Langkah Pembinaan Guru

Marks & Stoop (1985) menyatakan lima fase dalam melaksanakan pembinaan keterampilan. Kelima fase tersebut meliputi: menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis; analisis kebutuhan; mengembangkan strategi dan media; serta menilai dan revisi.

FASE 1 : Menciptakan Hubungan yang Harmonis. Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara supervisor dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pengajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi pengajaran memang diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa kejelasan informasi, guru akan kebingungan, tidak tahu yang diharapkan supervisor, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pengajaran melalui supervisi pengajaran, adalah hanya untuk mengidentifikasi guru yang baik dan yang jelek dalam mengajar. Padahal seandainya ada kejelasan informasi, tentu tidak akan terjadi guru yang demikian.

Komunikasi antara supervisor dan guru dikatakan efektif apabila guru benar-benar menerima supervisi pengajaran sebagai upaya pembinaan kemampuannya. Dalam upaya ini, diperlukan kejelasan informasi mengenai hakikat dan tujuan supervisi pengajaran. Dalam upaya memperjelas program supervisi pengajaran, tentu diperlukan suatu cara dan prinsip-prinsip tertentu dalam berkomunikasi. Bagaimanakah berkomunikasi secara efektif. Ada sejumlah prinsip komunikasi yang harus diterapkan oleh supervisor, sebagaimana dikemukakan oleh Marks, Stoop dan Stoop, sebagai berikut.

  1. Berbicaralah sebijaksana dan sebaik mungkin
  2. Ikutilah pembicaraan orang lain secara saksama
  3. Ciptakan hubungan interpersonal antar personil
  4. Berpikirlah sebelum berbicara
  5. Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah
  6. Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain
  7. Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri
  8. Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu
  9. Persingkat pembicaraan
  10. Ciptakan ketidaksanggupan
  11. Bersemangatlah
  12. Raihlah sikap orang lain untuk membantu program
  13. Berkomunikasilah dengan “eye communication
  14. Selalu mencoba
  15. Jadilah pendengar yang baik
  16. Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi

FASE II : Analisis Kebutuhan. Sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah analisis kebutuhan (needs assessment). Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan yang secara nyata dimiliki. Prinsip supervisi pengajaran yang ketujuh, sebagaimana telah dikemukakan di muka, adalah obyektif, artinya dalam penyusunan program supervisi pengajaran harus didasarkan pada kebutuhan nyata pengembangan profesional guru. Dalam upaya memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Adapun langkah menganalisis kebutuhan ialah:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan – perbedaan apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok, disintesiskan, dan diklasifikasi.
  2. Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.
  3. Menetapkan tujuan umum jangka panjang.
  4. Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media.
  5. Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu, seperti mengundang konsultan dari luar sekolah, wawancara, dan kuesioner.
  6. Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan khusus pembinaan keterampilan pengajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilaku atau performansi.
  7. Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pengajaran guru yang bisa dibina melalui teknik dan media selain
  8. Mencatat dan memberi kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pengajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.

FASE III : Fase Pelaksanaan – Pengembangan Strategi dan Media. Setelah tujuan-tujuan pembinaan keterampilan pengajaran berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan yang diperoleh melalui analisis kebutuhan di atas, supervisor menganalisis setiap tujuan untuk menentukan bentuk-bentuk teknik dan media supervisi pengajaran yang akan digunakan. Menurut Gwynn (1961), teknik-teknik supervisi bila dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Tujuan pengembangan strategi dan media supervisi pengajaran ini adalah.

  1. untuk mendaftar pembinaan-pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual.
  2. untuk mendaftar pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan melalui teknik supervisi kelompok dan
  3. untuk mengidentifikasi dan memilih teknik dan media supervisi yang siap digunakan untuk membina keterampilan pengajaran guru yang diperlukan.

Setelah mengembangkan teknik dan media supervisi pengajaran, mulailah dilakukan pembinaan keterampilan pengajaran guru dengan menggunakan teknik dan media tertentu sebagaimana telah dikembangkan. Mengenai teknik-teknik supervisi, baik yang individual maupun kelompok, dan medianya akan diuraikan secara khusus pada akhir bab ini.

FASE IV : Penilaian, Penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi pengajaran, penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pengajaran, yaitu.

  1. untuk menentukan apakah pengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan
  2. untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya.

Prinsip dasar dalam merancang dan melaksanakan program penilaian adalah bahwa penilaian harus mengukur performansi atau perilaku yang dispesifikasi pada tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

  1. Katakan dengan jelas teknik-teknik penilaian.
  2. Tulislah masing-masing tujuan.
  3. Pilihlah atau kembangkan instrumen-instrumen pengukuran yang secara efektif bisa menilai hasil yang telah dispesifikasi.
  4. Uji lapangan untuk mengetahui validitasnya.
  5. Organisasikan, analisis, dan rangkumlah hasilnya.

FASE V : Revisi. Sebagai langkah terakhir dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan. Revisi ini dilakukan seperlunya, sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

  1. Me-review rangkuman hasil penilaian
  2. Apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru tidak dicapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan
  3. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapaim maka mulailah merancang kembali program pembinaan keterampilan pengajaran guru, dan
  4. Mengimplementasikan program pembinaan yang telah dirancang kembali.

Marks, SJ. R., E. Stoop, dan J.K Stoops. 1985. Handbook of Educational Supervision. Third Edition. Boston: Allyn and Bacon, Inc.