Manajemen Strategik di Dunia Pendidikan

A. PENDAHULUAN
Manajemen pendidikan yang diterapkan di lingkungan internal sistem persekolahan hanyalah sebagian dari tanggung jawab kepala sekolah sebagai manajer pendidikan. Para pengelola pendidikan (antara lain: Kepala sekolah, Kepala Dinas Pendidikan Nasional) sebagai eksekutif modern saat ini harus mampu mengamati dan merespons segenap tantangan yang dimunculkan oleh lingkungan eksternal baik yang dekat maupun yang jauh. Lingkungan eksternal dekat adalah lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung pada operasional lembaga pendidikan, seperti berbagai potensi dan keadaan dalam bidang pendidikan yang menjadi konsentrasi usaha sekolah itu sendiri, situasi persaingan, situasi pelanggan pendidikan, dan pengguna lulusan. Kesemuanya berpengaruh pada penentuan strategi yang diperkirakan mendukung sekolah mencapai tujuannya. Lingkungan eksternal yang jauh adalah berbagai kekuatan dan kondisi yang muncul di luar lingkungan eksternal yang dekat meliputi keadaan sosial ekonomi, politik, keamanan nasional, perkembangan teknologi, dan tantangan global. Secara tidak langsung berpengaruh terhadap penyelenggaraan sistem pendidikan di suatu sekolah.

Semua faktor di atas perlu diantisipasi, dipantau, dinilai, dan disertakan sedemikian rupa ke dalam proses pengambilan keputusan eksekutif. Para pengambil keputusan, termasuk di dalamnya kepala sekolah maupun pengelola pendidikan lainnya seringkali terpaksa mengalahkan tuntutan kegiatan interen dan eksteren lembaga pendidikan demi melayani bermacam kepentingan seperti: urusan rutin, dinas, bekerja harus selalu di bawah petunjuk atau pedoman kerja yang ditetapkan oleh birokrasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan eksternal organisasi yang terus berubah, sehingga proses pengambilan keputusan seringkali tidak maksimal dalam menghasilkan keputusan-keputusan strategis. Akibatnya persoalan-persoalan aktual lembaga pendidikan yang dihadapi tidak dapat dipecahkan secara memuaskan.

Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan eksternal dan internal (keadaan rill) lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang yang ada untuk dapat merumuskan dan mengimplementasikan berbagai rencana pendidikan secara berhasil. Rancangan yang bersifat menyeluruh ini dapat dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik.

1. Pengertian
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, konsep dasar manajemen strategik secara garis besar telah mulai didiskusikan. Istilah “manajemen strategi” terbentuk dari dua kata yakni strategic berasal dari bahasa Yunani, strategia, yang berarti seni atau ilmu menjadi seorang jenderal. Jenderal Yunani yang efektif perlu memimpin tentara, memenangkan peperangan dan mempertahankan wilayah melindungi kota dari serangan musuh, menghancurkan musuh (Stoner, Freeman, & Gilbert, 1995).

Dalam konteks manajemen istilah “strategik” diartikan sebagai cara dan taktik utama yang dirancang secara sistematik dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yang terarah pada tujuan strategik organisasi. Rancangan ini disebut sebagai “perencanaan strategik” (Nawawi, 2000). Sharplin (1984) menyatakan bahwa manajemen strategik adalah proses formulasi dan implementasi rencana dan kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal vital, pervasif dan berkesinambungan bagi suatu organisasi secara keseluruhan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Robinson (1996) menyajikan definisi lengkap manajemen strategi sebagai sekumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan dengan sembilan tugas penting:
a. Merumuskan misi organisasi meliputi rumusan umum filosofi dan tujuan.
b. Mengembangkan profil organisasi yang mencerminkan kondisi internnya.
c. Menilai lingkungan eksternal organisasi meliputi pesaing dan faktor kontekstual.
d. Menganalisis alternatif strategi dengan mencocokkan sumber dayanya dengan lingkungan eksternal.
e. Mengidentifikasi setiap alternatif strategi untuk menentukan strategi mana yang paling cocok sesuai misi organisasi.
f. Memilih seperangkat sasaran jangka panjang dan strategi umum.
g. Mengembangkan sasaran tahunan dan strategi jangka pendek.
h. Mengimplementasikan pilihan strategik dengan cara mengalokasikan sumber daya anggaran yang menekankan pada kesesuaian antara tugas, struktur, teknologi, dan sistem imbalan.
i. Mengevaluasi keberhasilan proses strategik sebagai masukan bagi pengambilan keputusan yang akan datang.

