Manajemen Budaya & Iklim Sekolah yang Kondusif

Kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif inovatif karena fungsi kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan menuju sekolah dan pendidikan secara luas. Sebagai pengelola institusi satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut selalu meningkatkan keefektifan kinerjanya.

Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif, kepala sekolah dan seluruh warga sekolah serta stakeholders harus bekerjasama dalam segala hal. Kepala Sekolah harus senantiasa membuka diri dari pengaruh guru, staf dan siswa dalam berbagai persoalan penting dalam lingkungan sekolah dan luar sekolah. Dengan kata lain kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan fugsinya sebaiknya senantiasa berorientasi pada kepuasan personal, karena prinsip ini merupakan modal dasar kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif. Hal lain yang sama pentingnya adalah perlunya kepala sekolah memiliki pengetahuan kepemimpinan baik perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dalam suatu program sekolah dan pendidikan secara luas. Selain itu kepala sekolah harus dapat menunjukkan sikap kepedulian, semangat bekerja, disiplin tinggi, keteladanan dan hubungan manusiawi dalam rangka perwujudan budaya dan iklim sekolah yang kondusif.

Dengan perilaku kepala sekolah yang demikian sangat diyakini akan berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif. Karena itu kepala sekolah perlu memiliki kompetensi yang diperlukan dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah yang produktif bagi pengembangan sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, betapa strategisnya pengembangan sekolah yang baik atau sekolah unggul itu melalui pengembangan budaya mutu di sekolah. Oleh karena itu, dipandang perlu adanya kerangka acuan bagaimana kepala sekolah dapat mengembangkan budaya mutu dan iklim yang kondusif inovatif di sekolah dalam rangka mengembangkan penyelenggaraan sekolah yang baik. Salah satu upaya dalam meningkatkan kompetensi kepala sekolah adalah melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai. Untuk itu perlu disusun pedoman atau panduan pengembangan budaya mutu sekolah, yang dapat digunakan untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan kepala sekolah.

KONSEP & MANFAAT

  1. Konsep Budaya & Iklim Sekolah

Secara terminologi budaya dan iklim organisasi berbeda. Budaya sekolah berkaitan dengan asumsi-asumsi, nilainilai-nilai, norma, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan positif di sekolah. Iklim organisasi mengacu kepada suasana lingkungan sekolah baik dari segi fisik maupun sosial yang kondusif. Intinya, budaya sekolah berkaitan dengan pembiasaan perilaku positif dari warga sekolah, sedangkan iklim sekolah berkaitan dengan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk belajar. Dalam kajian ini kedua aspek tersebut tidak dipisahkan secara tegas mengingat kedua aspek tersebut saling berkaitan.

Iklim dan budaya sekolah termasuk karakteristik yang secara konsisten ditemukan berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Penelitian Cheng (1993) menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya organisasi (cita-cita, keyakinan, dan misi) yang kokoh cenderung dipandang lebih efektif dalam hal produktivitas, kemampuan adaptasi dan keluwesan.

Dalam sekolah efektif, perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan budaya dan iklim yang kondusif untuk belajar (Reynolds, 1990). Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.

Iklim adalah konsep yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan, kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi (Davis dan Newstrom, 1985). Pandangan ini mengindikasikan kualitas iklim memungkinkan meningkatkan prestasi kerja. Iklim tidak dapat dilihat dan disentuh, tetapi ia ada seperti udara dalam ruangan. Ia mengitari dan mempengaruhi segala hal yang terjadi dalam suatu organisasi. Iklim dapat mepengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan kerja.

Banyak ahli yang mengemukakan teorinya tentang iklim organisasi, di antaranya adalah Halpin & Croft, Stern & Steinhoff, Miles, Likert, dan Finlayson (Kusmintardjo, 1998). Hoy dan Miskel (1987) dari Rutgers University, melakukan penelitian dan hasilnya adalah Revised Organizational Climate Description Questionare for Elementary Schools (OCDQ-RE) dan Revised Organizational Climate Description Questionare for Secondary Schools (OCDQ-RS).

OCDQ-RE terdiri dari empat puluh dua pertanyaan dengan enam susbtes yang menggambarkan tiga dimensi perilaku guru, yakni kolegial (collegial) keakraban (intimate), keterlepasan (disengagement), serta tiga dimensi perilaku kepala sekolah, yakni suportif (supportive), direktif (directive), dan membatasi (restrictive). Sedangkan OCDQ-RS terdiri dari tiga puluh empat item pertanyaan dengan lima dimensi iklim sekolah. Dua dimensi pertama menggambarkan perilaku kepala sekolah yaitu: suportif (supportive) dan direktif (directive), sedangkan tiga dimensi berikutnya menggambarkan perilaku guru yaitu: keterlibatan (engaged), frustasi (frustrated), dan keakraban (intimate).

