Sistem Nilai Budaya

bab 5

Lebih lanjut kebudayaan yang berwujud kompleksitas gagasan, nilai dan norma memiliki singkatan pula. Meskipun sifatnya abstrak, namun tetap memiliki tingkatan tertentu dari keabstrakannya tersebut, mulai dari yang paling abstrak, sampai dengan yang kurang begitu abstrak.

Sistem nilai budaya adalah wujud kebudayaan jenis wujud yang paling abstrak. Disusul sistem norma kepercayaan dan norma kesusilaan, sistem norma hukum dan seterusnya (Shidarta, 1999). Untuk lebih jelasnya tingkatan atau gradasi sistem nilai budaya dari tingkat yang paling abstrak ke tingkat yang kurang abstrak, sebagai berikut:

  1. sistem norma kepercayaan;
  2. sistem norma kesusilaan;
  3. sistem norma hukum, dst.

Sistem nilai budaya merupakan pedoman tertinggi dalam kebudayaan manusia. Bangunan sistem nilai budaya terdiri dari kekompleksan nilai-nilai yang telah membudaya bertahun-tahun, berabad-abad bahkan dari satu generasi ke generasi yang lain, yang sudah mendarah daging melalui proses internalisasi pada diri tiap-tiap anggota masyarakat atau bangsa tersebut.

Pandangan hidup atau filsafat Timur dengan demikian terdiri dari sistem nilai budaya ke Timuran yang telah membudaya dan mendarah daging pada masyarakat dan bangsa Timur, termasuk Indonesia. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat dan bangsa Barat, yang menganut sistem nilai budaya Barat. Oleh karena itu dapat dipahami mengapa ada masyarakat suatu negara yang secara geografis terletak di belahan dunia bagian Timur, tetapi menganut filsafat atau pandangan hidup Barat, atau sebaliknya. Permasalahannya adalah bukan karena letak geografis, terletak di belahan dunia Timur atau Barat, namun karena berorientasi pada sistem nilai budaya yang dianut.

Sehubungan hal tersebut di atas, maka perlu memperhatikan kebudayaan nasional yang akan berdampak pada pendidikan dan pengajaran nasional yang harus mampu menghadapi tantangan terhadap pandangan hidup atau filsafat bangsa Indonesia khususnya. Tiap-tiap bangsa, perlu mengadakan hubungan serta pergaulan antar bangsa, hal tersebut berarti memperluas lingkungan hidup dan penghidupan serta pengetahuan dan pengalamannya. Kesemuanya itu berpengaruh pada perkembangan serta kemajuan hidupnya, baik lahir maupun batin. Dalam hubungan dan pergaulan tersebut, baik dengan pertukaran bahan-bahan dan benda-benda kebudayaan. Hal ini kadang-kadang di satu pihak dapat merugikan kepentingan suatu bangsa (misalnya membatik), namun secara keseluruhan akan memberi kemajuan hidup dan penghidupan bagi masyarakat yang ikut serta dalam hubungan dengan pergaulan tadi (misalnya: menjadi guru/pengajar membatik bangsa lain).

Namun walaupun demikian, perlu dipahami bahwa bila ada bangsa atau masyarakat tidak mau membuka diri atau mengasingkan diri maka akan terisolasi atau terasing dari pergaulan dunia. Hal tersebut karena merasa bahwa dia (bangsa atau masyarakat tersebut) sudah puas akan dirinya, atau karena berdasarkan suatu ideologi (filsafat atau pandangan hidup) yang sangat mengikat hidup batinnya. Bangsa atau masyarakat yang demikian tersebut biasanya tidak berkembang, tetap berada dalam kehidupan dan penghidupan yang serba sederhana atau terbelakang (tradisional).

Ki Hajar Dewantara (1977) menganjurkan, agar dalam mengadakan pertukaran kebudayaan dengan bangsa-bangsa lain kita “dapat memungut keuntungan yang sebesar-besarnya dan memperkecil kerugian yang harus diderita”. Untuk itu perlu adanya tuntunan kebijaksanaan sistem nilai budaya, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Hanya mengambil bahan-bahan dan benda-benda kebudayaan dari bangsa-bangsa lain, yang perlu atau baik untuk penghidupan bangsa dan masyarakat Indonesia.
  2. Menolak dan atau menghalang-halangi sedapat mungkin masuknya segala apa yang dapat merugikan perkembangan hidup dan penghidupan bangsa dan masyarakat Indonesia.
  3. Dalam rangka memudahkan, menyelamatkan dan menyempurnakan masuknya bahan-bahan dan benda-benda kebudayaan dari bangsa-bangsa lain sedunia, ke dalam kebudayaan bangsa Indonesia yang akan mempengatuhi pandangan hidup (filsafat hidup) serta sistem nilai budaya.

