Pengertian Supervisi Pendidikan

Supervisi merupakan bagian dari fungsi manajemen pendidikan dalam langkah pelaksanaan. Robbins (1984) dan Sergiovanni (1987) menyebutnya dengan istilah leading, Robbins & Decenzo (2004) menyebutnya dengan istilah staffing, Newman (1967), menyebutnya dengan istilah supervising.

Sementara itu bila dilihat dari substansi manajemen pendidikan, kegiatan supervisi merupakan kegiatan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. Terdapat lima aspek kajian manajemen kepegawaian menurut Bafadal (2007) yaitu: perencanaan kebutuhan, rekrutmen dan seleksi, pembinaan dan pengembangan, mutasi dan promosi, serta kesejahteraan.

Fungsi manajemen secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, koordinasi, dan pengendalian. Robbins (1984), menyatakan lima fungsi manajemen, yaitu: decision making, planning, organizing, leading, controlling. Lebih lanjut Robbins & Decenzo (2004) mengulas fungsi manajemen dalam empat langkah, yaitu planning, organizing, staffing, controlling.

Newman (1967), mengemukakan bahwa pekerjaan seorang manajer atau administrator dapat dibagi menjadi lima proses, yaitu: planning, organizing, assembling resources, supervising, controlling. Supervisi sering dipakai untuk menyebut istilah lain dari pengawasan yang merupakan terjemahan juga dari controlling. Namun dalam konteks supervisi pendidikan di sekolah yang lebih penting ditekankan pada tindak lanjut hasil pengawasan sebagai bahan membina atau mengembangkan kemampuan guru.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa supervisi merupakan istilah yang dapat dikatakan baru dikenal di Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu perlu diuraikan secara lengkap tentang pengertian supervisi yang dilihat dari beberapa sudut pandang yaitu: sudut pandang etimologis, sudut pandang morfologis, dan sudut pandang semantik.

Secara etimologis, kata supervisi berasal dari bahasa Inggris, yaitu supervision, artinya pengawasan. Penggunaan istilah supervisi sering diartikan sama dengan directing atau pengarahan, serta sejak dulu kebanyakan orang menggunakan istilah pengawasan, penilikan atau pemeriksaan untuk istilah supervisi (Arikunto, 1988). Pada zaman Belanda orang lebih mengenal istilah inspeksi (inspectie) yang berarti memeriksa dalam arti melihat untuk mencari kesalahan. Orang yang menginsipeksi disebut inspektur yang mengadakan:

  • Controlling: memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya.
  • Correcting: memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan atau digariskan.
  • Judging: mengadili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak.
  • Directing: pengarahan, menentukan ketetapan atau garis.
  • Demonstration: memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik.

Istilah “inspeksi” dalam praktiknya menggambarkan kegiatan seorang inspektur yang mengadakan pengawasan dengan tujuan untuk menentukan apakah segala instruksi yang ditetapkan sudah dilaksanakan. Kemudian ia berusaha menemukan segala kesalahan atau kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh orang-orang yang diinspeksi. Apabila mereka berbuat salah atau tidak melakukan apa yang diinstruksikan, maka akan diberikan hukuman berupa: pemberhentian sementara, pemecatan dan sejenisnya.

Lain halnya dengan istilah “supervisi” yang mengandung pengertian lebih demokratis. Dalam pelaksanaannya, tidak hanya menemukan kesalahan-kesalahan bawahan saja, tetapi lebih diarahkan pada kegiatan perbaikan dan pembinaan segenap aspek pendidikan. Di sekolah supervisor berusaha meneliti, menilai, memperbaiki, dan mengembangkan situasi belajar-mengajar ke arah yang lebih baik. Guru-guru tidak diperlakukan sebagai pelaksana pasif, melainkan dianggap sebagai ternan sekerja yang aktif dan punya potensi serta daya kreativitas yangturut menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya. Dilihat dari ruang Iingkup kegiatannya, supervisi di samping memperhatikan aspek administratif juga lebih menekankan pada bidang pengajaran atau edukatif, berbeda jauh dengan istilah “inspeksi”

Secara morfologis, kata supervisi terdiri atas dua kata, super dan visi (super dan vision). Menurut Ametembun (1981) super berarti atas atau lebih, sedangkan visi berarti lihat, tilik, dan awasi. Jadi supervisi berarti melihat, menilik dan mengawasi dari atas; atau sekaligus menunjukan bahwa orang yang melaksanakan supervisi tersebut berada lebih tinggi dari orang yang dilihat, ditilik, dan diawasi. Perilaku supervisi secara tradisional sering diplesetkan juga sebagai “snooper vision” yang mempunyai arti tugas memata-matai untuk menemukan kesalahan-kesalahan.

Secara semantik, para ahli memberikan berbagai corak definisi, tapi pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Wiles (1987) “supervision is assistance in the development of a better teaching-learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi mengajar yang lebih baik. Senada dengan hal tersebut Neagley dalam Pidarta (1988) menyebutkan bahwa supervisi adalah layanan kepada guru-guru di sekolah yang bertujuan untuk menghasilkan perbaikan instruksional, belajar, dan kurikulum.

