Metode Penelitian Filsafat

bab 6

Seperti yang telah dibahas terlebih dahulu, bahwa berfilsafat pada intinya sangat mengandalkan daya fikir.Walaupun pembahasan kita lebih pada cabang filsafat nilai (aksiologi) yang mengacu pada nilai tata budaya dan pandangan hidup, namun kita tetap saja memerlukan ketajaman berfikir tersebut.

Pikiran (cipta), memang perlu selalu diasah terus menerus, di samping faktor rasa (sense), dan karsa (wish, intention). Walaupun filsafat memerlukan daya pikir, ternyata tidak keseluruhan kegiatan berfikir itu sama atau identik dengan berfilsafat. Semisal, ada orang yang setelah diberi pertanyaan, dia kelihatan berfikir. Namun setelah memberi jawaban, ternyata jawabannya tidak banyak mengandalkan daya pikirnya sendiri. Ia menjawab dengan menghubungkan pertanyaan yang diberikan tadi dengan hal-hal yang diterimanya turun-temurun. Kejadian serupa mirip dengan pada masa sebelum Thales (624 – 546 SM). Thales pada saat itu disebut sebagai filosof pertama, karena dialah pertama kali melontarkan pertanyaannya dengan kemampuan pikirnya, terlepas dari jawaban mitos-mitos atau hal-hal yang turun-temurun.

Cara berfikir filsafat adalah cara berfikir yang khas bukan cara berfikir yang tradisional yang tidak logis. Cara berfikir filsafat merupakan mencari kebenaran yang hakiki dengan metode penelitian berfilsafat.

Secara etimologis kata metode berarti: jalan, cara, arah, prosedur atau teknik. Filsafat mempunyai metode tertentu, yaitu cara yang digunakan oleh ilmu filsafat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapkan.

Dengan ini ada kerancuan dalam penggunaan istilah antara metode penelitian filsafat dengan metode filsafat. Istilah metode filsafat merupakan cara berfikir juga, tetapi cara berfikir yang digunakan oleh para filosof dari berbagai jaman. Contoh: Cara berfikir Descartes yang berbeda dengan cara berfikir Hume. Descartes menggunakan metode yang disebut geometris. Sedang Hume memakai metode filsafat eksperimental. Metode filsafat berangkat dari suatu produk berfikir tertentu.

Sementara metode penelitian filsafat lebih menekankan pada proses pencarian kesimpulan atas pertanyaan filsafat. Metode penelitian filsafat pada dasarnya dapat dibedakan dalam sepuluh jenis (Barker & Zubair, 1994 dalam Shidarta, 1999).

  1. Metode Interpretasi

Interpretasi artinya melakukan penafsiran, yang dilakukan seobjektif mungkin. Dengan menggunakan metode ini diharapkan akan diperoleh pemahaman mengenai kebenaran objek telaahan. Bukti-bukti objektif (evidence) yang sudah tersedia, kemudian diberi penafsiran. Bukti-bukti tersebut bentuknya bermacam-macam. Barangkali berupa catatan sejarah bagaimana terbentuknya tata bahasa yang digunakan (gramatikal), dan sebagainya.

  1. Induksi dan Deduksi

Induksi adalah suatu metode penelitian filsafat dengan cara menarik kesimpulan dan hal-hal khusus menjadi suatu pernyataan umum. Induksi sering dinamakan sebagai generalisasi, atau dalam terminologi filsafat juga disebut dengan abstraksi atau transendental. Abstraksi (menjadikan abstrak) memisahkan dalam pikiran, menanggalkan unsur-unsur aksidensi, sehingga yang tinggal essensinya.

