Filsafat Pandangan Hidup

bab 4

MANUSIA & KEBUDAYAAN

Hanya manusia yang berkebudayaan. Apakah makhluk lain tidak berkebudayaan? Para ahli menyimpulkan dalam definisi-definisi mereka, bahwa hewan serta makhluk lainnya tidak berkebudayaan. Mengapa hanya manusia yang berkebudayaan? Karena manusia memiliki sesuatu yang esensiil, yang tidak ada pada hewan atau makhluk lainnya. Manusia mempunyai ruh atau jiwa, yang pada dirinya dapat berfikir dan merasa ruhaniah. Hewan juga punya otak, namun otaknya tidak dapat untuk berfikir. Hewan punya hati, tetapi aktivitas hatinya tidak membentuk rasa ruhaniah. Kehidupan batiniah atau ruhanialah yang menjadi pangkal kebudayaan.

Ilmu tentang manusia, seperti telah dibahas di depan, disebut antropologi. Antropologi terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Antropologi Fisik, adalah ilmu tentang manusia yang memandang manusia dari segi jasmaniahnya.
  2. Antropologi Budaya, adalah ilmu tentang manusia yang memandang manusia dari segi rohaniahnya. Dengan demikian kita memasuki medan antropologi kebudayaan atau antropologi budaya.

Walaupun ilmu dan teknologi sudah maju pesat serta canggih, namun sedikit sekali yang diketahui tentang ruh. Walaupun dikaji oleh agama apapun keyakinan manapun. Karena urusan ruh adalah urusan Tuhan. Manusia hanya diberi pengetahuan sedikit tentang ruh di kitab-kitab suci dan keyakinan. Pengetahuan yang sedikit itulah dimiliki dan diyakini manusia sampai dewasa ini. Dengan demikian yang banyak diketahui tentang ruh adalah pernyataan-nya. Menurut Gazalba (1973) pada garis besarnya ruh menyatakan diri pada pikiran dan perasaan dalam pengertian luas. Bertolak dari pikirian dan perasaan tersebut mungkin perlu ditambah satu definisi lagi pada kebudayaan. Hal tersebut mengingat begitu kompleksnya manusia, sehingga kebudayaan yang diciptakannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Definisi kebudayaan menyatakan bahwa “suatu kebudayaan ialah cara berfikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu” (Gazalba, 1973).

Dengan cara berfikir dan cara merasa tersebut merupakan pernyataan dari dalam cara berlaku dan bertindak serta cara berbuat. Dengan demikian definisi tersebut dapat diperpendek, yaitu “cara berlaku-berbuat dalam kehidupan”. Kependekan tersebut dapat disingkat lagi menjadi: “cara hidup” (way of life).

Lebih lanjut Gazalba (1973) mengemukakan bahwa kebudayaan pada dasarnya meliputi seluruh kehidupan manusia. Kehidupan begitu luas, sehingga menjadi kabur pengertiannya. Dalam rangka hal tersebut agar lebih jelas dapat dibagi dalam sejumlah segi atau faset. Demikianlah pula yang diistilahkan oleh antropologi tentang segi kehidupan tersebut, yaitu cultural universal. Cultural universal merupakan segi-segi kebudayaan yang universal ditemukan dalam setiap kebudayaan. Ada berbagai macam teori tentang pembagian cultur universal.

Menurut Kuntjaraningrat (dalam Gazalba, 1973) membagi kebudayaan dalam tujuh segi atau faset, yaitu: peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, ilmu pengetahuan dan religi.

Sedangkan Beals dan Hoijer (dalam Gazalba, 1973) membagi kebudayaan menjadi lima, yaitu: teknologi, ekonomi, organisasi sosial, agama (religi), dan kebudayaan lambang.

Montagu membaginya lebih banyak lagi, yaitu dalam 12 faset:

  1. pola-pola komunikasi
  2. bentuk-bentuk materiil
  3. pertukaran barang-barang & jasa
  4. bentuk-bentuk milik
  5. kelamin & pola-pola keluarga
  6. kontrol sosial
  7. pemerintahan
  8. praktik religi, & magi
  9. mitologi
  10. filsafat
  11. ilmu
  12. kesenian & rekreasi.

