani dalam kerelaan yang sebenar- benarnya. Bob menyebutnya sebagai ‘total surrender‘, atau penyerahan penuh atas hidupnya kepada Yang Mahakuasa. Singkatnya, “Hidup dalam kesadaran akan kuasa mutlak Sang Maha Pencipta”, jelas Bob.

Nah, berkaca dari pengalaman hidupnya sendiri, Bob menggambarkan dirinya sebagai sungai yang mengalir dari sumber-sumber air menuju lautan. Aliran sungai berawal dari beberapa sumber air kecil yang mengalir sehingga membentuk sungai. Sungai ini kemudian bergerak menuruni gunung, berkelok, melewati lembah, dan terus mengalir begitu saja hingga berakhir di lautan.

“Ibaratnya, hidup saya ini seperti aliran sebuah sungai. Dia dilempari sampah, dikencingin, diberakin, dibuangin bangkai, serba nggak enak. Tapi, dia selama ribuan tahun nyaman saja mengalir. Dia nggak ngomel. Bertemu batu dia belok. Bertemu tanah yang agak tinggi, dia berbelok ke kanan sedikit”, tutur Bob.

Pada titik inilah, Bob menegaskan bahwa hidupnya sudah ada yang mengatur dan mengarahkan, sehingga dia tidak perlu repot merancang semuanya. “Manusia berencana, Tuhan menentukan. Buat apa saya membuat tujuan dan rencana, kan? Wong saya punya Maha Perencana, kok?

Kata teknisnya ‘destiny‘. Tuhan sudah menentukan, kamu nanti ujungnya di sini. Awalnya panca indra, bekalnya dari Tuhan adalah fitrah kita. Fitrah itulah bekal-bekal dari Tuhan”, demikian dia menjelaskan.

Berangkat dari pemahaman ini, muncul protes Bob atas anggapan orang yang menyatakan bahwa maju-mundumya kehidupan seseorang ditentukan oleh nasib atau keberuntungan. Bagi Bob, seharusnya orang bicara soal kekuasaan Tuhan yang menentukan setiap unsur kehidupan manusia. “Tidak ada luck atau hoki, karena manusia tidak bisa bersandar pada hal-hal tersebut!”, tegasnya.

“Makanya, kalau Anda percaya sama luck, sama nasib, saya menerjemahkan bahwa Anda sedang protes keras sama Tuhan. Anda hendak mengatakan, ‘Hai Tuhan, Engau Maha Tidak-Adil!’ Kenapa tidak adil? ‘Karena Engkau berikan nasib terlampau baik kepada Bob Sadino, tetapi tidak kepada saya.’ Ini pertanyaan sandarannya apa? Materi, kan?”, lanjut Bob mengemukakan alasan.

Kemudian saat ditanya, setelah memiliki kehidupan sukses seperti itu, terus Bob mau apa lagi? Dia hanya menjawab bijak, tetap ingin mengalir saja. Dia merasa tak perlu menjadi orang tersistem, atau terus dihantui keinginan sehingga berusaha memaksa diri untuk mengontrol hidupnya. Bagi Bob, memiliki Tuhan sebagai Maha Perencana adalah yang paling indah.

Lalu bagaimana dengan muaranya? Bob mengaku enggan membatasi diri dalam mengartikan kata ‘muara’. Meski demikian, dia menyebutkan, muara kehidupan adalah puncak dari kebebasan berpikir dan bertindak. Aliran tersebut sampai ke suatu tempat yang dapat memberikan segalanya bagi lautan. Walau sungai begitu kecil, namun dia puas dan merasa bahagia karena dapat mengalirkan isinya ke lautan luas.

Bob menyebut situasi tersebut sebagai puncak kebahagiaan dan eksistensi. Dalam bahasa yang cukup nyeleneh, dia menamainya dengan ‘orgasme kehidupan’. Baginya, itulah muara kehidupan Bob dalam arti sesungguhnya, dan eksistensi diri yang seutuhnya. Dia benar-benr tak peduli orang mau bilang dia aneh, gila, goblok, tolol, kontroversial, ekstrimis, teroris, dan sebagainya.

Ya, kita semakin melihat, di balik setiap ucapan, pikiran, dan sikap Bob yang begitu merdeka, ada sebuah pijakan spiritual, bahwa hidup sesungguhnya telah diatur, diarahkan, dan ditentukan oleh Maha Pencipta. Bila ditilik lebih jauh, kentara sekali Bob telah memasuki tahapan lingkaran kosong, yakni ikhlas dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa.

“Saya melihat hubungan saya dengan Sang Pencipta itu debu lah, nggak ada artinya. Debu, kecil sekali. Dia itu begitu Besarnya, begitu Agungnya”, ujar Bob seraya merendahkan diri kepada Tuhan.

Sumber: Wisteria, H. 2016. Bob Sadino: Goblok Pangkal Kaya. Yogyakarta: Genesis Learning.