Sekolah Bob Sadino

” Sekolah tidak menjamin seseorang sukses. Banyak sarjana menganggur. Mereka yang bergaul dengan buku hanya studying, not learning “

– Bob Sadino –

Saat berhadapan dengan para mahasiswa di kampus-kampus, Bob selalu merasa dirinya sedang dikelilingi calon-calon pengangguran. Karena itu, dia setuju sekali dengan penyataan H.A.R. Tilaar, seorang Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, bahwa pendidikan tinggi masih menjadi pabrik pengangguran. Tilaar menyatakan, “Saat ini pendidikan tinggi itu sudah mahal, lulusannya jadi penganggur pula. Itu tidak lepas dari kualitas pendidikan. Makin tinggi pendidikan, makin tinggi penganggurannya”.

Kondisi tersebut yang menjadi keprihatinan Bob paling dalam. Menurutnya, kalau di luar kampus saja sudah ada satu setengah juta sarjana menganggur, maka sangat aneh bila kita membiarkan para mahasiswa itu. Hal ini akan semakin memperbanyak jumlah pengangguran terdidik pada tahun-tahun berikutnya.

“Apa kita tidak tergerak untuk mencari solusinya? Sebab nantinya mereka toh akan menjadi persoalan kita semua, menjadi beban nasional, menjadi tanggungan kita semua!”; komentar Bob Sadino terkait lulusan pengangguran yang sudah menjadi problem pendidikan Indonesia sejak lama.

Berdasarkan fakta dan pendapat tersebut, Bob merasa perlu sekali mernbakar benak para mahasiswa agar berpikir ulang soal studinya. Pilihan keluar dari kampus kemudian memasuki kuadran jalanan merupakan sesuatu yang mutlak. “Itu mutlak, tidak bisa ditawar-tawar lagi !” tegas Bob.

Lama tinggal di Eropa, Bob tahu betul bagaimana para guru sekolah-sekolah kejuruan atau perguruan tinggi di sana mengajarkan ilmu maupun keterampilan pada para muridnya. Intinya adalah mengajarkan keterampilan dengan memberi contoh konkret. Di Indonesia sendiri, sekolah teknik pada masa penjajahan Belanda juga menggunakan pendekatan yang sarna. Makanya, output pendidikannya adalah tenaga terampil.

Bob menjelaskan, “Kakak saya yang sekolah teknik dan diajar oleh guru dari Belanda. ketika si Belanda ini mengajarkan cara menyerut kayu, ia benar-benar mempraktikannya. Ia ajarkan cara menyerut yang benar itu begini, begini… Si murid tinggal mencontoh cara menyerut yang benar. Sesederhana itu sebenarnya”.

Namun lain di Indonesia, lain pula situasi di negara-negara Eropa. Saat Bob masih bekerja di perusahaan perkapalan di Belanda, ia merasakan betapa sulitnya mencari tenaga terampil untuk posisi rendah seperti kuli pelabuhan. Dia harus mencari ke pelosok desa hingga menghabiskan waktu berjam-jam perjalanan hanya untuk tenaga kuli pelabuhan. “Bayangkan, untuk cari kuli pelabuhan saja bisa begitu susahnya”, kisahnya.

Itulah sebabnya, pemerintah Belanda memberi kesempatan para para siswa yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi, untuk ikut magang. Mereka bisa sekolah sambil dipekerjakan di pabrik-pabrik gula, memotong rumput, mengecat rumah, atau pekerjaan lainnya dengan upah lumayan. Pemerintah juga campur tangan dalam hal ini, antara lain dengan memberikan insentif pengurangan pajak, khususnya bagi perusahaan yang membuka kesempatan magang bagi para siswa.

Sebenarnya, di Indonesia pernah muncul konsep pendidikan link & match, saat menteri pendidikan dijabat Prof. Dr. Ir. Wardiman Djoyonegoro, lulusan dari Jerman. Tujuannya sangat baik, yakni mendekatkan dunia pendidikan dengan kebutuhan konkret masyarakat akan tenaga terampil.

Saat itu, baik sekolah maupun universitas diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang terampil dan siap diserap pasar. Setiap mahasiswa dipaksa terjun ke masyarakat dan mengaplikasikan ilmunya. Program ini secara teori sangat bagus. Jika berjalan dengan baik, akan mengurangi jurang antara dunia kampus dengan kenyataan.

Namun, konsep ideal link & match juga seperti berjalar terseok-seok dan akhirnya terlupakan begitu saja. Tampaknya Pak Wardiman lupa dengan kondisi di Indonesia, sehingga konsep ini situasional sekali. Kalau di Eropa, konsep ini dapat berjalan karena perusahaan sangat mendukung mahasiswa berpraktik.

