Manusia & Pendidikan

bab 2

MANUSIA

Sebelum mendalami manusia dan pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui para pelakunya yaitu manusia. Dari sudut pandang secara biologis, manusia adalah homo sapiens, yang menggolongkan pada antropoid, mamalia. Dalam hal ini para ilmuwan mencari peninggalan-peninggalan kerangka moyang yang sama dengan monyet, yang dijuluki “mata rantai yang hilang” (the missing link). Banyak pertanyaan yang timbul tentang manusia tersebut, seperti: Siapakah manusia itu? Dari mana asalnya? Berbedakah manusia dengan makhluk yang lain? Sampai dimanakah batas kemampuannya? Bagaimanakah manusia? Bagaimanakah tingkah lakunya? Dua pertanyaan terakhir menumbuhkan ilmu tentang manusia, yang dalam bahasa Inggris diberi istilah anthropology (anthropos = manusia; logy = ilmu).

Fattah (2003) menarik kesimpulan bahwa manusia adalah:

  • memiliki tenaga dalam yang menggerakkan hidupnya dalam rangka memenuhi kebutuhan;
  • memiliki fungsi yang rasional, bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial;
  • mampu mengarahkan diri ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol diri, dan menentukan nasibnya;
  • pada hakekatnya senantiasa dalam proses berkembang dan tidak pernah selesai;
  • melibatkan diri untuk kepentingan dirinya dan orang lain;
  • mempunyai potensi yang perwujudannya sering tak terduga, dan potensi tersebut terbatas.

KARAKTERISTIK MANUSIA SEBAGAI MANUSIA

Dalam bagian ini, mula-mula dikemukakan beberapa karakteristik biologis yang khas dari manusia, dan sesudah itu, suatu pandangan tentang sifat dasar atau alam manusia sebagai manusia, serta pentingnya penentuan karakteristik-karakteristiknya yang khusus.

  1. Karakteristik Biologis Manusia yang Khas

Manusia memiliki karakteristik biologis tertentu yang membedakannya dari hewan: (a) ia berjalan tegak; (b) ia mempunyai ibu jari yang dapat diletakkan secara bertentangan; hal ini memungkinkannya untuk menggunakan alat-alat; (c) ia mempunyai otak yang lebih tinggi perkembangannya dari pada otak hewan lain manapun juga; (demokrasi) manusia diperlengkapi dengan organ-organ vokal yang memungkinkan untuk bicara; (e) anak-anaknya secara relatif lama tidak berdaya; mereka pada waktu lahir tidak mempunyai banyak kemampuan refleksi atau naluriah, akan tetapi mereka mempunyai potensi-potensi yang sangat plastis dan dapat diadaptasi.

  1. Sifat Dasar atau Alam Manusia Sebagai Manusia

Manusia mempunyai karakteristik yang menciptakan suatu jurang yang dalam antara dia dan yang tertinggi dari hewan dan makhluk yang lain. Yang penting untuk diselidiki dan difahami perbedaan-perbedaan ini maupun untuk mengenal persamaan manusia dengan dunia hewan. Sesungguhnya , yang dasar bagi filsafat hidup atau filsafat pendidikan manapun juga adalah suatu pemahaman, sejauh mungkin, akan keseluruhan sifat dasar atau alam manusia. Pertanyaan yang timbul adalah: Apakah artinya, kita adalah manusia itu? Apakah ada suatu kualitas manusiawi yang umum bagi semua orang dan yang membedakan manusia dari hewan dan makhluk yang sangat berkembang yang akan meningkatkan sifat kebintangannya sampai bentuk yang makin tinggi juga?

  1. Pentingnya Penentuan Karakteristik yang Khusus

Sejak jaman dahulu merupakan hal yang biasa, untuk menandakan manusia sebagai “hewan yang rasional”. Artinya, manusia itu dapat bernalar, ia dapat berfikir dalam bentuk yang logis, “menghubungkan ide-ide secara sadar, koheren dan bertujuan”. Bernalar adalah “proses berlangsung dari potensi-potensi tertentu yang sudah diketahui atau diasumsikan adalah benar, kepada suatu kebenaran lain yang berbeda dari proposisi-proposisi tersebut. Karena manusia mempunyai kemampuan ini, di samping kemampuan-kemampuan lain, maka ia dapat menemukan berbagai kebenaran mengenai alam semesta dan mengenai dirinya. Kemampuan itu adalah faktor tertinggi dalam apa yang kita sebut intelegensi.