Dengan memperbandingkan teori-teori cultural universal tersebut Gazalba membagi kebudayaan kedalam 7 faset atau cabang kebudayaan, yaitu:

  1. sosial
  2. ekonomi
  3. politik
  4. ilmu & teknik
  5. seni
  6. filsafat
  7. agama.

Ilmu memasukkan agama dalam kebudayaan, tetapi bagi Islam agama bukanlah bagian kebudayaan.

Cara berlaku-berbuat sebagai pernyataan cara berfikir-merasa itu ada yang masuk kedalam faset sosial, ekonomi, politik, ilmu dan teknik, seni, filsafat, dan agama. Kelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial merupakan masyarakat. Hubungan antara masyara-kat dan kebudayaan terjalin saling terkait dan saling pengaruh mempengaruhi dengan erat dan ketat sekali. Masyarakat adalah wadah kebudayaan. Dan kebudayaan membentuk masyarakat.

Kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu. Berbeda ruang, berbeda kebudayaan-nya. Lain ladang lain belalangnya. Lain lubuk, lain ikannya. Demikian pula dengan waktu, berlainan waktu berlainan pula kebudayaannya. Kebudayaan tradisional atau dulu, berlainan dengan kebudayaan modern atau dewasa ini.

Cara berfikir dan cara merasa merupakan kebudayaan batiniah, manifestasinya adalah dalam bentuk cara berlaku dan cara berbuat. Apapun cara hidup adalah kebudayaan lahiriah. Hasil cara berlaku-berbuat adalah yang berbentuk benda, yang disebut kebudayaan materiil.

Cara berfikir-merasa yang membentuk sikap jiwa atau mentalitas, mungkin juga dikatakan mentalitas atau sikap jiwa tersebut menyatakan diri dalam cara berfikir dan cara merasa. Sikap jiwa tersebut merupakan batiniah. Lahiriahnya sikap jiwa tersebut menjelma sebagai sikap kehidupan dan pandangan hidup.

Dengan kondisi Indonesia pada saat ini, menurut Ki Hajar Dewantara (1977) yang dimaksud manusia adalah “manusia merdeka, yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri”. Yang dimaksud dengan merdeka atau kemerdekaan dalam pendidikan, menurut beliau bahwa harus diingat tiga macam sifat, yaitu:

  • berdiri sendiri (selfstanding);
  • tidak tergantung kepada orang lain (onafhangkelijk); dan
  • dapat mengurus dirinya sendiri (vrijheid, zelfbeschikking).

KEBUDAYAAN & PANDANGAN HIDUP

Sebelum membahas kebudayaan dan keterkaitannya dengan pandangan hidup manusia, kita perbandingkan lebih dahulu definisi kebudayaan dan definisi filsafat. Apabila diperbandingkan antara defisini kebudayaan dan definisi filsafat, keduanya bertema dalam hal berfikir. Kebudayaan merupakan cara berfikir, sedangkan berfilsafat adalah berfikir secara sistematik, radikal dan iniversal. Berfikir yang demikian itu berujung pada sikap jiwa. Manifestasi dari sikap jiwa tersebut, merupakan sikap hidup dan pandangan hidup, seperti yang telah disinggung di atas. Sudah jelas bahwa betapa filsafat itu mengendalikan cara berfikir kebudayaan. Sedangkan setiap kebudayaan senantiasa kita temukan filsafat. Kebudayaan yang sederhana dan bersahaja diatur oleh adat. Adat disusun oleh nenek moyang. Nenek moyang tersebut berfungsi sebagai filosof terhadap kebudayaan bersahaja.

