Peran Wali Kelas

Kegiatan administrasi di sekolah sebagian besar dilaksanakan oleh tata usaha/ tenaga administrasi sekolah. Namun untuk administrasi laporan akademik (raport) tidak dapat dilakukan oleh tata usaha, karena pengisian raport tidak hanya sekedar memindahkan data nilai dari guru mata pelajaran ke dalam buku raport. Banyak aspek-aspek lain yang mempengaruhi nilai raport. Oleh karena itu diperlukan wali kelas. Selain kegiatan administrasi, wali kelas berperan juga dalam membina dan memotivasi siswa baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Sehingga tingkah laku, sikap, keaktifan, dan kedisiplinan siswa mencerminkan kebijakan atau pembinaan wali kelas. Kebijakan wali kelas biasanya tidak sama antara yang satu dengan yang lain, tergantung dari tipe wali kelas tersebut.

Pada umumnya secara ekstrim dijumpai dua tipe wali kelas yaitu tipe otoriter dan tipe body guard. Wali kelas otoriter harus selalu ingin dilayani atau semua keinginan wali kelas harus dipenuhi oleh siswa. Sedangkan wali kelas body guard bersifat sebaliknya, dia selalu ingin membela siswanya tidak peduli salah atau benar “pokoknya siswa saya harus saya bela”.

pgnWali kelas otoriter biasanya jarang sekali menampakkan senyuman, cenderung sering mengintimidasi anak, mengancam, dan sebagainya. Oleh karena itu ketika wali kelas masuk di kelasnya, suasana kelas hening, tidak ada seorang siswapun yang berani bercakap-cakap dengan temannya apalagi ramai atau bertanya. Wali Kelas seperti ini biasanya ingin dianggap bahwa wali kelas-lah yang dapat membuat merah atau biru nilai raport, sehingga “hidup mati” siswa ada di tangan wali kelas. Selama pelajaran wali kelas berlangsung, biasanya siswa berusaha bersikap sebaik mungkin, diam, mencatat dan seialu mengiyakan penjelasan guru. Siswa tidak berani coba-coba bertanya atau menjawab pertanyaan guru karena takut salah. Umumnya para siswa mengalami tekanan yang amat sangat, sehingga selalu salah tingkah dan tidak be ani bertindak. Keadaan seperti ini tentunya kurang baik, sebab dapat melemahkan keberanian dan kreativitas siswa. Jika kebiasaan ini terbawa pada pelajaran lain, maka akan banyak guru yang tidak senang mengajar di kelas ini karena berhadapan dengan siswa yang penakut dan pasif.

Sangat berlawanan dengan wali kelas otoriter, wali kelas tipe body guard biasanya selalu berusaha sebaik mungkin ketika berada di kelasnya, cenderung berusaha melindungi siswa dalam suasana apapun dan untuk siswa dikelasnya baik yang rajin, yang malas maupun yang nakal, semua dilindungi. Wali kelas seperti ini biasanya ingin dianggap bahwa “selama saya menjadi wali kelas kalian, maka segala sesuatunya pasti beres”. Kondisi kelas seperti ini sangat merugikan guru-guru yang lain, karena dengan adanya “jaminan naik kelas atau kemudahan yang lain” akan mengakibatkan siswa melecehkan tata tertib sekolah dan meremehkan guru yang lain. Siswa hanya berusaha mengambil hati wali kelasnya, tapi tidak mempedulikan guru yang lain. Ketika guru lain ingin memberikan nasehat, teguran atau peringatan, siswa merasa seolah-olah tidak bersalah, sebab merasa segala tingkah lakunya mendapat perlindungan dari wali kelas. Hal ini menjadikan kelas tersebut sulit dikendalikan. Ketika rapat kenaikan kelaspun, wali kelas akan berusaha membela siswanya yang jelas-jelas melanggar tata tertib sekolah, sehingga yang seharusnya tidak naik kelas tetap diperjuangkan agar naik kelas. Pembelaan wali kelas seperti ini akan mengakibatkan siswa menjadi manja, tidak terbiasa bertanggungjawab dan tidak memiliki kedewasaan dalam berpikir.

Menjadi wali kelas yang terlalu membela siswa dan terlalu menekan siswa sama-sama kurang baik bagi perkembangan kepribadian siswa. Oelah sebab itu, agar tidak terjadi miskonsepsi, maka wali kelas harus menyadari dan memahami tentang perannya sebagai wali kelas.