Memang benar, bahwa sering kali manusia gagal menggunakan nalarnya. Dia adalah suatu makhluk emosi maupun makhluk nalar, dan jarang sekali dalam tindakan-tindakannya dia lebih banyak dibimbing oleh nalarnya. Oleh karena itu barang kali lebih tepat untuk mengatakan bahwa manusia itu mampu untuk bernalar.

Akan tetapi, apakah kemampuan bernalar itu merupakan karakteristik yang khas bagi manusia saja? Penyidikan akhir-akhir ini menemukan, bahwa beberapa dari hewan-hewan lain yang lebih tinggi memperlihatkan perilaku yang mengindikasikan pemilikan nalar pada tingkat yang sangat elementer. Nalar itu tampaknya bukan khas dari manusia. Hal ini, melihat leluhur hewaniah kita, kata sebagian orang, seharusnya tidaklah mengherankan. Akan tetapi penalaran bahkan pada yang tertinggi dari makhluk lainnya, tampaknya adalah pada taraf yang jauh lebih rendah dari pada taraf-nya pada manusia. Kita tahu, bahwa orangpun berbeda antar mereka dalam pemilikan kemampuan bernalar tersebut. Namun, yang paling kurang intelegen-pun antara yang kita sebut orang yang normal, lebih tinggi kemampuannya dalam menarik inferensi-inferensi berdasarkan premis-premis, dari pada makhluk lain manapun juga.

  1. Penggunaan Bahasa sebagai Simbol

a. Hubungan antara Kemampuan dengan Nalar Manusia

Fakta menampakkan bahwa perbedaan antara manusia dengan hewan atau makhluk yang lain adalah bahwa manusia menggunakan bahasa sebagai simbol dalam menunjukkan atau menandakan objek-objek dan ide-ide. Tidak ada makhluk lain yang telah belajar menggunakan kata-kata sebagai simbol dari objek, situasi, atau tindakan. Dengan bantuan bahasa, baik tulis maupun lisan ataupun isyarat, manusia telah masuk ke dalam kawasan ide-ide, suatu kawasan yang mungkin tertutup bagi kebanyakan hewan (Ruth Crosby Noble dalam Arbi, S.Z, 1988).

Mungkin hal tersebut yang membedakan manusia dengan hewan, sehingga manusia disebut sebagai animal rasionale suatu animal symbolicum, demikian menurut Ernest Cassirer (dalam Arbi S.Z., 1988).

b. Hubungan antara Kemampuan dengan Pembentukan Aku

Manusia dengan memiliki kemampuan simbol-simbol membantu menerangkan perbedaan tentang nalar pada manusia dan hewan, serta antar manusia. Dengan demikian juga membedakan antara masyarakat manusia dan masyarakat hewan.

Oleh karena itu manusia disebut suatu masyarakat sosial yang berkembang dengan spesialisasi dan pembagian pekerja. Manusia adalah makhluk sosial yang menggunakan simbol-simbol dalam mengkomunikasikan pemikiran dan perasaan. Bila manusia tidak dapat menemukan dirinya, maka tanpa ia sadari digunakan individualitasnya atau akunya, kecuali melalui medium kehidupan sosial. Demikian keunikan manusia. Oleh karena itu ilmu seni, etika, filsafat dan agama menjadi mungkin bagi manusia.

c. Hubungan Kemampuan dengan Imajinasi Kreatif

Manusia selain nalar memiliki “imajinasi”. Sutan Zaini Arbi (1988) mengatakan, bahwa manusia memiliki fase produktif dari imajinasinya, mungkin hal ini juga dimiliki hewan atau makhluk yang lain. Namun imajinasi produktif atau imajinatif, pada hewan bukan tipe imajinasi manusia, yang menggunakan simbol-simbol. Hanya manusia yang mampu mengkombinasikan unsur-unsur yang telah disifati secara terpisah dalam pengalaman sensoris atau mungkin belum pernah dialami melalui alat-alat indra (dria), dengan sedemikian rupa, sehingga memproduksi suatu tulisan, tulisan atau karya musik. Lebah membangun sarangnya, berang-berang membuat bendungan, namun hanya manusia yang dapat menegakkan candi misalnya: Borobudur, piramida, masjid, gereja, dan bangunan lain dengan indah dan megahnya. Monyet dapat memecahkan masalah bagaimana memperoleh pisang yang diluar jangkauannya, akan tetapi hanya manusia yang dapat menabur benih, menuai panen, dan memasarkan hasilnya.