Cara berfikir sebaliknya adalah metode deduksi yang artinya dari beberapa premis, lalu ditarik suatu kesimpulan yang lebih khusus. Metode seperti ini sering disebut silogisme (Shidarta, 1999). Silogisme adalah penuturan taklangsung. Ia adalah penuturan deduktif yang utama dan tegas, yaitu mengambil kesimpulan khusus dari putusan-putusan umum yang telah ada (Gazalba, 1973). Definisi silogisme adalah: dari dua putusan yang mengandung unsur yang sama, salah satunya bersifat umum, menyimpulkan putusan ketiga yang kebenarannya sama dengan kebenaran yang ada pada kedua putusan terdahulu.

contoh:  Abi ialah manusia

Manusia itu fana

Abi adalah fana

Esensi atau hakikat atau substansi objek, menunjukkan halnya; adanya pada objek tersebut, tidak memerlukan hal yang lain. Sedangkan aksidensi objek adalah yang melekat pada hakikat, seperti: sifat, jumlah, keadaan, waktu, bentuk dan sebagainya. Substansi menunjuk inti suatu hal. Aksidensi: sifat atau aspek yang kebetulan melekat pada substansi.

Ciri-ciri aksidensi yang dapat ditemukan pada substansi adan sembilan jumlahnya, yaitu:

  1. sifat, menjawab pertanyaan bagaimana substansi itu;
  2. jumlah, menjawab pertanyaan berapa banyaknya substansi;
  3. hubungan, menunjukkan relasi satu substansi dengan substansi lain;
  4. aksi, tindakan dan perubahan substansi;
  5. pasif, kemungkinan substansi menerima perubahan
  6. isi, besar kecilnya suatu substansi;
  7. waktu, kapan atau berapa lama substansi;
  8. sikap, atau situasi, bagaimana adanya, keadaan yang melibatkan substansi;
  9. tempat, keadaan yang melingkupi substansi.

Hakikat atau substansi dapat dilekatkan keseluruhan ciri aksidensi tersebut. (Gazalba, 1973).

Dunia filsafat sudah sejak dulu diramaikan oleh perdebatan antara pembela metode induksi dan mereka yang mendukung metode deduksi, pada akhirnya orang mulai menyadari bahwa kedua metode tersebut dapat digandengkan secara bersama-sama dalam suatu metode ilmiah. Gabungan penggunaan kedua metode tersebut diperagakan dalam suatu siklus empirik. Unsur-unsur siklus tersebut meliputi tahap observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi.

  1. Koherensi Intren

Metode penelitian ini dilakukan dengan cara menguraikan suatu objek telaahan menurut unsur-unsurnya, secara lengkap unsur-unsur intern tersebut lalu dipahami untuk selanjutnya dicari koherensinya satu dengan lainnya (internal relations). Apabila koherensi tersebut dapat dijelaskan, maka diasumsikan bahwa hakikat objeknyapun ditemukan.

  1. Holistik

Metode holistik (totalitas) sebenarnya kelanjutan dari metode koherensi intern. Memahami diri sendiri (intern) ternyata tidak cukup menurut metode holistik. Sehubungan dengan hal tersebut sangat perlu diamati keseluruhan hubungan yang terjadi antaran objek tersebut dengan lingkungannya. Menurut metode ini bahwa setiap objek yang akan ditelaah, tidak pernah lepas dari konteks ruang dan waktu.Jadi, selalu ada interaksi antara objek tersebut dengan jamannya. Hubungan aksi dan reaksi antara objek dan konteks lingkungan itulah yang ingin dijelaskan melalui metode holistik.

  1. Kesinambungan Historis

Sebenarnya metode ini dapat dimasukkan ke dalam pengertian interpretasi. Namun penafsiran yang dilakukan di sini tidak sekedar mengartikan sesuatu menurut waktu peristiwa tersebut terjadi. Orang yang menafsirkan peristiwa masa lampau, misalnya tidak dapat melepaskan diri dari unsur kekinian dan keterdisiniannya. Dengan demikian penafsiran yang dilakukan terhadap naskah lama tersebut sebenarnya sudah memberikan arti yang baru. Hal tersebut disebabkan adanya rentang waktu yang ada diantara masa-masa tersebut.

  1. Idealisasi

Idealisasi merupakan suatu teori yang biasanya diartikan sebagai proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematis termasuk di dalamnya berupa aliran-aliran filsafat, selalu berusaha menerangkan hubungan antara satu konsep dengan konsep yang lainnya. Teori yang demikian itu adalah merupakan uraian konsep yang ideal.