2. Tujuan
Berdasarkan pengamalan historis di dalam penyelenggaraan suatu organisasi, maka manfaat utama penerapan prinsip manajemen strategi di dalam lembaga pendidikan adalah membantu lembaga pendidikan merumuskan strategi yang lebih tepat dengan menggunakan pendekatan sistematis, logis, dan rasional pada proses pemilihan strategi pegelolaan pendidikan di era global yang terus mengalami perubahan. Dasar manajemen strategi adalah menumbuhkan komitmen atau dukungan dari semua pihak (sumber daya manusia) mengenai visi, misi lembaga pendidikan, sasaran penyelenggaraan pendidikan, dan upaya-upaya pencapaiannya. Atas dasar itu, maka tujuan utama manajemen strategi adalah mencapai pengertian dan komitmen dari semua eksekutif maupun pelaksana lembaga pendidikan.

Oleh karena itu, manfaat besar dari manajemen strategi adalah memberi peluang bagi organisasi dalam pemberdayaan individual. Pemberdayaan adalah tindakan memperkuat pengertian karyawan mengenai efektivitas dengan mendorong dan menghargai mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan latihan inisiatif serta imajinasi (David, 1998).

Penerapan manajemen strategi di dalam penyelenggaraan sistem pendidikan memungkinkan suatu organisasi penyelenggara pendidikan (termasuk di dalamnya sekolah dan departemen pendidikan) untuk lebih proaktif ketimbang reaktif dalam membentuk masa depan lembaga pendidikan di dunia global dewasa ini. Dengan menerapkan konsep berpikir dan bertindak strategik, lembaga pendidikan diharapkan dapat mengawali dan mempengaruhi ketimbang hanya memberi respons terhadap berbagai tuntutan dan atau aktivitas rutin dan birokratis; namun lebih dari itu, lembaga pendidikan harus dapat berusaha keras merencanakan kegiatan-kegiatan strategis, mengimplementasikan, dan mengendalikan segenap operasional kelembagaan untuk mencapai tujuan-tujuan strategis yang telah dirumuskan.

B. EVOLUSI KONSEP MANAJEMEN STRATEGI
Rencana strategis yang telah dirumuskan oleh organisasi berisi tentang pernyataan strategi yang siap dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan utama organisasi. Menjadikan organisasi strategis merupakan proses menghasilkan strategi dan memperbaikinya sesuai dengan keperluan.

Manajemen strategi dipandang suatu evolusi manajemen karena dua alasan:
1. Strategi sebagai rencana besar organisasi untuk mengatasi tantangan saat ini, dan sekaligus mencapai keberhasilan misi organisasi di masa yang akan datang.
2. Organisasi menerapkan manajemen strategik menjawab perubahan dunia dalam rangka meningkatkan kemampuan daya saing untuk meraih keberhasilan di masa-masa mendatang (Stoner, Freeman, & Gilbert, 1995).

C. KARAKTERISTIK DAN DIMENSI MANAJEMEN STRATEGIK
1. Karakteristik Manajemen Strategik
Berdasarkan uraian singkat mengenai konsep manajemen strategik sebelumnya dapat digariskan beberapa karakteristik manajemen strategik sebagai berikut:
a. Manajemen strategik diwujudkan dalam bentuk perencanaan berskala besar, dalam arti mencakup kepentingan seluruh komponen organisasi. Hasil rumusan rencana ini biasanya dituangkan dalam bentuk rencana-rencana organisasi secara hierarkis, yakni: rencana strategis (Renstra), rencana operasional (Renop), program, dan kegiatan.
b. Rencana strategik berorientasi ke masa depan (misal 10 tahun ke atas).
c. Visi, misi organisasi menjadi acuan dalam penyusunan rencana strategis.
d. Adanya keterlibatan pimpinan puncak dalam penyusunan rencana strategis.
e. Hasil rumusan rencana strategis diimplementasikan melalui fungsi-fungsi manajemen.