Untuk itu kita perlu berpegang pada “Azas Tri-kon” dari Ki hajar Dewantara (1977), yaitu:

  • ”Kontinuitet, yang berarti bahwa garis hidup kita di jaman sekarang harus merupakan lanjutan, terusan dari hidup kita di jaman yang silam, jangan ulangan ataupun tiruan hidup bangsa lain.
  • Konvergensi, dalam arti keharusan untuk menghindari hidup menyendiri, (isolasi) dan untuk menuju ke arah pertemuan dengan hidupnya bangsa-bangsa lain sedunia;
  • Konsentrisitet, yang berarti bahwa sesudah kita bersatu dengan bangsa-bangsa lain sedunia, janganlah kita kehilangan kepribadian kita sendiri; sungguhpun kita sudah bertitik-pusat satu, namun di dalam lingkaran-lingkaran yang konsentris itu, kita tetap masih mempunyai sirkel sendiri”.
  1. Lebih baik kita mengutamakan asimilasi daripada asosiasi. Ini artinya, kita mengambil bahan-bahan kebudayaan dari luar negeri, tetapi kita sendirilah yang mengolah bahan-bahan tersebut sehingga menjadi olahan atau masakan yang baru, yang lebih baik bagi kita dan menyehatkan hidup bangsa Indonesia.
  2. Jangan dilupakan, bahwa kebudayaan adalah kemurahan Tuhan, yang diberikan kepada umat manusia untuk keselamatan serta kebahagiaan hidupnya di dunia. Untuk janganlah kita tolak atau mensia-siakan kemurahan dan pemberian Tuhan tersebut,bahkan sebaliknya, kita wajib mencari dan memasukkan segala sesuatu yang dapat menambah dan menyempurnakan hidup kita, dari manapun asalnya (baik dari dalam maupun luar negeri) bahan-bahan atau benda-benda kebudayaan tersebut.

Apabila telah disepakati bahwa pandangan hidup atau filsafat hidup Timur dan Barat sebenarnya lebih ditentukan oleh orientasi nilai-nilai budaya, maka timbul pertanyaan, bagaimana membedakan orientasi nilai-nilai budaya tersebut.

Clyde Kluckhohn (dalam Shidarta, 1999) memperkenalkan orientasi nilai (value orientation) untuk pertama kalinya, yang menjadi kajian menarik. Menurut Kluckhohn, sistem nilai budaya manusia dengan lima permasalahan pokok dalam kehidupan, yaitu:

  1. masalah hidup manusia, yang berorientasi pada nilai budaya buruk-baik;
  2. masalah karya (kerja), dalam hal ini manusia berorientasi pada nilai budaya dalam mencari nafkah agar dapat hidup. Dengan berkarya (prestise) yang memungkinkan mendapatkan pekerjaan (karya) yang lain;
  3. masalah waktu, manusia dalam hal ini berorientasi pada nilai budaya dimasa silamnya, masa sekarang dan masa mendatang. Masa silam merupakan cerminan untuk masa sekarang dan masa akan datang. Karena dengan pengalaman (masa silam) manusia akan hidup lebih baik. Pengalaman merupakan guru yang baik;
  4. masalah alam: orientasi budaya di sini adalah bahwa manusia harus tunduk pada alam tidak dapat dihindari (menjadi tua) dan harus menyelaraskan dengan alam (manusia berusaha bersahabat dengan alam), bahkan manusia harus memiliki keyakinan bahwa ia dapat menaklukkan alam (melalui karya manusia sendiri);
  5. masalah dengan manusia lain, manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia mempunyai ketergantungan dengan manusia lain, baik secara horisontal (antar sesama manusia), vertikal (antara atasan dan bawahan dan sebaliknya) serta individual (demi kepentingannya sendiri).

