Roda Bob Sadino

Saat berhadapan dengan kalangan sekolahan, Bob Sadino memang gemar menggunakan bahasa jalanan. Dia menyebutnya sebagai bahasa orang bodoh atau bahasa orang tidak sekolah. Sangat kentara, Bob ingin menandingi bahasa orang pintar dari kampus yang menurutnya menunjukkan kesombongan akademis atau academic arrogance. Ungkapan kontroversial, paradoksal, sarkasme, bahkan ekstrem, kerap dipilih Bob sebagai sikap untuk menghadapi mereka.

Bob mengakui, dalam setiap forum diskusi bersama para sarjana, kata-kata ‘goblok’ tak pernah absen dari mulutnya. Dia merasa harus mengguncang pikiran mereka lewat kalimat teror yang terkesan ‘menggoblok-goblokkan’. Alasannya, pikiran orang-orang pintar itu sudah terstruktur oleh banyak teori, sehingga cenderung beku seperti beton. tidak fleksibel, dan tidak mampu memahami bahasa jalanan.

Bob memang sengaja membuat kalangan terdidik itu bingung. Saat mendapati mereka nanar dengan serangan-serangannya, dia akan merasa senang sekali. Menurutnya, ketika bingung itulah mereka kemudian berpikir. Dengan berpikir, maka kemungkinan besar pergeseran paradigma akan terjadi. Bob melakukan semua itu lantaran kesal. Pilihannya menjadi motivator rupanya tidak membuat orang bergerak. Akhirnya ia lebih memilih meledak-ledak guna meneror mental kaum terpelajar. Dia juga tidak keberatan disebut teroris, karena dia memang ingin terus meneror pikiran mereka.

Meskipun demikian, tak selamanya Bob tampil sebagai teroris mental. Untuk mengomunikasikan sejumlah gagasan, dia membuat sebuah konsep agar kerangka pikirannya dapat tersampaikan secara gamblang. Konsep berbasis empat kuadran ini, mengaku terpaksa dia buat guna memberikan penjelasan dalam ‘bahasa akademis’. Nah, konsep inilah yang dikenal sebagai Roda Bob Sadino atau RBS.

PRINSIP RODA BOB SADINO (RBS)

Secara prinsip, RBS merupakan suatu diagram yang menggambarkan perputaran kehidupan seseorang, dilengkapi proses pembelajaran berupa sintesis antara teori dan praktik, yang menggambarkan tingkat kemampuan, kecakapan, serta kompetensi seseorang. Konsep RBS awalnya digunakan untuk menggambarkan proses pembelajaran dalam dunia wirausaha. Namun perkembangannya, konsep ini juga bisa ditarik untuk menganalisis sejumlah permasalahan masyarakat, asalkan berkaitan dengan kemampuan seseorang.

RBS digambarkan sebagai lingkaran menyerupai roda, yang dibagi dalam empat kuadran. Masing-masing kuadran menggambarkan tingkat kompetensi sekaligus wilayah pembelajaran seseorang. Kuadran pertama terletak di kiri bawah, disebut dengan kuadran ‘tahu’, Kuadran kedua terletak di kanan bawah, disebut kuadran ‘bisa’. Kuadran ketiga terletak di kanan atas, disebut kuadran ‘terampil’, Terakhir, kuadran keempat yang terletak di kiri atas, disebut kuadran ‘ahli’.

KUADRAN TAHU

Bob Sadino menggambarkan kuadran tahu sebagai proses belajar di sekolah pada umumnya, atau kampus pada khususnya. Karena itu, dia sering menyebut kuadran ini sebagai kuadran kampus atau kuadran sekolah. Di kampus atau sekolah, orang belajar berbagai macam teori hingga lulus kemudian mendapat gelar diploma atau sarjana.