2. Dimensi-Dimensi Manajemen Strategik
Manajemen strategik memiliki dimensi yang bersifat multidimensional, yakni:
a. Dimensi waktu dan orientasi masa depan. Manajemen strategi berorientasi kepada sasaran jangka panjang. Antisipasi masa depan tersebut dirumuskan dan ditetapkan sebagai visi organisasi yang akan diwujudkan 10 tahun atau lebih di masa depan. Durasi waktu rencana strategik tersebut bahkan dapat berkisar antara 25-30 tahun ke atas.
b. Dimensi internal dan eksternal.
c. Dimensi pendayagunaan sumber-sumber.
d. Dimensi multi bidang.
e. Pengikutsertaan manajemen puncak.

D. KOMPONEN-KOMPONEN UTAMA MANAJEMEN STRATEGIK
Manajemen strategik melibatkan proses perencanaan melalui dua tahap
(komponen) perencanaan, yakni:
1. Komponen perencanaan strategis meliputi proses perumusan: visi, misi, tujuan strategik, dan strategi utama (strategi umum).
2. Komponen perencanaan operasional meliputi proses perumusan sasaran atau tujuan operasional, pelaksanaan fungsi manajemen, kebijakan, jaringan kerja internal eksternal organisasi, dan kontrol dan evaluasi.

E. KONSEP VISI DAN MISI
Perumusan visi misi organisasi harus dilakukan secara cermat dengan memperhatikan karakteristik rumusan visi misi tersebut.
Visi merupakan sudut pandang ke masa depan organisasi dalam mewujudkan tujuan strategis organisasi yang berpengaruh langsung pada misinya sekarang, dan masa yang akan datang. Sedangkan misi organisasi merupakan keseluruhan tugas pokok yang dijabarkan, berupa kegiatan apa, yang sedang atau segera dilaksanakan untuk suatu organisasi.

F. MANAJEMEN STRATEGIK SEBAGAI PROSES
Pada dasarya manajemen strategi sebagai proses terdiri dari tiga tahap pokok yakni perumusan strategi, implimentasi strategi, dan pengendalian/evaluasi strategi.

1. Perumusan Strategi
Pada tahap ini, perencana eksekutif merumuskan visi misi organisasi, pembuatan profil organisasi, mengenali peluang dan ancaman ekstemal organisasi, menganalisis alternatif strategi, menetapkan sasaran jangka panjang, dan memilih strategi induk. Alat manajemen yang cukup potensial untuk membantu analisis peluang dan ancaman tersebut dapat menggunakan teknik analisis SWOT.

2. Implementasi Strategi
Pada tahap ini pimpinan melakukan perumusan strategi operasional, menetapkan sasaran tahunan atau jangka pendek, kebijakan, motivasi dan pemberdayaan sumber-sumber yang tersedia untuk merealisasikan rencana strategis, dan melembagakan strategi.

3. Pengendalian dan Evaluasi
Pada tahap ini pimpinan melakukan pengawasan dalam rangka mendorong kelancaran pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Pimpinan juga perlu mengetahui atau memonitor kemajuan kegiatan yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil monitoring itu, jika diperlukan maka semua strategi yang telah diterapkan dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksternal dan internal selalu berubah. Tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah: (a) meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi sekarang, (b) mengukur prestasi, dan (c) mengambil tindakan korektif.

Posisi formulasi dan implementasi dalam manajemen strategik dapat dilihat dalam gambar berikut.

strg1

Selanjutnya proses formulasi strategik dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Gambar tersebut mengilustrasikan proses keutuhan yang disederhanakan untuk memudahkan pemahaman. Dalam hal ini terdapat 5 langkah pokok formulasi strategi, yaitu: (1) perumusan misi, (2) asesmen lingkungan eksternal, (3) asesmen organisasi, (4) perumusan tujuan khusus, dan (5) penentuan strategi.

strg2

Sebagaimana telah tergambar di atas bahwa analisis lingkungan terdiri dari dua unsur, yaitu analisis eksternal dan analisis internal (analisis organisasi). Analisis lingkungan eksternal meliputi identifikasi dan evaluasi aspek-aspek sosial, budaya, politis, dan teknologi, serta kecenderungan yang mungkin berpengaruh pada organisasi. Kecenderungan ini biasanya merupakan sejumlah faktor yang sukar diramalkan (unpredictable) atau memiliki derajat ketidakpastian (degree of uncertainly) tinggi. Hasil dari analisis lingkungan eksternal adalah sejumlah peluang yang harus dimanfaatkan oleh organisasi (opportunities) dan ancaman yang harus dicegah (threats). Analisis lingkungan internal dari penentu persepsi yang realistis atas segala kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dimiliki organisasi. Suatu organisasi harus mengambil manfaat dari kekuatannya dan berusaha untuk mengatasi kelemahannya. Analisis organisasi dapat membantu organisasi sekolah dalam pengalokasian sumber daya yang lebih efektif. Analisis lingkungan eksternal dan internal ini lazim disebut analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Analisis SWOT dapat dilakukan dengan membuat matrik SWOT. Matrik ini terdiri dari sel-sel daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Strategi SO (menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang). Strategi WO (memperbaiki kelemahan dan mengambil manfaat dari peluang. Strategi ST (menggunakan kekuatan dan menghindari ancaman). Strategi WT (menegatasi kelemahan dan menghindari ancaman). Secara lebih rinci tergambar dalam matrik berikut.

