Dunia & Akhirat

Apakah pernah kita membandingkan lama kehidupan di dunia dengan kehidupan akhirat? Pernahkah kita menghitung sebenarnya berapa lama waktu beribadah pada Allah SWT jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat?

(1) Demi masa (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (AI-‘Ashr:1-4)

Mengapa Allah SWT berfirman bahwa manusia sungguh berada dalam kerugian? Pernahkah kita renungkan apa tujuan utama kita hidup di dunia dan berapa lama Allah SWT memberi kita waktu untuk mencapai tujuan tersebut? Jangan lupa Sobat, Allah SWT menciptakan manusia semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. “Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku” (Adz Dzariyat:56)

Waktu Dunia di Banding Waktu Akhirat

Misalkan kita buat rata-rata umur hidup manusia di dunia adalah 63 tahun. Kemudian kita perhatikan Firman Allah SWT “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (Qs. AI-Hajj [22]:47). “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya pada satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (dan dunia pun musnah)” (Qs. AI-Sajdah [32]:5)

Berdasarkan ayat di atas bahwa 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia, sekarang mari kita hitung. 1000 tahun (dunia) = 1 hari (akhirat); 1000 tahun (dunia) = 24 jam (akhirat); 1 tahun (dunia) = 24/1000 = 0,024 jam (akhirat). Jadi bila umur manusia rata-rata 63 tahun maka menurut waktu akhirat adalah 63 x 0,024 = 1,5 jam (akhirat).

Jadi Sahabat, Allah SWT memberi kita umur di dunia ini rata-rata hanya 1,5 jam waktu akhirat. Pantaslah banyak Firman Allah SWT yang selalu mengingatkan kita masalah waktu seperti dalam surat AI-‘Ashr di atas.

Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka. (QS. 35:15, 4:170). Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah. (QS. 74:7, 52:48, 39:10). Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dengan sunnah-Nya. (QS. 12:53, 33:38). “Satu Setengah Jam” sebuah perjuangan yang teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah. (QS. 9:72, 98:8, 4:114). Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti. (QS. 59:18, 42:20, 3:148, 28:77). Allah berfirman “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (QS. 23:114)

Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT?

Kita ambil contoh dalam sehari semalam kita sholat 5 waktu x 10 menit tiap-tiap sholat, maka dalam 24 jam kita hanya menggunakan waktu untuk sholat selama 50 menit.
Bila dikalikan setahun = 50 menit x 365 = 18.250 menit, bila umur kita 63 tahun maka = 18.250 x 63 = 1.149.750 menit / 60 = 19.162jam / 24 = 798 hari / 365 = 2 tahun.
Jadi dari 63 tahun hidup kita di dunia hanya 2 tahun digunakan untuk beribadah (sholat).

Bila menggunakan perhitungan akhirat = 2 x 0,024 = 0,048 jam waktu akhirat atau setara dengan 2,8 menit. Untuk mendapatkan surga yang kekal abadi di akhirat kita hanya menggunakan waktu selama 2,8 menit untuk beribadah kepada Allah SWT … pantaskah?

Untuk itu Sahabat, mari kita gunakan waktu yang sangat singkat ini untuk beribadah dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk bekal kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Memang benar bahwa umur manusia di tangan Allah SWT…

Namun kita misalkan saja, umur kita 63 tahun.

Jika kita tidur 8 jam setiap hari, maka dalam 63 tahun; kita telah tidur 20 tahun. Serta jika kita kerja 8 jam tiap hari, maka dalam 63 tahun; kita telah kerja 20 tahun.

Lalu masa kecil kita 15 tahun. Jika makan kita selama setengah jam dan sebanyak 2 kali setiap harinya, maka 3 tahun umur ini kita habiskan hanya untuk makan.

Jadi total jumlah waktu untuk tidur, kerja, masa kecil, dan makan adalah 58 tahun! Belum waktu untuk yang lainnya?!… Sehingga hanya sisa 5 tahun! dan dari sisa ini, berapa jam-kah yang kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya?

Sungguh sangat berharga perkataan Mu’adz bin Jabal: “Sungguh aku mengharapkan pahala dari tidurku, sebagaimana aku mengharap pahala dari shalat malamku”.

Bayangkan bila kita bisa menjadikan kegiatan tidur, kerja, dan makan kita sebagai amalan yang berpahala dengan meniatkannya untuk ibadah, betapa banyaknya waktu yang bisa kita ubah untuk beribadah kepada-Nya.

Semoga Allah SWT membimbing kita menuju Ridho-Nya …

aamiin …