Sehingga, inti dari proses pembelajaran di kuadran ini adalah mengetahui teori dan informasi sebanyak mungkin. Semakin banyak teori dan informasi yang dikuasai, semakin banyak tahu seseorang, maka semakin pintar sebutannya.

Sayangnya, kelemahan orang-orang di kuadran ini ada pada praktik di lapangan, alias dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Teori yang mereka kuasai tidak otomatis dapat diaplikasikan begitu saja. Boleh dibilang, jika teori dari kampus itu dibawa ke masyarakat, maka efektivitasnya nol persen.

Mengapa demikian? Karena sifat teori yang umumnya selalu tertinggal oleh dinamika masyarakat. Teori biasanya disusun berdasarkan riset atas fakta atau informasi yang telah berlangsung cukup lama. Dengan kata lain, berbagai perubahan situasi dan kondisi terkini masyarakat sering tidak bisa lagi didekati dengan teori-teori yang sudah usang.

Bob menggambarkan orang yang berada di kuadran tahu seperti orang yang belajar menembak. Orang ini dibekali berbagai teori, teknik, atau cara menembak jitu. Tapi, mereka tak pernah menyentuh senapan dan pelurunya, apalagi belajar menembak sasaran. Mereka memang tahu cara menembak, namun tidak lantas bisa menembak. Karena itu, orang yang kompeten di kuadran tahu, bisa jadi tidak kompeten lagi saat terjun ke masyarakat.

KUADRAN BISA

Kuadran kedua disebut dengan kuadran bisa. Kuadran ini merupakan antitesis dari kuadran tahu, sehingga kadang disebut kuadran masyarakat atau kuadran jalanan. Kuadran bisa menggambarkan orang-orang yang tidak sekolah, namun belajar melakukan pekerjaan di berbagai bidang.

Penghuni kuadran ini tidak melakukan pekerjaan berdasarkan teori tertentu. Jangankan menguasai, mereka bahkan tak peduli teori. Titik berangkatnya adalah praktik, melakukan tindakan, mengerjakan sesuatu, lalu belajar sepenuhnya dari proses tersebut. Sekolah mereka adalah dunia praktik dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat.

Orang-orang di kuadran kedua bisa melakukan pekerjaan dengan benar, bisa juga salah. Namun, justru kedua pengalaman itu yang menjadi sumber pembelajaran utama. Karena proses belajar dari praktik yang berulang-ulang, orang yang semua tidak bisa menjadi bisa. Atau, dari yang semula kurang bisa melakukan sesuatu dengan baik, berangsur-angsur menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.

Kembali Bob menggunakan belajar menembak sebagai gambaran dalam kuadran ini. Penghuni kuadran bisa digambarkan sebagai orang yang memegang senapan, mengisinya dengan peluru, kemudian langsung menembak sasaran yang dituju. Saat pertama kali belajar, mungkin tembakannya terus meleset bahkan jauh dari sasaran. Namun pada hari-hari berikutnya, tembakannya semakin baik, bahkan mengenai sasaran.

Dari sisi praktis mereka yang berada di kuadran bisa adalah orang-orang yang kompeten, Mereka dapat melakukan suatu pekerjaan, sehingga tahu pasti apa yang dikerjakannya. Berbeda dengan orang di kuadran tahu yang menguasai teori, tapi belum tentu bisa mengaplikasikannya. Meski demikian, kuadran tahu biasanya menganggap kuadran bisa sebagai orang yang ‘tidak kompeten secara teori’.

KUADRAN TERAMPIL

Kuadran ketiga atau kuadran terampil, merupakan tempat orang-orang yang pernah melewati kuadran tahu maupun kuadran bisa. Butuh waktu sekitar 20-30 tahun dari kuadran bisa untuk naik ke kuadran terampil. Nah, kuadran terampil ini sebenarnya merupakan hasil dialektika antara kuadran tahu dan kuadran bisa. Jadi, saat kuadran tahu terus menguji teorinya di kuadran bisa, atau sebaliknya, kuadran bisa mendalami proses di kuadran tahu, maka proses dialektika akan terjadi, yang meningkatkan efektivitas teori maupun praktik masing-masing kuadran.