Istilah “kreatif” penggunaannya sangat longgar dewasa ini, demikian longgarnya sehingga hampir kehilangan maknanya yang nyata. Sering orang mengatakan “mencipta” yang sebenarnya mereka bermaksud “menemukan”.

d. Hubungan Kemampuan dengan Membuat Pembedaan-pembedaan Moral

Manusia mempertanyakan apakah suatu tindakan secara moral betul atau salah. Hanya manusia yang melakukan apa yang mereka sendiri kutuk sebagai sesuatu yang salah. Sedang hewan atau makhluk lain tidak mempertanyakan atau membuat pembedaan mengenai moral.

Inilah karakteristik kemanusiaan, dimana manusia sadar akan dirinya sebagai pribadi; menggunakan simbol untuk mengekspresikan pemikiran, menalar, menciptakan dan mengekspresi perbedaan-perbedaan moral. Sejarah penuh dengan contoh-contoh mengenai beroperasinya yang tertinggi dan yang terbaik pada manusia. Contoh-contoh tersebut dapat ditemukan di bidang sastera dan seni, ilmu pengetahuan, pekerjaan kemasyarakatan, dakwah, serta orang-orang yang telah mengorbankan harta dan bahkan raganya demi kepentingan bangsa dan negaranya.

Siapakah yang dapat membaca Phaedo, yang mengisahkan hari-hari terakhir Sokrates, tanpa hatinya tergerak? Di sini terdapat suatu gambaran tentang seorang pria yang akan mati, seseorang yang telah menolak kesempatan-kesempatan untuk melarikan diri, dikelilingi oleh teman-teman yang jauh lebih banyak memerlukan penghiburan dari pada dia, yang menghadapi nasibnya dengan humor, keberanian moril dan ketenangan. Sokrates mendiskusikan kekekalan ruh dengan pengiring-pengiringnya itu. Dan kemudian kita lihat dia meninggal. Dan kita sadari, bahwa Sokrates adalah kekal, dengan suatu jenis kekekalan terhadap mana mangkok dengan racun itu tidak berdaya. Ruhnya masih ada bersama kita. Sokrates dikenang-kenang dan dihormati dewasa ini, karena kita percaya, bahwa ia hidup untuk cita-citanya dan dia mati untuk cita-citanya itu.

Gabungan baik dan jahat, simpati dan egoisme, yang ada pada manusia itu, telah menjadi subyek pemikiran selama beribu-ribu tahun.

Di Cina kuno, Kung-Fu-Tse berasumsi, bahwa manusia menurut sifat dasar atau alamnya adalah baik. Pengikut-pengikutnya selama beratus-ratus tahun menjadi dan memperdebatkan implikasi-implikasi dari kepercayaan itu. Mencius (372 – 289 Seb.M.), yang terbesar antara kaum Kung-Fu-tse, menyatakan, bahwa manusia asal mulanya dan secara esensial adalah baik.

Seorang kawan sejamannya, yang bernama Kao menyangkal pernyataan itu, dengan mengatakan, bahwa manusia menurut sifat dasar atau alamnya tidak baik dan juga tidak jahat, melainkan sifat dasarnya dalam dirinya adalah tanpa “kecenderungan”. Sebagaimana air dapat dialihkan ke timur dan ke barat, demikian pula sifat dasar manusia dapat dilekukkan dan dilatih ke arah yang baik atau ke arah yang jahat.

Dunia Barat, dengan hanya sedikit kekecualian, secara historis tidak begitu bermurah hati dalam pandangannya tentang manusia. Santo Agustinus menurut banyak orang telah berjasa dengan merumuskan doktrin, bahwa kejatuhan Adam telah menetapkan kejahatan pada sifat dasar manusia dan, bahwa sejak itu, setiap anak yang lahir ke dalam dunia mempunyai dosa asal tertanam padanya.

Konsili dari Trente menyatakan, bahwa manusia telah kehilangan kemurniannya yang mula-mula. Doktrin ini umumnya diterima dan diajarkan oleh Luther dan Kalvin, serta orang-orang Protestan yang kemudian.

Dalam reaksinya terhadap kepercayaan seperti itu, Rousseau terlalu optimistik mengenai sifat dasar manusia yang asli. Dia mengajarkan, sebagaimana telah dilakukan oleh Kung-Fu-Tse dan Mencius, bahwa manusia menurut sifat dasarnya adalah baik dan menjadi rusak oleh masyarakat.

