Games dalam Pelatihan

gameGames atau permainan adalah suatu latihan dimana pesertanya terlibat dalam sebuah kontes dengan peserta lain atau sekelompok orang dengan dikenai sejumlah peraturan. Sebagian besar game pelatihan diarahkan pada kompetisi peserta pelatihan (trainee) secara individual terhadap dirinya sendiri dari pada berkompetisi dengan sesama trainee. Hal ini menghindari situasi adanya yang menang dan yang kalah. Melalui permainan (games) peserta pelatihan akan mendapatkan manfaat ganda. Selain bisa menyegarkan pikiran dan melepaskan penat, trainee juga dapat mengambil berbagai pelajaran berdasarkan tujuan game itu sendiri. Beberapa tujuan game adalah sebagaimana berikut.

1. Icebreaker
Hampir semua latihan dapat digunakan sebagai sarana untuk memulai pelatihan dengan memecahkan kebekuan suasana (icebreaker). Tujuan utama icebreaker adalah memberi peluang kepada peserta untuk memperkenalkan diri satu sama lain dan untuk menuntun mereka ke pokok permasalahan. Peserta seringkali mendapati bahwa pokok permasalahan akan lebih jelas dengan penggunaan icebreaker yang tepat. Latihan dalam pengelompokan ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta agar dapat saling mengenal satu sama lain dan mengurangi penghalang yang mungkin muncul. Keberhasilan atau kegagalan suatu program tergantung pada proses ini, karena jika peserta merasa nyaman satu sama lain, maka dengan senang hati mereka akan berpartisipasi dan mengeluarkan ide-ide baru.
Terdapat beragam bahan untuk memecah ‘es’ sehingga tidak selalu dengan permainan. Cerita pendek atau fiktif bisa disajikan sebagai bahan icebreakers, asalkan cerita tersebut berbeda sama sekali dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Permainan kurang sesuai diberikan sebagai pemecah kebekuan apabila dalam proses kegiatan telah banyak menggunakan metode permainan (games). Jadi permainan sebagai icebreakers dan permainan sebagai metode pelatihan adalah sama namun tidak sebangun, alias bisa berbeda. Isi icebreaker yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda, tergantung dari kemampuan fasilitator dalam meramunya.

2. Energizers
Latihan pembangkit semangat (energizers) merupakan aktivitas yang dirancang untuk membuat suat kegiatan belajar menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan, baik untuk peserta ataupun pelatih. Energizers bisa digunakan kapan saja jika fasilitator melihat peserta sudah mulai kehilangan minatnya atau mengantuk. Rancangannya hampir sama dengan icebreaker, tetapi diasumsikan bahwa anggota kelompok telah mengenal satu sama lain.
Latihan ini digunakan untuk membuat peserta bersemangat, melancarkan peredaran darah, menghilangkan rasa kantuk setelah istirahat makan siang, dan mengumpulkan orang-orang dengan mudah atau merangsang mereka agar mau berpikir tentang pendekatan baru terhadap suatu masalah. Fasilitator juga dapat menggunakan energizers untuk mengurangi ketegangan yang mungkin dialami oleh individu maupun kelompok.

3. Team Building
Latihan membangun kerjasama tim (team building) digunakan untuk memperbaiki hubungan masing-masing individu dan sub kelompok dalam suatu kelompok, atau untuk mengatasi konflik kelompok. Istilah ‘kelompok’ dalam membangun kerjasama tim umumnya mengacu pada kelompok kerja yang didirikan atau sebuah kelompok yang akan bekerja sama.
Saat menggunakan latihan ini, fasilitator dan peserta harus sadar bahwa hasil yang muncul dari latihan ini mungkin hanya berupa identifikasi konflik atau masalah antara bagian atau individu yang berbeda. Sebab konflik atau masalah yang menghalangi kinerja tim akan lebih mudah diselesaikan atau diatasi setelah diidentifikasi. Latihan ini seharusnya memberikan kesempatan kepada peserta untuk saling terbuka dalam mengenal satu sama lain. Sangatlah penting bagi fasilitator untuk membahas secara menyeluruh latihan ini agar dapat memastikan bahwa tidak ada rasa permusuhan, kemarahan atau frustasi di antara peserta.

4. Kepemimpinan, Komunikasi, Persepsi
Latihan ini dirancang untuk melatih kemampuan kepemimpinan dan agar peserta dapat mengetahui keterampilan komunikasi mana yang dapat diperbaiki. Fasilitator hendaknya mampu memanfaatkan feedback dalam semua latihan ini. Feedback tersebut harus spesifik dan diarahkan pada tingkah laku yang diamati, serta kemampuan peserta dalam pengendalian tingkah laku tersebut. Sedangkan latihan persepsi pada umumnya menyenangkan bagi setiap orang yang menggunakannya. Hal ini dirancang untuk melihat bagaimana peserta melihat situasi atau objek yang berbeda. Hasil akhir sebagian besar latihan adalah peserta menyadari kebutuhan mereka menggunakan pemikiran lateral, untuk melihat segala sesuatu dengan cara lain, dan untuk mencoba menghilangkan prasangka tertentu dalam melihat sesuatu.

5. Evaluasi
Sebagian besar latihan evaluasi ditujukan kepada para peserta untuk mengevaluasi dirinya sendiri atau program. Bagian penting dari proses evaluasi harus ditunjukkan kepada para peserta sejak awal latihan. Poin ini adalah setiap evaluasi harus bersifat konstruktif, bukan destruktif. Segala sesuatu dapat lebih mudah diperbaiki atau dibetulkan dengan menggunakan evaluasi konstruktif. Evaluasi destruktif tidak menghasilkan apa-apa kecuali meninggalkan perasaan tidak enak bagi sebagain anggota kelompok. Jika latihan ini digunakan dengan tujuan untuk mengevaluasi program, maka sebaiknya fasilitator memastikan bahwa para peserta diberitahukan hasilnya, baik lisan maupun tertulis.

Permainan (games) pelatihan sekarang ditemukan pada hampir seluruh bagian dari berbagai jenis pendidikan. Perlu diketahui bahwa para trainer dan fasilitator saat ini cenderung menamakan kegiatan ini ‘pengalaman terstruktur’ atau ‘latihan terstruktur’. Jadi kedua istilah tersebut adalah sama, bahkan game anak kecil yang paling sederhana pun sebenarnya dapat diterima dalam pendidikan orang dewasa asalkan diterapkan secara tepat. Istilah permainan ini meliputi game keterampilan psikomotorik, keterampilan intelektual dan adu keberuntungan. Beberapa tipe permainan yang umum meliputi tebak kata, ular tangga, sepakbola, dan aneka macam permainan kartu.

klik-disiniklik baca materi