Filsafat & Pengetahuan

bab 1

FILSAFAT

Istilah filsafat berasal dari dari bahasa Yunani Philosophia terdiri dari dua suku kata yaitu Philos dan Sophia. Philos biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang atau cinta (fond of). Sophia diartikan dengan kebijkasanaan (wisdom) atau arif, menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakikat sesuatu. Dengan demikian filasafat mempunyai makna berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakikat adanya sesuatu tersebut, fungsinya, ciri-cirinya, kegunaannya, permasalahannya serta alternatif pemecahan permasalahan tersebut.

Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran, tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan, dengan berfikir secara radikal, sistematik dan universal. Dari kata kerja tersebut maka rumusan kata bendanya adalah filsafat yaitu sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berfikir secara radikal, sistematik dan universal (Gazalba, S. : 1973).

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution (dalam Prasetya 2000) orang Arab memindahkan kata philosophia dari bahasa Yunani ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan, tabiat susunan kata-kata Arab, yaitu Falsafah dengan pola fa’lala, fa’lalah, dan fi’lal. Dengan demikian kata benda dari kata kerja falsafa seharusnya menjadi falsafah atau filsaf.

Kemudian kata filsafat yang banyak dipakai dalam bahasa Indonesia, masih menurut Prof. Dr. Harun Nasution bukan berasal dari bahasa Arab Falsafah dan bukan pula dari bahasa Barat philosophy. Dalam hal ini dipertanyakan mengenai apakah fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari bahasa Arab, dengan demikian terjadi gabungan antara keduanya dan kemudian menimbulkan filsafat.

Dari pengertian secara etimologi tersebut, secara ringkas definisi filsafat adalah sebagai berikut:

  • pengetahuan tentang hikmah;
  • pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar;
  • mencari kebenaran;
  • membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

Dengan demikian menurut Prof. Dr. Harun Nasution (dalam Prasetya, 2000) beliau berpendapat bahwa intisari filsafat adalah: “berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya”.

Pendapat para pakar tentang pengertian atau definisi filasafat yang disitir oleh Sidi Gazalba (1973) sebagai berikut:

  1. Plato

Plato mengatakan filsafat tidak lain dari pada pengetahuan tentang segala yang ada. Dalam kurun waktu Plato masih belum tumbuh diferensiasi pengetahuan. Belum ada batas antara ilmu dan filsafat. Untuk menjadi seorang filosof orang harus menguasai semua pengetahuan yang ada ketika itu. Hal tersebut mungkin karena jumlah atau volume pengetahuan belum sebanyak seperti pada saat ini. Sesudah 25 abad perkembangan ilmu , para pakar terpaksa membelah-belah ilmu dalam berbagai cabang. Cabang tersebut dibelah lagi menjadi ranting-ranting. Ranting tersebut di belah-belah lagi menjadi sub-ranting. Jangankan suatu cabang, suatu ranting ilmupun tak ada otak yang mampu mempelajarinya. Contoh: misalnya ilmu kedokteran. Apakah seorang dokter mampu menguasai cabang ilmu ini secara optimal? Betapapun pintarnya dan banyak pengalaman karena kepadanya diberi umur panjang, sehingga mengenyam beberapa generasi? Oleh sebab itu ilmu tersebut dibelah-belah menjadi umum dan khusus (spesialis). Yang khusus (spesialis) pun masih dibagi-bagi lagi menjadi spesialis untuk kandungan, untuk anak saja, untuk THT saja, untuk syaraf saja, untuk jantung saja, untuk gigi saja, untuk mata saja, untuk paru-paru saja, untuk pembedahan saja, dan sebagainya. Karena itu pengertian Plato tentang filsafat tidak lagi sesuai pada saat sekarang.