Rasanya banyak orang yang kini merasa, bahwa Kao telah lebih dekat pada kebenaran dibandingkan dengan Santo Agustinus atau Rousseau. Tampaknya pandangan ilmiah sekarang mendukung, bahwa sifat dasar manusia adalah plastis dan sangat dapat dimodifikasikan. Pertumbuhan dan perkembangan dapat dibimbing dan diarahkan sedemikian rupa, sehingga manusia dapat mencapai kemajuan yang lebih cepat ke arah dunia yang lebih baik, yang menjadi impian orang-orang, suatu dunia ke arah mana terlalu sedikit orang telah bekerja secara intelegen dan konsisten.

Selama berabad-abad sejarah kebudayaan hasil pencapaian manusia tercatat bahwa kemampuan-kemampuan manusia yang utama merupakan kemampuan yang berdiri dengan nyata di atas kemampuan yang lain, serta meletakan manusia di atas puncak realitas yang khusus yaitu kemampuan pemikiran dan ekspresi.

Dilihat dari sifat dasar atau alam manusia, ada yang mendefinisikan bahwa manusia adalah hewan yang rasional, beroperasi pada suatu taraf sensoris. Dria-dria mereka membantu untuk berhubungan dengan dunia eksternal dan mentransmisikan data pengalaman kepada mereka. Pada taraf yang semata-mata fisik, perasan manusia mungkin tidak berbeda dengan perasaan yang dialami oleh hewan.

Yang menjadi perhatian utama seorang pendidik adalah taraf rasional dari pengalaman kognitif, afektif, dan koratif. Secara lain dikatakan bahwa manusia berfikir, mengalami emosi dan terlihat dalam tindakan-tindakan. Manusia melakukan sesuatu karena mereka memilih untuk melakukan itu.

Dalam kejadian sehari-hari manusia lebih mudah ekstrospeksi daripada introspeksi. Apalagi menyalahkan orang lain. Kerapkali kita lihat sikap-sikap sebenarnya salah, selain dirinya sendiri yang benar. Demikian pula dalam studi manusia tentang alam, manusia lebih tertarik dan memperhatikan alam luar dirinya, sampai lupa kepada dirinya sendiri. Manusia lupa bahwa ia ada dan berasal dari orang tuanya, yang suatu ketika menjadi tidak ada, berlaku begini dan bertindak begitu, ini boleh dan itu tidak boleh, semua dianggapnya biasa.

Setelah orang Barat kontak dengan orang-orang bukan Eropa baru mereka sadar bahwa yang dianggap biasa itu, tidaklah begitu biasa. Ternyata manusia itu beragam dalam bentuk, rupa, alam pikiran dan kepercayaan, kecenderungan dan cita-cita, cara berfikir dan berbuat, bertindak, dan berlaku, menilai serta menghargai. Sejak itu orang mulai melakukan studi khusus tentang manusia, maka timbullah ilmu-manusia. Ilmu tentang manusia ini disebut antropologi.

PENDIDIKAN

Dalam permasalahan manusia yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan-nya ditangani oleh pendidikan. Menurut Hasan Langgulung (1986), pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang di didik.

Pendidikan merupakan usaha dari orang dewasa yang telah sadar akan kemanu-siaannya, dalam membimbing melatih, mengajar, dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup. Hal tersebut terutama ditujukan kepada generasi muda agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggungjawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusiaannya.

Pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan juga memiliki ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia (Prasetya, 2000).

Pengertian pendidikan menurut UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dalam keten-tuan umum berarti “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat , bangsa dan negara”.

Dalam penjelasan secara umum dikatakan bahwa “manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Dalam hidup dan kehidupan manusia sehari-hari menghadapi permasalahan, yang sederhana sampai yang bersifat mendasar. Masalah sederhana menyangkut praktik dan pelaksanaan sehari-hari, tetapi disamping itu banyak pula yang menyangkut masalah yang bersifat mendasar dan mendalam cara memecahkannya. Bahkan pendidikan menghadapi permasalahan yang tidak mungkin dijawab dengan menggunakan analisa dan pemikiran yang mendalam, yaitu analisa filsafat.

Driyarkara (dalam Fattah, 2003) berpendapat bahwa pendidikan itu adalah “memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf mendidik”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pendidikan adalah: (a) proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup, (b) proses sosial yang terjadi pada orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum.

Keterkaitan dengan keberadaan dan hakikat kehidupan manusia maka pendidik-an bermakna untuk pembentukan kepribadian manusia, yaitu dalam mengembangkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk beragama (religius). Oleh karena itu pendidikan merupakan “ilmu” juga.