Hasil proses sintesis tersebut, akan mengarahkan orang yang tahu teori untuk terus menguji efektivitas teorinya, sementara orang yang ditempa praktik semakin efektif bekerja karena berlandaskan teori. Akibat dari proses saling menguatkan ini adalah meningkatnya kemampuan seseorang. Jika kemampuan seseorang meningkat, maka kinerjanya dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, masyarakat menyebut orang semacam ini sebagai orang yang terampil di bidangnya.

Bob menggolongkan mereka yang berada di kuadran terampil sebagai orang yang respons-able dan accountable. Respons-able artinya mampu merespon setiap permasalahan dengan tepat, sedangkan accountable berarti mampu mengatasi persoalan secara bertanggung jawab, atau dapat diandalkan.

Jika ditarik dalam ilustrasi belajar menembak, orang-orang di kuadran terampil sudah mampu menembak dengan baik karena dapat mempertanggungjawabkan setiap peluru yang ia tembakkan. Tembakannya juga selalu tepat sasaran, karena selain terus berlatih, orang-orang ini juga diajari teori, teknik, maupun cara menembak jitu.

KUADRAN AHLI

Pada perjalanan selanjutnya, orang-orang dari kuadran terampil akan memasuki kuadran keempat, yakni kuadran ahli, atau disebut juga kuadran profesional. Dalam konteks wirausaha, Bob sering menyebut kuadran ini sebagai kuadran entrepreneur. Penghuninya adalah mereka yang selain berhasil meningkatkan keterampilan, responsif, dan bertanggung jawab, juga karena mampu memberi manfaat pada banyak orang dan diakui oleh masyarakat luas.

Menurut Bob, mereka yang berada di kuadran terampil boleh dikatakan memiliki efektivitas teori hingga 90 persen. Namun, mereka yang berhasil masuk ke kuadran ahli adalah yang memiliki efektivitas teori di atas 90 persen hingga 99 persen. Hal ini dapat terjadi karena mereka telah melampaui proses penempaan di kuadran bisa dan kuadran terampil, serta proses dialektika antara teori dan praktik secara terus menerus.

Jika diilustrasikan dalam belajar menembak, mereka yang berada di kuadran ahli adalah orang yang memiliki keahlian hebat dalam menembak. Setelah terampil menembak, mereka belajar lagi trik khusus untuk meningkatkan kemampuannya. Hasilnya, dengan mata tertutup pun mereka mampu menembak sasaran dengan jitu. Karena itu, orang-orang ini disebut sangat berkompeten sehingga masyarakat mengakuinya sebagai ahli.

Sebenarnya, kuadran terampil dan kuadran ahli hampir sama. Bedanya adalah, predikat ahli diperoleh dari pengakuan masyarakat, sementara predikat terampil berasal dari klaim pribadi. Maka dari itu, penghuni kuadran ahli-lah yang sejatinya bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang masih berada di kuadran tahu dan bisa, agar dapat naik ke kuadran selanjutnya.

PROSES IDEAL EMPAT KUADRAN

Melalui gambar empat kuadran, idealnya seriap orang berproses atau berputar berlawanan arah jarum jam dan berdialektika sepanjang hidupnya dalam lingkaran tersebut. Perputaran dimulai dari kuadran tahu yang menyeberang ke kuadran bisa, atau sebaliknya. Keduanya saling menyeberang untuk meningkatkan efektivitas masing-masing.

Selanjutnya, kuadran bisa terus berproses dan meningkatkan kemampuan hingga naik ke kuadran terampil. Dengan meningkatnya kompetensi, kuadran terampil dapat bergeser ke kuadran ahli. Pada akhirnya, dari kuadran ahli kembali lagi ke kuadran tahu untuk menemukan jawaban yang tidak dapat ditemukan di kuadran lainnya.

