Thomas Alva Edison Pernah Gagal

Thomas Alva Edison adalah salah satu penemu termasyhur yang penemuannya telah mengubah dunia menjadi terang benderang melalui lampu pijar. Artinya, kita dapat menikmati cahaya terang lampu pijar di malam hari tidak lain adalah berkat jasa besarnya. Jika tidak ada Thomas Alva Edison, mungkin dunia masih gelap gulita di malam hari, seperti abad pertengahan. Sekarang, di dunia modern ini, dunia sudah terang benderang berkat adanya lampu pijar atau bohlam lampu.

Kehidupan Thomas Edison di masa kecil sangat jauh berbeda dengan masa tuanya. Di masa tua, ia meraih banyak sekali kesuksesan dan penghargaan. Hidupnya sudah mewah dan bergelimang harta. Sedangkan, di masa kecil, kehidupannya penuh dengan kesulitan. Bahkan, pada umur 12 tahun, ia harus bekerja sebagai penjual koran, buah-buahan, dan gula-gula di kereta api. Meski hidup penuh kesulitan, justru pengalamannya di masa kecil itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang pengusaha sukses, sekaligus penemu besar. Ia banyak belajar dari pengalaman masa kecilnya. Banyak pula temuan-temuannya yang justru berangkat dari pengalaman masa kecil.

Salah satu contoh penemuannya yang berangkat dari pengalaman semasa muda adalah telegraf. Tokoh kelahiran Ohio 11 Februari 1847 ini pernah bekerja sebagai operator telegraf. Dalam pekerjaannya itu, ia pindah dari satu kota ke kota lain. Kemudian, ia naik jabatan sebagai kepala mesin telegraf di New York. Ia pun mulai mempelajari bagaimana mesin-mesin itu dapat mengirimkan berita bisnis ke seluruh perusahaan terkemuka di kota tersebut. Nah, dari pekerjaan dan pengalamannya itulah, pada tahun 1870 ia berhasil menciptakan sendiri mesin telegraf yang lebih baik dari sebelumnya. Kelebihan dari mesin telegraf ciptaannya adalah dapat mencetak pesan di atas pita kertas yang panjang. Atas penemuannya ini, maka ia pun dinobatkan sebagai penemu mesin telegraf modern.

Tidak cukup sampai di situ. Kesuksesan Thomas Edison pun berusaha untuk membangun perusahaan sendiri. Ia mengumpulkan modal dari hasil jerih payahnya. Ia kemudian pindah ke Menlo Park, New Jersey, pada tahun 1874. Di sanalah, Thomas Edison membangun sebuah bengkel ilmiah yang besar dan pertama di dunia. Dari bengkel inilah, ia melahirkan penemuan-penemuan yang dahsyat dan menggemparkan dunia.

Selama hidupnya, tercatat Thomas Edison telah memegang rekor terbanyak sebagai pemegang hak paten atas karya sendiri, yaitu 1.093 hak paten. Tentunya, jumlah yang sangat fantastis itu menjadikannya sebagai seorang penemu paling produktif sepanjang masa. Dari 1.093 hasil penemuannya itu, ada tiga penemuan yang paling besar dan masyhur, yaitu bola lampu listrik, gramophone, dan kamera film. Nah, ketiga penemuannya inilah yang kemudian membangkitkan industri-industri besar di bidang listrik, rekaman, dan film. Pada akhirnya, industri-industri itu memengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, Edison juga berjasa besar dalam pertahanan pemerintahan Amerika Serikat. Ia banyak membantu di bidang pertahanan negeri Paman Sam tersebut. Beberapa penelitiannya dalam bidang pertahanan, antara lain mendeteksi pesawat terbang, menghancurkan periskop dengan senjata mesin, mendeteksi kapal selam, menghentikan torpedo dengan jaring, menaikkan kekuatan torpedo, kapal kamufiase, dan masih banyak lagi.

Penemu asal Amerika Serikat itu meninggal pada usia 84 tahun di New Jersey 18 Oktober 1931. Hari kematiannya bertepatan dengan hari ulang tahun penemuannya yang paling terkenal, yaitu bola lampu modern.