  1. Aristoteles

Aristoteles beranggapan, bahwa kewajiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu yang umum sekali. Tugas penye-lidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu. Sebab sejak awal atau sebab yang pertama masuk bidang filsafat. Pertanyaan: apa sebab kejadian masuk medan ilmu? Sedangkan tentang asas dan sebab yang pertama masuk medan filsafat.

  1. Cicero

Cicero mengatakan, bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang ilmu tinggi-tinggi saja dan jalan untuk mencapai ilmu tersebut. Filsafat adalah induk segala ilmu dunia, ilmu kepunyaan dewata. Pada saat sekarangpun orang beranggapan, filsafatlah yang menggerakkan, yang melahirkan berbagai ilmu. Suatu masalah yang dibicarakan filsafat dapat menggerakkan seorang pakar untuk melakukan penelitian. Hasil peneli-tian atau riset menumbuhkan ilmu.

  1. Epicuros

Epicuros memandang filsafat sebagai jalan mencari kepuasan dan kesenangan dalam hidup. Filsafat berguna buat praktik hidup di dunia. Filsafat membentuk pandangan dan sikap individu. Dengan terjawabnya masalah-masalah yang rumit (yang menggelisahkan filosof) puaslah. Pandangan dan sikap tersebut menggariskan praktik hidup. Dengan memahami hakikat hidup, dimana pertanyaannya beragam sekali, memahami asal dan tujuan hidup. Mungkinkah manusia mencapai kesenangan?

  1. Kant

Filsafat menurut Kant adalah pokok dan pangkal segala pengetahuan dan pekerjaan. Diajukannya empat pertanyaan yang menggariskan lapangan filsafat:

  • Apa yang dapat kita ketahui? Dijawab oleh filsafat metafisika.
  • Apa yang boleh kita kerjakan? Dijawab oleh filsafat etika.
  • Sampai dimanakah pengharapan kita? Dijawab oleh filsafat agama.
  • Apakah yang dinamakan manusiah? Dijawab oleh filsafat antropologi.

Kant menjadikan manusia sebagai lapangan filsafat, sebagai pokok penyelidikan.

  1. Leibniz

Leibniz membandingkan filsafat dengan akar suatu pohon, maka dahan-dahan pohon tersebut terjadi dari ilmu yang lain satu demi satu. Dahan tumbuh dan diberi makan oleh akar. Tanpa akar dahan tersebut akan layu dan akan mati. Demikianlah perbandingan antara filsafat dan ilmu menurut Leibniz.

  1. Fichte

Fichte menyebut filsafat sebagai Wissenchaftslehre: ilmu dari ilmu-ilmu, yaitu ilmu yang umum, yang menjadi dasar dari segala ilmu. Ilmu membicarakan suatu bidang atau jenis kenyataan, sedangkan filsafat membicarakan seluruh bidang dan seluruh jenis. Ilmu mencari kebenaran dari kenyataan tertentu. Filsafat mencari kebenaran dari seluruh kenyataan. Setelah ilmu mencapai kebenaran, datang filsafat mempersoalkan kebenaran tersebut. Filsafat mencari kebenaran dari kebenaran ilmu. Yang dimaksud dengan kebenaran dari kebenaran adalah hakikat kebenaran.

  1. Herbert

Herbert berpendapat, bahwa kewajiban filsafat adalah mengerjakan pengertian-pengertian yang dipakai oleh ilmu-ilmu yang lain. Dalam kerjanya, ilmu dimulai dengan pertanyaan apa tentang sesuatu yang dihadapinya. Menjawabnya dengan pembentukan pengertian. Pengertian tersebut dirumuskan dengan definisi atau ta’rif. Dengan demikian yang membentuk pengertian serta merumuskan definisi tersebut. Ketika seorang pakar ilmu melakukan kerja ini, sesungguhnya ia telah memasuki bidang filsafat tanpa disadarinya. Dalam hal ini, orang menyangka masih bergerak di medan ilmu.