Bob melihat perputaran roda ini sebagaimana ritual tawaf, salah satu rukun ibadah haji dalam agama Islam, yakni berputar mengelilingi Ka’bah. Terus berputar, terus berputar tanpa henti, seperti pergerakan jarum dan bandul jam. Ibarat jam, kalau jarum atau bandulnya berhenti, berarti dia sedang membunyikan lonceng kematiannya sendiri.

TITIK BERAT PERPUTARAN EMPAT KUADRAN

Dari perputaran empat kuadran terebut, Bob sangat menyoroti proses sintesis antara kuadran tahu dengan kuadran bisa. la menggambarkan proses kedua kuadran tersebut layaknya bandul jam yang bergerak terus menerus. ldealnya, kuadran tahu harus sering menguji pengetahuan dan teorinya di kuadran bisa.

Sebab di kuadran kedua-lah letak segala tantangan, hambatan, dan peluang riil. Kuadran bisa merupakan tempat latihan dan ujian yang sesungguhnya, yang hasilnya menjadi dasar bagi perputaran kuadran-kuadran selanjutnya. Kuadran terampil dan ahli hanyalah akibat dari sintesis antara kuadran tahu dan bisa.

Namun demikian, sering orang-orang dari kuadran tahu tidak mau menyeberang ke kuadran bisa atau sebaliknya. Tak jarang pula, orang-orang dari kuadran tahu yang tak mau menyeberang ke kuadran bisa, malah langsung melompat ke kuadran terampil, bahkan ahli. Dari situ lah muncul berbagai persoalan tata kelola individu maupun masyarakat.

Menurut Bob Sadino, inilah akar masalah dari satu juta sarjana pengangguran di negara kita, yakni karena kuadran tahu enggan menyeberang ke kuadran bisa. Dengan kat a lain, akar masalah sistem pendidikan Indonesia disebabkan oleh kurikulum maupun pengajar yang tidak diacukan pada dialektika antara teori dan praktik.

Lebih jauh lagi, masalah kemiskinan masyarakat, salah satunya juga karena gabuknya sarjana yang tidak kompeten. Mereka gagal menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri, terlebih orang lain. Sementara itu, orang-orang dari kuadran tahu yang menerobos ke kuadran terampil atau ahli, justru menghasilkan ahli-ahli yang tidak cakap. Akhirnya, mereka-lah yang memberi panduan, penyuluhan, atau bimbingan menyesatkan bagi orang-orang di kuadran bawah.

Jika diterapkan dalam dunia wiraswasta, tak sedikit orang dari kuadran tahu yang hendak berwiraswasta, namun enggan melewati kuadran bisa. Karena, di kuadran itu lah letak segala hambatan, peluang, risiko, gempuran keyakinan, kegagalan, keberhasilan, dan sebagainya.

Maka benar jika tak sedikit dari orang kuadran tahu yang urung berwirausaha lantaran bimbang menatap kesulitan dan risiko di kuadran bisa. Kalau pun berani berwiraswasta, akhirnya cenderung rapuh karena tidak memiliki sandaran pengalaman serta prinsip yang kuat dan teguh.

“Otak mereka terus-menerus dicekoki sampah-sampah informasi dan teori. Tapi, saya tidak mengatakan sampah itu tidak bermanfaat lho. Sebaliknya, kalau sampah diolah dengan kreativitas, pasti mendatangkan manfaat”, ujar Bob. “Jadi, kalau tidak ingin sekolah atau perguruan tinggi kita hanya mencetak pengangguran, ya perbaikilah sistem pendidikannya. Roda Bob Sadino sudah menggambarkan kira-kira di mana letak inti permasalahannya”, lanjutnya.

Sumber: Wisteria, H. 2016. Bob Sadino: Goblok Pangkal Kaya. Yogyakarta: Genesis Learning.