Edison Juga Pernah Gagal

Mungkin kita sering mendengar kegagalan yang dialami oleh Thomas Alva Edison dalam melakukan percobaannya saat menciptakan lampu pijar. Ya, Edison gagal sebanyak 10.083 kali sebelum akhirnya sukses menemukan bola lampu. Nah, inilah salah satu kegagalan yang dialami oleh Edison dalam meraih kesuksesan. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah dan putus asa. Buktinya, ia terus melakukan percobaan meski percobaannya itu gagal 10.083 kali. Ia tetap meneoba dan mencoba. Akhirnya, ia pun sukses menemukan lampu pijar.

Kegagalan Edison sebenarnya sudah dimulai sejak ia masih kecil. Kegagalan itu berupa prestasi buruk di sekolah. Menurut sejarahnya, Edison selalu mendapat nilai buruk di sekolahnya. Karena selalu mendapat nilai buruk, akhirnya pihak sekolah memperingatkan orang tua Edison, bahwa anaknya tidak bisa belajar di sekolah. Edison termasuk murid yang sering tertinggal dari teman sebayanya. Perkataan pihak sekolah itu mengindikasikan bahwa Edison adalah anak yang bodoh. Begitu kira-kira pesan yang dapat ditangkap dari penilaian pihak sekolah Edison tersebut.

Apa yang terjadi kemudian? Edison pun berhenti sekolah. Ibunya menarik Edison dari sekolah dan mengajarinya sendiri di rumah. Kebetulan, sang ibu adalah seorang guru. Di bawah asuhan dan ajaran sang ibu, Edison berhasil menjadi orang tersukses di dunia di masa tuanya. Ibunya memintanya untuk belajar membaea buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Bahkan, Edison memiliki laboratorium kimia kecil di ruang bawah rumahnya ketika umur 12 tahun.

Bayangkan, betapa hebatnya seorang anak yang dicap bodoh oleh guru-gurunya, ternyata sukses menjadi orang yang eerdas dan jenius. Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kecerdasan Edison itu adalah “genius adalah 99% kerja keras”. Artinya, kegeniusan itu hanya dapat diperoleh dengan kerja keras. Dengan kerja keras, orang bodoh sekalipun akan menjadi pintar, dan orang yang gagal akan menjadi sukses.

Dalam bekerja, Edison bahkan tinggal di laboratorium miliknya. Ia hanya tidur 4 jam sehari dan makan dan makanan yang dibawa oleh asistennya ke laboratorium. Ini menjadi bukti bahwa Edison adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Jadi, ada dua pelajaran penting dari kisah Edison ini, yaitu pelajaran bagi diri kita sendiri dan pelajaran bagi orang tua dan sekolah. Pertama, untuk menjadi orang sukses, maka kita harus bekerja keras dan tidak kenal menyerah. Sekali gagal, bukan berarti mati. Kegagalan harus menjadi motivasi untuk meraih kesuksesan.

Kedua, bagi seorang guru, sebaiknya tidak mudah men-judge seorang anak bodoh. Seorang murid di kelas menjadi bodoh atau tertinggal dari teman-temannya mungkin adalah kesalahan sang guru yang tidak tahu bagaimana cara mendidik muridnya berdasarkan potensi yang dimiliki. Maka, pelajaran bagi seorang guru dari kisah Edison ini adalah jangan menganggap murid yang tertinggal dari teman-temannya adalah anak bodoh. Mungkin saja Anda (guru) membutuhkan cara khusus dalam mengajarinya sehingga ia juga berprestasi seperti teman-temannya. Sedangkan bagi orang tua, pelajaran dari kisah Edison ini adalah bahwa pengajar dan pendidik yang paling utama itu adalah orang tua. Bimbingan orang tua dapat menentukan kesuksesan anak di masa depannya. Maka, jadilah orang tua yang benar-benar peduli kepada pendidikan anak dan memberikan kasih sayang yang cukup seperti yang dilakukan ibu Edison kepada anaknya.

Sebagai inspirasi dan motivasi, kita bisa renungkan kata-kata bijak warisan sang penemu lampu pijar ini.

  • Jenius adalah 1 % dari inspirasi dan 99% keringat.
  • Aku tidak gagal. Aku hanya menemukan 10.083 cara yang tidak bekerja.
  • Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju.
  • Pecundang adalah orang yang menyerah dan tidak sadar kalau mereka sudah hampir meraih kesuksesan sebelum menyerah.
  • Kebanyakan kegagalan hidup berasal dari orang yang tidak menyadari betapa sudah dekatnya mereka pada kesuksesan saat memutuskan untuk menyerah.
  • Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.