Beberapa profil prototipe dari jenis-jenis iklim organisasi sekolah yang dihasilkan melalui OCDQ-RE dapat dilihat pada tabel berikut.

Climate

Dimension

Climate Type

Open

Engaged

Disengaged

Closed

Supportive

Directive

Restrictive

Collegial

Intimate

Disengaged

High

Low

Low

High

High

Low

Low

High

High

High

High

Low

High

Low

Low

Low

Low

High

Low

High

High

Low

Low

High

Tabel di atas menjelaskan bahwa iklim terbuka (open climate) ditandai dengan perilaku suportif yang tinggi dari pimpinan (kepala sekolah), dan perilaku kolegial dan keakraban yang tinggi dari para bawahan (guru) di satu pihak, serta rendahnya perilaku direktif dan restriktif dari pimpinan, dan rendahnya perilaku keterpisahan (disengegement) dari bawahan di pihak yang lain. Sebaliknya, iklim tertutup (closed climate) ditandai dengan perilaku direktif dan restriktif yang tinggi dari pimpinan (kepala sekolah), dan perilaku keterpisahan yang tinggi para bawahan (guru) di satu pihak, serta rendahanya perilakau suportif dari pimpinan, dan rendahnya perilaku kolegial, dan keakraban dari bawahan di pihak yang lain.

  1. Tujuan & Manfaat Pengembangan Budaya & Iklim Sekolah

Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada.

Budaya dan iklim sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa tenang, aman dan bersikap positif terhadap sekolahnya, agar guru merasakan diri dihargai, dan agar orangtua dan masyarakat merasa dirinya diterima dan dilibatkan (Townsend, 1994). Hal yang sama dikemukakan oleh Wijaya (2005), yaitu budaya sekolah yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru, dan dengan pihak lainnya.

Manfaat ini bukan hanya dirasakan dalam lingkungan sekolah tetapi dimana saja karena dibentuk oleh norma pribadi dan bukan oleh aturan yang kaku dengan berbagai hukuman jika terjadi pelanggaran yang dilakukan.

Pemahaman bahwa budaya dan iklim sekolah mempunyai sifat yang sama, tidak berarti bahwa tidak akan terdapat sub-budaya di dalam budaya sekolah. Oleh karena itu budaya yang terbentuk dalam lingkungan sekolah yang merupakan karakteristik sekolah adalah budaya dominan atau budaya yang kuat, dianut, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak personil sekolah yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui gagasan berdasarkan kepentingannya, dan merasa sangat terikat pada nilai yang ada maka makin kuat budaya tersebut. Karena para personil sekolah memiliki pengalaman yang diterima bersama, sehingga dapat menciptakan pengertian yang sama. Hal ini bukan berarti bahwa anggota yang stabil memiliki budaya yang kuat, karena nilai inti dari budaya sekolah harus dipertahankan dan dijunjung tinggi.

Untuk menciptakan budaya sekolah yang kuat dan positif perlu dibarengi dengan rasa saling percaya dan saling memiliki yang tinggi terhadap sekolah, memerlukan perasaan bersama dan intensitas nilai yang memungkinkan adanya kontrol perilaku individu dan kelompok serta memiliki satu tujuan dalam menciptakan perasaan sebagai satu keluarga. Dengan kondisi seperti ini dan dibarengi dengan kontribusi yang besar terhadap harapan dan cita-cita individu dan kelompok sebagai wujud dan harapan sekolah yang tertuang dalam visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah ditunjang oleh iklim sekolah yang mendukung kontribusi tsb.

KOMPONEN-KOMPONEN BUDAYA & IKLIM SEKOLAH

Beberapa komponen yang perlu ditata dalam pengembangan iklim dan budaya sekolah (menurut Dharma, 2007) dikemukakan sebagai berikut.

  1. Perawatan Fasilitas Fisik Sekolah

Salah satu ciri sekolah efektif adalah terciptanya budaya dan iklim sekolah yang menyenangkan sehingga siswa merasa aman, nyaman, dan tertib di dalam belajarnya. Hal ini ditandai dengan fasilitas fisik sekolah terawat dengan baik bersih, rapi, indah dan nyaman. Hal dapat dilihat dari: (a) Pekarangan dan lingkungan sekolah yang tertata mem­beri kesan asri, teduh, dan nyaman. (b) Budaya bersih juga ditumbuhkan di kalangan warga sekolah dengan membiasakan perilaku membuang sampah pada tempatnya. (c) Dalam lingkungan sekolah terdapat beberapa kawasan khusus seperti: kawasan wajib senyum, bebas rokok, dan wajib bahasa Inggris.