strg3

G. HIERARKI STRATEGI
Penerapan konsep manajemen strategi di lingkungan organisasi non-profit
seperti lembaga kependidikan dapat digolongkan ke dalam tiga tingkatan, yakni:
1. Strategi korporasi atau level organisasi Depdiknas
2. Strategi Direktorat terkait di lingkungan Depdiknas
3. Strategi fungsional di jajaran bidang, seksi-seksi, dan sekolah-sekolah.

Secara sederhana hierarki tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut.

strg4

Sesuai dengan diagram di atas, maka ciri-ciri keputusan strategi pada berbagai tingkatan tersebut dapat diikhtisarkan pada tabel berikut.

strg5

H. KESALAHAN DALAM PROSES MANAJEMEN STRATEGIK
Pada saat manajemen strategik sedang dipraktekkan, terdapat dua kategori penting kesalahan-kesalahan dapat terjadi. Kategori yang pertama mencakup kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan dari cara bagaimana strategi itu digunakan. Beberapa kesalahan pada kategori pertama ini dapat dihindari dan berasal dari kesalahan pemahaman proses strategi. Kategori kedua mencakup kesalahan-kesalahan yang diakibatkan dari ketidakpastian yang mesti terjadi berhubungan dengan proses strategi (Jatmiko, 2003).

Kesalahan yang berhubungan dengan penggunaan strategi terdiri dari beberapa hal yaitu: (1) ketidak mampuan berpikir secara strategis, (2) ketidaktepatan penggunaan pada tingkatan manajemen, (3) terlalu menekankan pada bentuk dan prosedur, (4) terpisah dari lingkungan, (5) cukup untuk mencapai waktu jangka pendek, dan (6) ketidaktepatan penggunaan sumber daya.
Kesalahan selanjutnya adalah ketidakmampuan memprediksi perubahan atau masalah lingkungan eksternal yang dapat berupa: (1) perkembangan inovasi produk jasa baru, (2) perubahan peraturan pemerintah, (3) perubahan iklim, (4) kekurangan dan kelangkaan bahan baku, (5) perubahan preferensi dan selera konsumen, serta (6) kehadiran pesaing baru atau perubahan kemampuan untuk bersaing.

I. PENUTUP
Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan eksternal dan internal (keadaan rill) lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang yang ada untuk dapat merumuskan dan mengimplementasikan berbagai rencana pendidikan secara berhasil. Rancangan yang bersifat menyeluruh ini dapat dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik.

Manajemen strategik adalah proses formulasi dan implementasi rencana dan kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal vital, pervasif dan berkesinambungan bagi suatu organisasi secara keseluruhan. Konsep manajemen strategik tersebut digunakan di dunia pendidikan untuk lebih mengefektifkan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknik analisis SWOT.

 

RUJUKAN
David, R.D. 1998. Concept of Strategic Management. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Dirgantoro, C. 2001. Manajemen Statejik (Konsep, Kasus, dan Implementasi). Jakarta: PT Grasindo.

Jatmiko, R.D. 2003. Manajemen Stratejik. Malang: UMM Press.

Pearce II, J.A. and Robinson, Jr., R.B. 1996. Strategic Management. New York: Richard D. Irwin Inc.

Robbins, S.P. 1989. Essential of Organizational Behavior. Terjemahan oleh Halida, D.S. 2002. Jakarta: Erlangga.

Sharplin, A. 1985. Strategic Management. New York: McGraw-Hill Book Company.

Sonhadji, A. 2003. Modul Analisis SWOT: Suatu Analisis Lingkungan dengan Menggunakan Manajemen Strategik. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Sonhadji, A. 2003. Modul Strategik: Formulasi dan Implementasi Strategi. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.