Video Gender di Sekolah

usaidApakah yang dimaksud dengan gender dan apa bedanya dengan jenis kelamin? Gender merupakan bentukan, konstruksi sosial, atau interpretasi masyarakat atas perbedaan kondisi biologis antara perempuan dan laki-laki. Gender juga sering disebut sebagai jenis kelamin sosial. Sedangkan jenis kelamin adalah perbedaan biologis dan kodrati laki-laki dan perempuan dari organ dan fungsi reproduksinya yang ditetapkan dan melekat sejak lahir, tidak bisa berubah, dan tidak bisa dipertukarkan. Jenis kelamin/seks disebut juga jenis kelamin biologis.

Keadilan gender bukan hanya mengenai perempuan, tetapi juga laki-laki. Sebab, sesungguhnya ketimpangan gender tidak senantiasa merugikan kaum perempuan, namun banyak juga kaum laki-laki yang dirugikan karena ketimpangan gender. Keadilan gender juga mengacu pada tujuan agar perempuan dan laki-laki memiliki status yang setara dalam hal keberadaan mereka di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Keadilan gender akan menjadi masalah jika terjadi perbedaan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat antara perempuan dan laki-laki.

Hasil pengamatan di sekolah menunjukkan masih banyak terjadi bias gender dalam proses pembelajaran terkait dengan kebiasaan di Indonesia. Misalnya, siswa perempuan sering tidak didorong untuk berbicara di depan umum untuk menyatakan pendapat/gagasan mereka atau mempertanyakan otoritas yang sebagian besar di bawah kendali laki-laki. Dalam buku materi bahan ajar, masih banyak terdapat bias gender. Misalnya, memberikan contoh peran perempuan di sektor domestik dan laki-laki di sektor publik, dsb.

Guru dapat berperan penting untuk mengubah stereotip yang selama ini ada. Misalnya, bersikap baik terhadap kemampuan siswa perempuan dan laki-laki, memberikan perhatian yang adil kepada siswa laki-laki maupun perempuan, dan mendorong siswa perempuan untuk ambil bagian secara aktif dalam kegiatan esktrakurikuler yang biasanya diikuti oleh siswa laki-laki, dsb. Lingkungan sekolah dan proses pembelajaran yang peka gender dapat menumbuhkan rasa nyaman dan kodusif bagi anak sebagai peserta didik. Karena itu, hal ini pasti membuat sang anak lebih siap sebagai pebelajar dan pada gilirannya akan mendorong meningkatnya mutu pembelajaran dan prestasi siswa secara maksimal.