Menurut Mc. Nerney dalam Sahertian (1994) mengartikan supervisi sebagai prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran. Sedangkan Poerwanto (1987) menyatakan, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Sergiovanni dan Starrat (1979) meyatakan pengertian supervisi dalam batasan yang lebih luas yaitu supervisi pendidikan mencakup semua fungsi dan masalah yang ada relevansinya dengan peningkatan prestasi kerja di lembaga kependidikan khususnya di sekolah. Lebih jauh lagi bahwa pandangan, keterampilan, dan dedikasi mereka yang bertanggungjawab dalam menilai dan membantu para guru agar dapat bekerja secara efektif dengan murid-murid di bawah tanggung jawabnya menentukan kualitas program sekolah.

Supervisi pendidikan dalam kamus Dictionary of Education diberi batasan sebagai usaha dari para pengelola atau pimpinan sekolah dalam upaya memimpin guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, seleksi, pertumbuhan jabatan dan pengembangan guru; dan memperbaiki tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode dan evaluasi pengajaran.

Beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa istilah supervisi memiliki banyak makna, akan tetapi masih mengandung makna yang sama, misalnya bantuan, pelayanan, memberikan arah, penilaian, pembinaan, meningkatkan, mengembangkan dan perbaikan. Serta perlu digarisbawahi bahwa istilah supervisi dipertentangkan dengan makna mengawasi, menindak, memeriksa, menghukum, mengadili, inspeksi, mengoreksi, dan menyalahkan. Dengan demikian istilah supervisi “tidak sama” dengan istilah controlling, inspection (inspeksi), dan directing (mengarahkan).

Beberapa pokok pikiran yang dapat digarisbawahi yakni supervisi pendidikan merupakan segenap bantuan yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pengajaran. Melalui kegiatan supervisi, segala faktor yang berpengaruh terhadap proses pengajaran dianalisis, dinilai dan ditentukanjalan pemecahannya sehingga proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah, sangat membantu bagi kelancaran program pembinaan di lingkungan sekolah. Terutama dalam membekali kepemimpinan para guru dan karyawan sekolah, memberikan pengarahan, semangat dan dorongan pada mereka untuk meningkatkan proses belajar mengajar.

Perlu ditegaskan bahwa yang menjadi objek utama supervisi di sekolah adalah guru, walaupun semua orang di sekolah dikenai supervisi itu hanyalah objek perantara. Isyarat lain adalah penting adanya administrasi yang baik dalam kegiatan supervisi, karena itu diperlukan administrasi supervisi, terutama yang menyangkut fungsi utamanya, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penyelenggaraan dan pengawasan supervisi itu sendiri.

Meskipun beberapa definisi menekankan supervisi pendidikan pada aspek pengajaran saja, namun kenyataannya keberhasilan program pengajaran sendiri banyak tergantung pada berbagai variabel. Pengajaran berlangsung dalam suatu situasi yang melibatkan interaksi antara guru dan murid dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian tidak benar kalau supervisi hanya diarahkan pada aspek pengajaran saja. Supervisi selain memusatkan perhatian pada segi pengajaran, juga harus memperhitungkan faktor lainnya terutama siswa sebagai subyek didik di sekolah. Bahkan apabila memandang situasi belajar mengajar secara multi dimensional, akan terbukti bahwa di dalamnya terdapat banyak variabel yang turut menentukan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.

Menurut Burhanuddin, dkk (2007) pada istilah “situasi belajar mengajar” yang dikemukakan oleh Wiles, maka di dalamnya terdapat tiga aspek utama kegiatan supervisi pendidikan yaitu aspek: personel, operasional, dan material. Ketiga aspek tersebut sebenarnya terdapat dalam situasi belajar mengajar, dan pengajaran sebagai suatu proses terdapat dalam aspek operasional. Aspek operasional mencakup segenap aktivitas individu dan kelompok yang terlibat dalam satu situasi dengan mendayagunakan segala sumber yang ada baik human resource maupun non-human resources guna mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan aspek material di sini mencakup segala benda atau barang baik yang bersifat hardware maupun software, yang didayagunakan untuk memperlancar proses belajar mengajar. Adapun aspek personel meliputi segala subyek, orang-orang yang terlibat dalam suatu situasi supervisi pendidikan.

Dengan memperhatikan berbagai aspek dalam situasi belajar mengajar tersebut, maka pengertian supervisi pendidikan sebenarnya adalah bantuan dalam mengembangkan situasi belajar mengajar ke arah yang lebih baik, dengan jalan memberikan bimbingan dan pengarahan pada para guru dan petugas lainnya untuk meningkatkan kualitas kerja mereka di bidang pengajaran dengan segala aspeknya. Atau dengan kata lain, supervisi atau pembinaan guru pada dasarnya adalah usaha untuk memberikan bantuan kepada guru, baik itu berupa rangsangan, pengarahan atau bimbingan profesional untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Ada tiga hal yang tersirat dalam pengertian ini, yaitu supervisor yang memberikan bantuan, proses pemberian bantuan yang bisa berupa pengarahan atau bimbingan, dan guru yang diberi bantuan, dengan tujuan memperbaiki proses dan situasi mengajar. Tujuan akhir kegiatan supervisi adalah meningkatkan hasil belajar siswa.