Dari lima permasalahan dari Kluckhohn tersebut kemudian timbullah masing-masing tiga masalah lagi yang berorientasi pada nilai budaya sebagai jawabannya. Hal ini dikemukakan oleh Koentjaraningrat (dalam Shidarta, 1999) sebagaimana disinggung di atas. Secara rinci adalah sebagai berikut:

Masalah pertama ada dalam kehidupan manusia yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai apakah hakikat hidup manusia itu. Dengan istilah lain, sebenarnya bagaimanakah manusia itu memandang makna kehidupan di atas dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendapat jawaban sebagai berikut:

  1. Hidup ini buruk, karena penuh penderitaan dan pengorbanan.
  2. Hidup ini baik, karena penuh dengan kebahagiaan, anugerah dan rahmat.
  3. Hidup ini sebenarnya buruk, namun manusia wajib dan harus berusaha agar dapat mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Menurut Shidarta (1999), “terlepas apapun orientasi nilai budaya yang diyakini seseorang tentang hakikat hidup, dalam praktiknya manusia akan bertahan hidup jika ia berbuat sesuatu”.

Lebih lanjut timbullah masalah hakikat kedua yang berhubungan dengan pertanyaan: Apa hakikat karya (kerja) dalam kehidupan manusia. Atau dengan bentuk lain pada pertanyaan yang sama adalah: Seperti apa manusia memandang pekerjaan yang dilakukan? Seperti apa manusia memandang prestasi yang dibuatnya?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masalah kedua tersebut dengan tiga orientasi, sebagai berikut:

  1. Karya (kerja) itu hanya sekadar untuk nafkah hidup, karena itu manusia tidak terlalu memaksakan diri dengan bekerja melampaui batas yang cukup untuk nafkah hidup saja. Apabila ia bekerja dengan memaksakan diri manusia justru menjadi serakah dan berlebih-lebihan.
  2. Karya (kerja) tersebut tidak hanya sekadar mencari nafkah, namun juga untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi (prestise) atau yang dapat dibanggakan. Lebih baikbekerja dari pada menjadi pengangguran.
  3. Karya (kerja) itu merupakan motivasi untuk melahirkan karya-karya berikutnya. Di sini manusia memanfaatkan potensi dirinya agar terus bekerja keras untuk dapat melahirkan karya-karya baru.

Pada prinsipnya manusia harus bekerja atau berkarya. Kemudian timbullah masalah ketiga dengan pertanyaan yang lebih mendalam lagi yang berkaitan dengan kehidupan manusia, yaitu yang mengenai persepsi manusia tentang waktu. Lebih eksplisit pertanyaannya adalah: Dalam berkarya (bekerja) ke arah manakah manusia itu harus melangkah dan bercermin? Jawaban-jawaban yang timbul dalam hal ini adalah:

  1. Manusia harus berorientasi ke masa silam. Hal tersebut disebabkan sejarah (pengalaman) merupakan guru yang paling baik. Keselamatan manusia dewasa ini tergantung pada sejauh mana ia belajar dari pengalaman masa lalu tersebut, termasuk ajaran-ajaran pendahulunya.
  2. Manusia harus berorientasi mementingkan kondisi konkrit pada saat ini. Setiap waktu manusia memiliki tantangan yang berbeda, sehingga perhatian harus disimpulkan pada keadaan saat ini.
  3. Manusia harus menitikberatkan pada waktu yang akan datang. Manusia bekerja keras pada saat ini agar nantinya dia dan anak cucunya dapat hidup lebih baik.

Pada persepsi waktu tersebut erat kaitannya dengan sumber daya eksternal yang dapat deimanfaatkan oleh manusia. Sumber daya eksternal yang dimaksud itu adalah alam (ruang). Maka timbullah permasalahan keempat, yaitu yang berorientasi pada alam. Muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana orientasi manusia dalam melihat alam sekitarnya (makrokosmos) tersebut? Jawaban yang timbul ada tiga yang berorientasi pada nilai budaya, yaitu:

  1. Manusia tunduk pada alam. Setiap manusia mau tidak mau tunduk dan patuh pada alam, karena manusia tidak mungkin mengelak dari hukum alam. Manusia dikendalikan oleh hukum alam. Misalnya: manusia menjadi tua, karena proses alamiah yang tidak mungkin dihindari.
  2. Manusia harus menjaga keselarasan dengan alam. Hal ini berarti bahwa manusia harus berusaha mengatasi hukum-hukum alam tersebut. Walau sekeras apapun upaya tersebut tidak akan berhasil, namun paling tidak manusia dapat menjaga agar alam tetap bersahabat dengan manusia. Manusia harus menyadari hidup selaras dengan alam. Ilustrasi nomor 1 di atas, bahwa alamiah manusia menjadi tua, biarlah proses penuaan tersebut berjalan secara wajar, bukanlah menjadi tua sebelum waktunya.
  3. Keyakinan manusia bahwa ia harus mampu menaklukkan dan menguasai alam. Melalui usaha dan karya manusia, hukum-hukum alam bukan tidak mungkin dapat teratasi demi kepentingan hidup manusia. Misalnya untuk mengatasi banjir yang setiap tahun melanda daerah tertentu, manusia membuat saluran-saluran air, penghijauan dengan menanam pohon di daerah tersebut dan sekitarnya.