Pada kenyataanya, suatu teori mungkin tidak dapat diimplementasikan secara mutlak seperti penjelasan idealnya tersebut. Hal ini terutama karena asumsi atau kondisi yang dipersyaratkan oleh suatu teori, khususnya pada bidang ilmu-ilmu sosial, yang ternyata sudah mengalami penyimpangan. Sifat teori demikian itu disebut catris paribus.

Metode penelitian filsafat yang disebut idealisasi merupakan suatu upaya untuk menemukan teori-teori baru dengan cara menjelaskan hubungan antar konsep dibidang filsafat. Setelah dijelaskan dan kemudian mengalami proses intersubjektif, teori baru tersebut dapat saja membentuk suatu aliran filsafat yang baru.

  1. Komparasi

Metode komparasi (perbandingan) dilakukan setelah ditemukan hakikat dari sesuatu. Sebagaimana biasanya filsafat tidak akan berhenti untuk senantiasa bertanya. Salah satu metode untuk menggali jawaban yang lebih mendalam tersebut adalah dengan melakukan komparasi. Pada metode ini yang dibandingkan adalah hakikat sesuatu dengan hakikat sesuatu yang lain. Contohnya: kita memperbandingkan konklusi dari dua aliran filsafat yang berbeda dalam rangka mencari suatu sentesis. Komparasi dengan demikian dapat mengarahkan kita kepada idealisasi.

  1. Analogikal

Metode analogikal kerapkali juga disebut sebagai metode bahasa inklusif. Apabila kita meneliti suatu naskah yang ditulis oleh seorang filosof, yang kita teliti adalah alur pikir filosof tersebut melalui bahasa yang digunakannya. Filosof tersebut menggunakan berbagai macam ungkapan yang tentu saja yang berhubungan dengan kondisi ruang dan waktu ketika filosof tersebut hidup.

Metode analogikal menggunakan kerangka ruang dan waktu tersebut untuk menjelaskan permasalahan pada kerangka ruang dan waktu yang lain. Dengan demikian akhirnya dapatlah ditarik suatu pengertian baru, dengan mengambil situasi dan kondisi yang lebih bersifat umum.

  1. Deskripsi

Deskripsi berarti gambaran atau lukisan atas suatu data atau fenomena. Penggambaran metode deskripsi ini adalah melalui media bahasa. Melalui bahasa data itu di eksplisitkan, sehingga dapat dipahami secara benar atau paling tidak mendekati apa yang dimaksud sebagai hakikat dari data atau fenomena tersebut.

  1. Heurestika

Metode heurestika adalah suatu metode penelitian filsafat yang inovatif. Artinya, didalam metode heurestika ini dilakukan percobaan untuk dapat memecahkan suatu masalah (pertanyaan)filsafat dengan cara yang baru, yang selama ini belum pernah dilakukan. Dengan metode baru tersebut diharapkan akan dapat ditemukan jawaban-jawaban yang tidak lagi konvensional dan hasilnya dapat mengejutkan.

Heurestika merupakan metode penelitian yang diperkenankan. Karena memang filsafat tidak memiliki kriteria lain untuk menguji kebenaran, kecuali logis semata. Hal tersebut berarti, bahwa sepanjang konklusinya ditarik dengan tata cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara logika, maka hal tersebut dapat dibenarkan. Logika adalah hukum untuk berfikir tepat. Secara etimologi kata logika berasal dari kata logos dari bahasa Yunani, yang berarti kata atau pikiran. Logika berarti ilmu berkata benar atau ilmu berfikir benar. Kebenaran merupakan syarat terhadap tindakan untuk mencapai tujuannya bagi laku perbuatan untuk mewujudkan praktik berfikir menuju kebenaran dan menghindarkan budi menempuh jalan yang salah dalam berfikir (Gazalba, 1973).

Seorang peneliti filsafat dapat menggunakan satu atau beberapa metode sekaligus. Pendekatan yang berbeda dalam mengkaji suatu permasalahan, barangkali akan melahirkan konklusi yang berlainan, tetapi hal tersebut yang disenangi dan diharapkan oleh filsafat. Aneka pandangan itulah yang menandakan holistiknya filsafat yang nantinya akan mendorong para pecinta filsafat untuk saling menghargai pendapat orang lain.