  1. Jaminan Keamanan di Lingkungan Sekolah

Sekolah memper­ha­tikan keamanan sekitar. Seko­­lah ter­be­bas dari gang­gu­an keamanan ba­ik dari dalam maupun dari luar sekolah. Untuk menjamin keamanan sekolah maka harus didukung adanya tata tertib sekolah yang menjadi acuan dari semua warga sekolah. Tata tertib sekolah dapat terlaksana dengan baik, apabila didukung oleh seluruh penyelenggara sekolah. Karena itu Kepala sekolah, guru, dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin.

  1. Penggunaan Poster Afimasi

Poster-poster afirmasi, ya­itu pos­ter yang berisi pesan-pesan positif digu­nakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh siswa. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan/ menanamkan pesan-pesan spiritual kepada siswa dan warga sekolah. Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran, hadist, pesan pujang­ga, atau puisi-puisi spiritual. Yang perlu diperhatikan, adalah peng­adaan dan pe­nem­patan poster afirmasi ini jangan terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka.

  1. Ganjaran Positif Bagi Karya Terbaik Siswa

Karya-karya cemerlang siswa dipajang di kelas atau ruang kepala sekolah dan diberi ganjaran positif. Ganjaran hendaknya diberikan sesegara mungkin dan diarahkan untuk memberi rasa kebanggaaan dan peningkatan motivasi siswa yang diberi ganjaran serta menstimulasi siswa lainnya untuk menghasilkan pres­tasi sama.

  1. Pengembangan Rasa Memiliki Sekolah

Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru, staf administrasi dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya. Setiap warga sekolah merasa bertanggung jawab untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. Ini bisa dicapai, antara lain dengan memberi tang­gung jawab pengelolaan dan perawatan wilayah tertentu kepada kelompok kelas atau ruang tertentu.

  1. Penataan Ruang Kelas

Kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa belajar. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penente­raman emosi, baik pada saat siswa belajar di kelas maupun pada saat mereka melakukan berbagai aktivitas lainnya di luar kelas.

  1. Jaminan Kemaslahatan Siswa

Kemaslahatan siswa merupakan kriteria penting yang digunakan dalam pembuatan keputusan tentang mere­ka. Setiap keputusan yang dibuat di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan, kepentingan, dan kondisi khusus siswa. Keputusan yang dibuat hendaknya juga dapat memenuhi prinsip keadilan dan kesetaraan di kalangan siswa, termasuk keadilan dan kesetaraan gender, ras, etnis, kelas sosial, agama, kondisi fisik, ataupun varian-varian latar siswa lainnya.

  1. Pengaturan Jadwal Acara & Aktivitas Sekolah

Semua aktivitas di sekolah harus dijadwalkan secara baik, agar kegiatan proses belajar-mengajar tidak terganggu. Sehubungan dengan itu, maka seluruh kegiatan nonteaching yang bersifat regular dan yang bersifat incidental perlu diidentifikasi. Aktivitas bersifat regular sebaiknya dibuatkan jadwal yang disesuaikan dengan kalender pembelajaran, agar jadwal proses belajar-mengajar dan implemantasi kurikulum tidak terganggu. Aktivitas yang bersifat insidental dan tidak terjadwal, sedapat mungkin dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak mengganggu aktivitas proses belajar-mengajar. Kegiat­an kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, hendak­nya diatur sehingga tidak saling tumpang tindih.

  1. Akseptabilitas Guru terhadap Metode Pembelajaran Terbaru

Guru bersedia mengubah metode-metode mengajar, bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya. Berbagai metode dan strategi pembelajaran yang efektif telah ditawarkan dan disosialisasikan melalui berbagai media, seperti buku, internet, dan pelatihan. Sehinnga guru perlu mengadopsi dan mencoba menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran tersebut untuk lebih mengefektifkan proses pembelajarannya.

  1. Penggunaan Sistem Moving-Class

Moving-class, adalah sistem pengelolaan aktivitas pembelajaran di mana kelas-kelas tertentu ditata khusus menjadi sentra pembelajaran bidang studi/mata pelajaran tertentu. Penggunaan sistem moving-class (kelas berpindah) merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk mengefek­tifkan penataan ruangan kelas sebagai sentra belajar.

Dalam sistem moving-class ini, ruang-ruang kelas tertentu dapat ditata khusus untuk mendukung pembelajaran mata pelajaran tertentu. Ada kelas sains, kelas bahasa, kelas matematika, kelas kesenian, dan sebagainya. Kelas-kelas ini ditata menjadi semacam home-room atau sentra belajar khusus. Meja, kursi, peralatan, media, pajangan, dan berbagai aspek yang ada di kelas diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan karaketeristik pembel­ajar­an mata pelajaran tertentu.

