Wali Songo

Buku-buku tentang Wali Songo banyak beredar di masyarakat. Sebagian tercampur dengan mitos, sebagian lagi merupakan fakta sejarah. Buku ini berupaya mendudukkan Wali Songo murni sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan. Dengan menggunakan metode arkeologi, aetiologis, etno-historis, kajian budaya Agus Sunyoto dengan piawai menunjukkan deretan peranan besar para ulama dalam penyebaran Islam di Indonesia.

Buku ini layak terbit di tengah usaha sistematis untuk menghapus peran Wali Songo dalam penyebaran Islam di Indonesia. Secara ideologis, buku Atlas Wali Songo akan mampu memberikan sebuah jawaban terhadap pemikiran Wahabi yang seringkali menisbikan peranan Wali Songo dalam islamisasi Indonesia. Informasi-informasi baru disuguhkan buku ini kepada pembaca betul-betul akurat dan disajikan secara sistemik komprehensif. Buku ini juga kaya akan informasi baru yang sifatnya lintas budaya dan kosmpolit.

Buku ini menyajikan informasi bukan saja tentang hal yang selama ini jamak dianggap Wali Songo. Buku ini secara informatif menunjukkan bahwa Islam sebelumnya telah hadir dalam dakwah para ulama sejak Syekh Subakir di masa Mataram Hindu, Syekh Samsyudin Wasil Kubro di masa kerajaan Kediri sampai juga Fatimah Binti Maimun. Namun, berbeda dengan karya profesor Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII yang menyebut peranan Islam masa Sriwijaya, buku Atlas Wali Songo tak menyebut sama sekali sumber-sumber sejarah dari berita dan kronik Cina yang menjelaskan bahwa terdapat duta-duta Sriwijaya yang beragama Islam dan bernama Arab dalam menjalankan misi diplomatik antara Sriwijaya dengan Cina.

Buku ini juga tak menjelaskan fakta pendahuluan tentang Islam yang telah hadir di Perlak jauh sebelum Samudra Pasai juga Islam di Barus yang menjadi pendulum pendahuluan penyebaran Islam di Nusantara. Buku ini nampaknya terpaku kepada ciri sejarah Islam yang Jawa-sentris dalam pengertian bahwa fokus sejarah Islam nampaknya dititikberatkan pada Jawa sejak era Mataram Hindu sampai Majapahit. Terdapat titik singgung luar Jawa yaitu peranan Pasai seperti Sultan Malikus Saleh yang juga disebutkan dalam buku ini secara singkat. Tapi porsi Cina muslim dan muslim Cham (Champa) dituliskan dengan pengaruh yang siginifikan baik kulturalnya maupun hubungan genetis dengan para wali dan penguasa Majapahit.

Sumber-sumber analisanya menarik dan komplit sejak serat, babad sampai inskripsi. Ilustrasi dan fakta-fakta dalam bentuk gambar maupun foto asli sedikit banyak mampu menunjukkan detil bahwa Wali Songo bukanlah legenda ataupun cerita rakyat. Tapi analisa sejarahnya tak menjadikan arah kajian sejarah untuk fokus pada suatu pembuktian fakta. Babad dan serat yang dalam monologi sejarah modern tak lebih dianggap sebagai artefak sejarah nampaknya masih menguat dalam fokus kajian buku ini. Analisa lintas sektoral dan perdebatan wacana dalam babad dan serat yang tercampur dengan mitos nampaknya dibiarkan sebagai penguatan sejarah.

Secara umum buku ini sudah mampu menunjukkan bahwa Wali Songo itu ada dan obyektif dalam historisitas Indonesia. Arah faktanya valid dan meyakinkan karena terbukti dari rekaman jejak kultural, pola pikir, karya tulis, karya arsitektur dan prinsip keagamaan khas sunni. Kajian tentang Syekh Siti Jenar juga menarik untuk ditelusuri lebih lanjut yaitu bahwa terdapat titik tekan bahwa Syekh Siti Jenar dan pendahulunya, Datuk Kahfi merupakan pelopor Syiah batiniah di Indonesia. Sebuah konklusi yang sepertinya perlu dikaji ulang, karena prinsip hulul, ittihad dalam konsep Sasahi dan Syekh Siti Jenar masih berada dalam titik debat panjang tasawuf falasafi.

Benarkah Sasahidan itu representasi dari wihdatul wujud ala tasawuf falasafi. Bukankah konsep konsep syahid (penyaksian) sebenarnya lebih merupakan tema kosmopolit dari wihdatul syuhud (kesatuan kesaksian) ala kaum sunni. Sepertinya dialogisme sejarah perlu dilacak ulang dalam penerbitan buku ini di masa depan agar tercipta satu komprehensifitas mafahim sejarah yang dapat diandalkan.

Buku ini akan semakin berdaya guna jika sumber-sumber sejarah baik dari barat maupun timur juga dikaji, karena Islam dalam berita dunia sudah ada sejak berita Persia, Arab, India dan Cina menyertainya sebagai alur dinamika sejarah. Kitab-kitab sejak ajaib Al Hind layak dipertimbangkan untuk menentukan peta dakwah pra Wali Songo, agar buku ini betul-betul bisa membuktikan bahwa wali Songo bukanlah figur yang terpisah dari pola sejarah sebelumnya.

Rekonstruksi sejarah Nusantara nampaknya akan semakin menarik jika membaca buku ini apalagi jika dikaitkan dengan buku-buku baru seputar sejarah Islam nusantara. Contohnya buku dekonstruksi sejarah yang terbit baru-baru ini, sebelum buku Atlas Wali Songo, yaitu Historical Fact and Fiction karangan Syed Naquib Al Attas yang juga menyuguhkan informasi baru bahwa Nusantara ternyata sudah dikenal pada masa Rasulullah hidup.

Alhasil usaha Agus Sunyoto untuk memfasilitasi Islam Nusantara agar hidup secara konstruktif wajib dihargai. Kita teringat dengan ucapan mendiang Kuntowijoyo dalam bukunya Metodologi Sejarah (1994) bahwa sejarah boleh saja ditulis oleh orang yang bukan sejarawan. Agus Sunyoto adalah pembelajar sejarah murni tanpa pernah menempuh gelar akademis pendidikan sejarah. Pendidikannya justru adalah seni rupa dan dan magister pendidikan luar sekolah. Namun, Agus Sunyoto adalah prototip ilmuwan yang tak takluk pada dikotomisasi bahwa sejarah harus ditulis oleh akademisi sejarah. Sejarawan adalah mereka yang benar-benar bisa mengkaji sejarah dan menuliskannya untuk dunia.

https://drive.google.com/file/d/1k9ZxUt2GwMdJDCiiQ1aEY4fQJfRcLTy3/view?usp=sharing

Tags:,