Pertama, wali kelas sebagai petugas administrasi. Pengisian buku laporan pendidikanl akademik (raport) sangat sulit bila dilakukan oleh tata usaha. Hal ini disebabkan tata usaha tidak mengetahui keseharian siswa ketika berada di dalam kelas baik tingkah lakunya maupun kemampuan akademiknya. Pengisian buku raport tidak sekedar hanya memindahkan data tertulis dari guru mata pelajaran ke dalam raport saja, tetapi terkait pula dengan unsur akhlak, keaktifan, presensi. Sebagai petugas administrasi, wali kelas juga harus jujur dan amanah, dalam arti tidak mengubah angka nilai siswa yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Wali kelas tipe body guard bisa saja tiba-tiba mengganti angka nilai beberapa mata pelajaran dengan tujuan agar seluruh siswanya naik kelas. Bila ini terjadi, wali kelas tersebut telah merusak tatanan akademik sekolah yang mestinya dijunjung tinggi.

Kedua, wali kelas sebaiknya “memahami siswa”. Memahami siswa artinya wali kelas mengetahui pribadi/karakter siswa, kebiasaan siswa, pergaulan siswa, latar belakang sosial ekonomi siswa, dsb. Memahami siswa bukan berarti memaklumi segal a apa yang dilakukan oleh siswa. Dengan memahami siswa diharapkan keputusan yang diambil wali kelas proporsional, adil dan bijaksana sesuai dengan tata tertib sekolah yang berlaku. Oleh karena itu salah satu syarat menjadi wali kelas adalah harus memiliki tugas mengajar di kelasnya agar dapat mengikuti perkembangan siswanya.

Ketiga, wali kelas sebagai “pengganti orang tua”. Pernyataan ini sangat peka, sebab bagi sebagian wali kelas menganggap pemyataan ini terlalu berlebihan. Sebagian yang lain ada yang menerapkannya dengan cara mengatakan di depan kelas ” Anggaplah Ibu ini sebagai orang tuamu sendiri, sehingga bila ada masalah silakan konsultasikan dengan Ibu”. Pengumuman ini tidak efektif, sebab tidak mungkin siswa yang belum mengenal wali kelasnya tiba-tiba konsultasi tentang kesulitan hidupnya. Seorang wali kelas yang ingin dianggap sebagai orang tuanya harus mau “jemput bola”. Dengan kemampuannya dalam memahami siswa, maka wali kelas mengetahui siswa mana yang memiliki masalah dan dapat berperan sebagai orang tua, yaitu memberikan penyelesaian baik diminta maupun tidak dalam kegiatan akademik maupun masalah-masalah pribadinya yang mempengaruhi kegiatan akademiknya.

Keempat, wali kelas sebagai motivator. Bila ada siswa yang memiliki masalah atau prestasi akademiknya turun, wali kelas diharapkan dapat memberikan motivasi, sehingga permasalahannya selesai dengan baik. Dalam memberi motivasi, guru diharapkan dapat bermain peran sehingga siswa tidak merasa bahwa dia sedang “ditaklukkan” oleh wali kelas, yaitu siswa yang nakal menjadi baik, yang malas belajar menjadi rajin, yang kurang pandai menjadi pandai. Dengan demikian tidak benar bila masih ada wali kelas yang mengatakan “Bila kamu sering tidak masuk sekolah, maka kamu tidak naik kelas”. Kalimat ini mencerminkan bahwa wali kelas terlalu emosional. Lebih baik diganti dengan “Bila kamu sering tidak masuk sekolah, kamu akan tertinggal pelajaran sehingga tidak dapat mengerjakan ulangan yang berakibat nilaimu akanjelek dan akhimya tidak naik kelas”. Kalimat ini lebih menunjukkan sebab akibat, bukannya kalimat emosi atau menunjukkan kekuasaan wali kelas, yang pada akhimya akan memberikan kesadaran siswa memahami tanggung jawab akibat perbuatannya.

Kelima, usahakan selalu adil dan bijaksana. Siswa merasa kecewa bila menemukan kenyataan bahwa wali kelasnya hanya senang dengan siswa yang pandai saja, yang cantik saja, yang ganteng saja, atau yang kaya saja. Rasa kecewa siswa dapat diungkapkan dalam bentuk dengan berbagai tingkah laku yang kurang terpuji. Dengan demikian tingkah laku siswa yang kurang baik kadang-kadang merupakan salah satu bentuk protes siswa terhadap sekolah.

Keenam, wali kelas sebagai tauladan. Siswa sekolah pasti memerlukan cermin atau contoh sebagai tolok ukur atau pedoman tingkah lakunya. Wali kelas yang berakhlak baik, adil dan bijaksana pasti akan ditiru, dihormati dan disegani. Seorang siswa yang patuh kepada wali kelas bukan karena takut kepada wali kelas karena wali kelasnya berbadan tegap dan kekar. Namun karena wali kelas memiliki akhlak yang mulia yang pantas untuk diteladani.