  1. Penciptaan Relasi Kekeluargaan & Kebersamaan

Sekolah menciptakan suasana kekeluargaan dan keber­sa­maan antara kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan orangtua, sehingga satu sama lain saling berbagi dan memberi bantuan. Sekolah membangun budaya setara di kalangan warga sekolah. Iklim interaksi antar warga sekolah dibangun atas dasar prinsip kebersamaan. Artinya, setiap individu memandang dan memperlakukan individu lainnya sebagai subjek, pribadi yang patut dihargai, dihormati, dan memiliki kebutuhan dan kewenangan sendiri untuk menentukan keputusan dan pilihannya sendiri. Iklim dan budaya sekolah yang bercirikan model hubungan seperti ini akan dapat membangun rasa kebersamaan dan dapat memicu berkembangnya rasa percaya diri dan kreativitas semua warga sekolah, termasuk semua siswa.

  1. Harapan Tinggi Untuk Berprestasi

Karakteristik ini pada umumnya ditemukan dalam sekolah efektif. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan harapan yang tinggi untuk berprestasi di sekolah.

  • Perumusan Tujuan Sekolah yang Mencerminkan Harapan yang Tinggi untuk Berprestasi.

Harapan yang tinggi untuk berprestasi harus tercermin melalui perumusan tujuan sekolah. Tujuan sekolah merupakan turunan dari visi dan misi sekolah. Beberbeda dengan visi dan misi, tujuan sekolah hendaknya lebih operasional dan dapat diukur pencapaiannya, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang.

  • Pengembangan Budaya Mutu

Hal ini membawa implikasi bahwa sekolah perlu didorong untuk tidak hanya melihat aspek input manajemen tetapi jauh lebih penting adalah proses manajemennya, yang dalam konteks pembelajaran berarti perbaikan secara berkelanjutan “proses pembelajaran.” Sehubungan dengan itu maka, yang diartikan sebagai proses manajemen dalam konteks ini adalah manajemen mutu.

Budaya mutu adalah terciptanya kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang positif terutama dalam aspek sikap dan perilaku yang berorientasi pada kinerja sekolah yang tinggi. Sekolah yang memiliki budaya mutu, menyusun standar kinerja yang tinggi bagi guru, staf dan siswa. Guru yang berorientasi budaya mutu memiliki motivasi kerja, komitmen, dan kinerja yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang menodai komitmen terhadap mutu. Siswa yang memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar, komitmen dan kerajinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair seperti menyontek, dsb.

PENUTUP

Penciptaan budaya iklim sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan sekolah efektif. Penciptaan budaya yang postif berarti mendorong warga sekolah untuk mengembangkan norma-norma perilaku yang mendukung pencapaian tujuan sekolah. Penciptaan iklim sekolah yang kondusif berarti mela-kukan penataan lingkungan sekolah agar mendukung pencapaian tujuan sekolah.

Identifikasi praktek yang baik yang telah dilakukan di sekolah Anda dalam hal pengembangan budaya dan iklim sekolah. Kemukakan faktor pendukung dan faktor penghambatnya.

Dari paparan di atas, identifikasi beberapa program pengembangan budaya dan iklim sekolah yang Anda dapat laksanakan di sekolah masing-masing beserta strategi untuk melaksanakannya.

RUJUKAN

  • Dharma, S. 2007. Pengembangan Budaya dan Iklim yang Kondusif dan Inovatif. Jakarta: Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional.
  • Hoy, W.K. and Miskel C.G. 1987. Educational Administration: Theory, Research, and Practice. New York: Random Hosuse by Lane Akers, Inc.
  • Kusmintardjo. 1991. Bagaimana Menciptakan Iklim Organisasi Sekolah yang dapat Meningkatkan Kreativitas Warga Sekolah. Kelola, IV(4): 11—18.
  • Kusmintardjo. 1998. Peranan Iklim Organisasi Bagi Peningkatan Keefektifan Organisasi. Manajemen Pendidikan, 8 (1): 28—38.
  • Sergiovanni, T.J. 1991. The Principalship: A Reflective Practice Perspective. Boston: Allyn and Bacon.
  • Townsend, T. 1994. Effecting Schooling For the CommUllity. London and New York: Routledge.
  • Wijaya, M. 2005. Jurnal Pendidikan Penabur-No.05/Th.IV/Desember 2005. http://www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/05/118-127.pdf. diakses 01-12-2006.
  • Zulkarnain, W. 2007. Hubungan Kreativitas Guru, Keefektifan Komunikasi, dan Iklim Sekolah dengan Kinerja Guru Madrasah Aliyah Negeri di Malang Raya. Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.