  1. Paul Natrop

Paul Natrop menyebutkan filasafat sebagai Grund-wissenschaft: ilmu dasar yang hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan jalan menunjukkan dasar akhir yang sama, yang memikul semuanya. Pengertian Natrop mengingatkan kita pada kewajiban filsafat menurut Aristoteles yaitu menyelidiki asas segala benda.

  1. Windelband

Windelband mengatakan sifat filsafat adalah merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata mengenai suatu masalah yang kita hadapi, kita berfikir dan berfikir, sehingga terjawab masalah tersebut tanpa melahirkan pertanyaan baru.

  1. Al-Kindi

Al-Kindi seorang ahli bintang, pakar ilmu ukur, pakar obat-obatan, filosof Islam yang mengawali skolastik Islam di Irak, sebagai ahli pikir pertama dalam filsafat Islam. Menurut Al-Kindi filsafat di kalangan Islam, membagi filsafat tersebut dalam tiga lapangan, yaitu:

  • Ilmu Fisika (ilmu-thibiiyyat), merupakan tingkatan terendah.
  • Ilmu Matematika (al-ilm-ur-riyadhi), tingkatan tengah
  • Ilmu Ketuhanan (ilmu-ur-Rububiyyah), tingkatan tertinggi (Gazalba, S. 1973).

Tingkatan terendah adalah tingkatan alam nyata, terdiri dari benda-benda konkrit yang dapat ditangkap oleh panca indera.

Tingkatan kedua atau tengah adalah yang berhubungan dengan benda juga, tetapi memiliki wujud tersendiri, yang dapat dipastikan dengan angka-angka (misalnya ilmu hitung, teknologi, astronomi, musik).

Sedangkan tingkatan tertinggi atau ketiga, adalah yang tidak berhubungan dengan benda sama sekali, yaitu soal Ketuhanan.

  1. H. Hasbullah Bakry (dalam Prasetya, 2000)

Menemukan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia serta bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mengetahui pengetahuan tersebut.

  1. Dr. Fuad Hasan (dalam Prasetya, 2000)

Merumuskan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal, radikal dalam arti mulai dari radixnya suatu gejala dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjagaan yang radikal tersebut, filsafat berusaha agar sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.

  1. Ibnu Sina

Menurut Ibnu Sina (dalam Prasetya, 2000) filsafat dibagi menjadi dua bagian, yaitu teori dan praktik. Kedua-duanya berhubungan dengan agama, dimana dasarnya terdapat dalam syariat Tuhan. Adapun penjelasan dan kelengkapannya diperoleh dengan tenaga akal manusia. Filsafat itu adalah pengetahuan menyusun buah pikirannya, membentuk suatu sistem pengetahuan, yang kemudian disebut filosof.

PENGETAHUAN

Menurut Sidi Gazalba (1973) pengetahuan yang dimiliki umat manusia ada 2 (dua) jenis. Yang pertama berasal dari manusia sendiri dan yang kedua berasal dari luar manusia. Golongan pertama adalah manusia yang berfilsafatkan materialisme yang hanya percaya pada hal-hal yang nyata atau kongkrit saja.

Sedangkan golongan kedua mempercayai selain hal-hal yang nyata, juga ten-tang yang abstrak. Percaya adanya yang ada berasal dari Pencipta manusia dan alam semesta. Dari segi agama pengetahuan yang berasal dari luar manusia disebut Wahyu.

Dengan demikian pengetahuan manusia dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu:

  1. pengetahuan indera
  2. pengethuan ilmu
  3. pengetahuan filsafat

Sebelum membahas lebih lanjut tentang filsafat, mengetahui lebih dahulu apa itu pengetahuan. Istilah pengetahuan adalah apa yang dikenal atau hasil pekerjaan tahu. Hasil pekerjaan tahu berasal dari kenal sadar, insaf, mengerti, pandai. Semua isi pikiran ialah pengetahuan.