Cara hidup suatu masyarakat dalam suatu kurun dipengaruhi oleh para ahli pikir besar pada kurun tersebut. Beberapa paham cara hidup manusia, sebagai berikut:

  • Kehidupan Materialis

Dalam dunia Barat, kehidupan materialis yaitu suatu kebudayaan yang memandang materi lebih berharga daripada nilai-nilai rohaniah. Hal tersebut kuat dipengaruhi oleh filsafat materialisme. Filsafat ini mengalami masa jayanya pada abad ke XIX di Eropa Barat dibawah pimpinan Lamettrie, Nogt, Moleschott, Buchner, Haeckel, Oswald. Pengaruhnya masih terasa pada abad XX dalam kehidupan materialis.

  • Sekularisme

Sekularisme (Secularism) adalah paham yang memutuskan kehidupan sepenuhnya dari kepercayaan dan ibadah agama, karena itu pendidikan dan pemerintahan khususnya dan kebudayaan pada umumnya harus bersih dari unsur-unsur agama (Gazalba, 1973). Sekularisme yang merupakan pandangan dan sikap hidup Barat dapat dikembalikan ke filsafat duniawi (Feuerbach) dalam abad XIX.

Pembagian filsafat dalam dua kawasan, yaitu Barat dan Timur, yang bersifat lebih kultural dibandingkan geografis. Hal ini berarti, bahwa banyak masyarakat, bangsa dan negara yang secara geografis berada di wilayah belahan dunia bagian timur daripada di belahan bagian barat. Namun budaya Timur mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari budaya Barat. Demikian pula sebaliknya.

Filsafat Barat dalam perkembangannya lebih mengarah pada pengertian filsafat sebagai ilmu. Sementara filsafat Timur lebih bertahan pada pengertian filsafat sebagai pandangan hidup. Filsafat sebagai pandangan hidup tersebut sangat erat dan dekat pemahamannya dengan kebudayaan.

Soemardjan dan Soemardi (dalam Shidarta, 1999) mengartikan kebudayaan secara sederhana atau dalam arti sempit sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (dalam Sidharta, 1999), kebudayaan ada tiga pengertian, yaitu dalam wujud:

  1. kompleks gagasan, nilai dan norma;
  2. kompleks aktivitas perilaku masyarakat (sistem sosial);
  3. benda-benda hasil karya manusia.

Kebudayaan dalam wujud yang kompleks gagasan, nilai dan norma, bersifat sangat abstrak. Kebudayaan disini berwujud dan berada dalam pikiran-pikiran para anggota masyarakat dimana kebudayaan tersebut hidup dan berkembang. Oleh karena itu sulit diamati secara inderawi.

Kebudayaan dalam wujud aktivitas perilaku masyarakat yang kompleks, mulai dapat diamati. Hal tersebut karena dapat diamati dan dilihat pada perilaku masyarakat sehari-hari.

Sedangkan kebudayaan dalam wujud benda-benda sebagai hasil karya manusia, adalah yang paling mudah untuk diamati dan ditangkap secara inderawi. Karena berupa benda-benda yang konkrit, seperti candi, rumah, pakaian, kerajinan, dan sebagainya.

Manusia hidup dalam suatu kebudayaan. Kelompok manusia yang disebut masyarakat, kebudayaannya antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain berbeda. Seperti telah dikemukakan di muka. Ilmu-ilmu sosial (misalnya sosiologi, antropologi) merupakan ilmu-ilmu yang ada keterkaitannya secara sangat erat dengan kebudayaan. Seperti apa pandangan hidup tersebut dapat ditelusuri dengan memperhatikan gagasan, nilai, dan norma yang dianut dan diyakini serta dipertahankan keberhasilannya oleh masyarakat atau bangsa yang bersangkutan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ki Hajar Dewantara (1977) menyatakan bahwa perlu dalam pendidikan dan pengajaran nasional. Kebudayaan bangsa ialah “kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa”. Dengan kebudayaan diharapkan akan mempengaruhi pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan, tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.

Menyitir pendapat Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan di Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesai dalam rangka menuju ke arah kebahagiaan hidup batin serta keselamatan hidup bangsa Indonesia.