Permasalahan kelima adalah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain, atau hubungan antar manusia. Pertanyaan yang timbul adalah: Bagaimana ketergantungan manusia yang satu terhadap manusia yang lain? Adakah hubungan antar manusia secara individual? Bagaimana hubungangan antar manusia tersebut secara horinsontal? Adakah hubungan antar manusia secara vertikal? Untuk menjawab pertanyaan yang hakiki ini adalah sebagai berikut:

  1. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki ketergantungan dengan manusia lain, yang hidup di sekitarnya. Sehubungan dengan hal tersebut manusia harus berinteraksi mengikuti pola kehidupan masyarakat di sekitarnya. Manusia harus bersosialisasi antar sesamanya. Pola hubungan tersebut bersifat horisontal.
  2. Manusia dalam berinteraksi juga memiliki ketergantungan dengan manusia lain. Karena ketergantungan tersebut mengakibatkan adanya hubungan antara atasan dan bawahan atau hubungan vertikal, misalnya: guru dengan peserta didik, kepala sekolah dengan guru.
  3. Manusia juga merupakan makhluk individual. Pada hakekatnya manusia hanya bercermin pada kepentingannya sendiri (individualistis). Oleh karena itu dalam berinteraksi dengan sesamanya, ukurannya bukan pada orang lain, tetapi pada dirinya sendiri, misalnya: manusia berinteraksi dengan manusia yang lain, karena ada keperluan lain yang hanya bermanfaat untuk dirinya saja.

Bagaimana corak pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa, atau bahkan seorang pribadi manusia dapat dicermati melalui jawabannya terhadap kelima pertanyaan tentang permasalahan hakikat kehidupan di atas. Dimana dari kelima pertanyaan tersebut ada lima belas alternatif jawaban yang berorientasi pada nilai budaya. Jawaban-jawaban tersebut akan berkembang menjadi berbagai variasi, yang memberi corak menarik atas suatu perkembangan pandangan hidup.

Hal yang sama juga terjadi sewaktu kita berbicara tentang perjalanan filsafat Barat dan Timur. Perbedaan dalam orientasi nilai budaya tersebut merupakan faktor yang sangat penting ketika kita mengidentifikasi pandangan hidup (filsafat) Barat dan Timur tadi. Secara internpun tiap-tiap periode sejarah filsafat Barat dan Timur, juga memiliki karakteristik yang mungkin berbeda. Filsafat Cina misalnya, yang terjadi pada jaman klasik (600 – 200 SM) dalam konteks tertentu akan berbeda karakteristiknya dengan jaman Cina modern (setelah 1900). Demikian pula pada filsafat India ketika jaman Weda (2000 – 600 SM) akan berbeda dengan karakteristik filsafat pada jaman-jaman berikutnya.

Secara ekstern, perbandingan antara filsafat Barat dan Timur dapat disimpulkan dari perbedaan yang dibuat oleh Eerste Nederlandse Systematisch Ingecrichte Encyclopaedia (ENSIE) yang selanjutnya oleh Darmodiharjo dan Shidarta (1999) digambarkan dalam bagan berikut.

TIMUR

BARAT

1 asli 1 buatan
2 suka hidup damai 2 suka konflik
3 pasif 3 aktif
4 bergantung pada pihak lain 4 mandiri
5 lamban 5 cepat
6 bersifat meneruskan 6 bersifat menciptakan
7 konservatif 7 progresif
8 intuitif 8 rasional
9 teoritis 9 eksperimental
10 artistik 10 ilmiah
11 kerohanian 11 materialistis
12 psikis 12 fisik
13 mengutamakan ukhrowi 13 mengutamakan duniawi
14 manusia dan alam sejajar 14 alam dikuasai manusia
15 kolektivistis 15 individualistis

Karakteristik filsafat Barat dan Timur yang diperbandingkan tersebut di atas, bersifat ekstren dan dalam ruang lingkup garis besarnya saja. Dalam batas-batas tertentu mungkin karakteristik tersebut tidak berlaku, bahkan dapat diperdebatkan. Namun biasanya secara garis besar, orang tidak mempersoalkan dan dapat menyetujui tentang ciri dari nilai-nilai budaya Timur dan Barat tersebut.