  1. Kita melihat dengan mata;
  • mendengar dengan telinga;
  • mencium dengan hidung;
  • meraba dengan kulit (tangan);
  • merasa dengan lidah

Pengalaman panca indera ini dengan melalui proses pemikiran langsung menjadi pengetahuan, yang kemudian diberi istilah dengan pengetahuan-indera. Dengan demikian pengetahuan indera merupakan segala sesuatu yang langsung berkaitan dan tersentuh oleh panca indera.

  1. Bila menggunakan pikiran, sehingga kita berfikir secara sitematik serta radikal dan dengan riset, hasil berfikir dan berbuat dengan metode ini membentuk pengetahuan juga yang disebut pengetahuan ilmu.
  2. Radikal berasal dari Yunani radix yang berarti akar, sampai keakar-akarnya. Berfikir radikal berarti berfikir masak-masak, apa konsekuensinya yang terakhir serta apa dampak nantinya dan tidak tanggung-tanggung. Kita memikirkan segala sesuatu secara sistematik, radikal dan universal. Sistem berfikir ini membentuk pengetahuan yang disebut pengetahuan filsafat.

Pengetahuan indera atau sehari-hari dikenal dengan pengetahuan, dalam bahasa Belanda adalah kennis, bahasa Inggris adalah knowlege. Sedangkan tentang pengetahuan ilmu, istilah bahasa Belanda adalah wetenschap dan bahasa Inngris adalah science.

BATAS-BATAS PENGETAHUAN

Pengetahuan indera seperti yang telah disinggung di atas, lapangannya adalah segala sesuatu yang dapat disentuh oleh panca indera secara langsung. Batasnya sampai kepada segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh panca indera.

Pengetahuan ilmu lapangannya adalah segala sesuatu yang dapat diteliti melalui riset dan/atau experimen. Batasnya sampai yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian.

Pengetahuan filsafat merupakan segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi manusia yang alami (yang bersifat alam) dan nisbi (relatif, terbatas). Dengan demikian batasannya adalah batas alam.

Dari perbandingan di atas tersebut, kelihatan bahwa lapangan pengetahuan indera itu sempit. Pengetahuannya hanya meliputi sepanjang yang dapat dijangkau dengan mata (penglihatan), telinga (pendengaran), dan lidah (rasa) secara langsung yaitu tanpa alat. Namun dengan demikian kedudukan pengetahuan ini penting sekali bagi manusia. Oleh karena itu, merupakan pengetahuan langsung, pengetahuan pertama yang dimiliki oleh setiap orang. Dan hal ini merupakan tangga untuk melangkah kepada ilmu.

Ilmu bertugas menjangkau apa yang berada dibalik pengetahuan indera. Hal tersebut dapat digambarkan dengan contoh sebagai berikut:

Mengapa awan berubah menjadi titik-titik air? Dari mana datangnya awan? Mengapa titik-titik air itu mula-mula menghilang sampai di tanah? Mengapa arus air itu akhirnya sampai ke laut? Apa sebabnya titik-titik air itu jatuh ke tanah (ke bumi) dan tidak ke langit?

Dimana panca indera sampai kebatas kemampuannya, ia minta tolong kepada budi dan tangan manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul. Budi berfikir atas data yang diganti tangan. Selama tangan dapat melakukan penelitian, selama itu pula ilmu dapat bicara.

Apabila terhadap pertanyaan-pertanyaan yang timbul, tangan tak mampu mencarikan data untuk budi, maka diserahkan kepada budi wewenang untuk menjawabnya sendiri. Pada saat itu, medan ilmu ditinggalkan, manusia memasuki medan filsafat.

Bertolak dari hasil-hasil ilmu, yang dapat dijangkau panca indera tadi bekerjalah otak filosof. Apa yang dibicarakannya? Segala sesuatu yang tak dapat diteliti, tetapi dapat dipikirkan. Dengan demikian, alangkah luasnya bidang filsafat tersebut.