Sementara di Indonesia, saat mahasiswa libur, mereka sangat sulit mendapatkan perusahaan untuk praktik, karena banyak pengangguran yang juga butuh tempat kerja. Belum lagi sejumlah perusahaan tidak rela membantu mahasiswa mempraktikkan ilmunya. Mahasiswa Indonesia sukar untuk bisa, karena pengetahuan mereka susah diaplikasikan. Akhirnya, mereka hanya tahu saja namun belum tentu mengerti.

“Ya, apalah artinya konsep, apa yang bisa diperbuat konsep? Sistem link & match itu bagus, tapi pembawa konsepnya waktu itu masih buta situasi di Indonesia.” ujar Bob menyimpulkan. Kalau dianalisis dengan “Roda Bob Sadino”, kelihatan bahwa pengusung konsep adalah seorang teknorat yang berasal dari kuadran tahu, tidak lebih dulu matang di kuadran bisa, tapi masuk ke birokrasi dengan menempati kuadran ahli.

Lagi-lagi, Bob menunjukkan, situasi di Indonesia berbeda dengan Eropa, tenaga-tenaga kerja level rendahan sangat sulit didapat. Sementara itu, perusahaan-perusahaan mendapatkan insentif pajak bila menerima siswa-siswa magang. Tenaga-tenaga terampil di sana mendapat upah yang sangat baik, sekalipun bukan sarjana. Karena itu, iklim ‘simbiosis mutualisme’ antara kalangan pengusaha dengan kaum pelajar dapat tercipta.

Nah, kalau di Indonesia, yang terjadi adalah sebaliknya, pengangguran tidak terdidik begitu besar jumlahnya, sementara sarjana pengangguran juga tidak kalah banyaknya. Fenomena yang terjadi di negara kita adalah, tak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bersedia menempati posisi-posisi tidak sesuai jurusan pendidikan, serta mau digaji rendah. Situasi ini, selain menjadikan persaingan kerja semakin ketat, juga makn menutup peluang magang para siswa.

Walau sebenarnya, di Indonesia juga banyak sekolah-sekolah kejuruan dan politeknik. Pada era 1980 hingga 1990-an, sekolah-sekolah ini cukup mendapat tempat di masyarakat. Lembaga pendidikan tersebut dianggap paling ideal untuk menerapkan gagasan menyatukan teori dan praktik. Namun, selain situasi pasar kerja tadi, Bob juga melihat ada masalah dari sisi pengajar.

“Apa para guru yang mengajar murid-murid itu benar-benar bisa menjadi teladan? Faktanya, kebanyakan guru sekolah kejuruan saat ini adalah lulusan perguruan tinggi yang hanya tahu teori, tapi belum tentu bisa mempraktikkannya. Itu namanya orang buta menuntun orang buta.” jelas Bob. Dengan kondisi demikian, sudah dapat ditebak, seperti apa output yang dihasilkan sekolah tersebut.

Belum lagi pola pikir orang tua yang umumnya lebih senang kalau anaknya sekolah di sekolah umum, kemudian melanjutkan hingga bergelar sarjana. “Para orang tua itu tidak ingin anak-anaknya masuk sekolah kejuruan. Masih kuat melekat di pikiran mereka, bahwa kalau anak-anaknya sarjana, lebih mudah mencari pekerjaan.

“Tidak ada seorang ibu pun, yang punya uang cukup, yang tidak menginginkan anaknya sekolah sampai tingkat sarjana. Padahal, kita tahu sarjana itu berserakan di mana-mana-sekarang ini”, komentar Bob menyayangkan kondisi masyarakat kita yang masih berpikiran demikian.

Dari perspektif orang bisnis seperti Bob, cara mengurai kerumitan masalah pengangguran dan kemiskinan ini sederhana saja. Saat angka pengangguran (terdidik maupun tidak) begitu tinggi, sementara kondisi ekonomi semakin sulit, maka solusi paling mendesak adalah tersedianya tenaga kerja terampil yang siap diserap pasar. Memberantas kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran memang butuh revolusi pendidikan, namun sejatinya bisa dilihat dari perspektif sederhana tersebut.

Bob mencontohkan Jepang setelah dihancurkan sekutu pada Perang Dunia II, saat itu kaisarnya bertanya, “Guru-guru kita tinggal berapa orang?” Maka kita dapat menerjemahkan, kaisar Jepang bahkan menyadari, aset yang begitu besar harus ditumbuhkan dari sumber daya manusianya, yakni manusia-manusia terdidik.

“Kembali ke Indonesia, apa yang sudah dilakukan untuk pendidikan kita? Bagaimana negara memperlakukan negara-negara kita?” tanya Bob seraya mengajak pemimpin negara ini sungguh-sungguh merenungkan teladan kaisar tadi.

Sumber: Wisteria, H. 2016. Bob Sadino; Goblok Pangkal Kaya. Yogyakarta: Genesis Learning