Pendidikan Manusia

Pada dunia hewan sering terjadi gejala-gejala aneh yang kadang-kadang bertentangan dengan alam pikiran kita. Seekor anak kalajengking yang baru lahir, dengan secepat-cepatnya lari merangkak ke atas punggung induknya. Kalau tidak berlaku demikian, ia pasti disergap dan dimakan oleh induknya. Setelah anak kalajengking itu agak besar dan dapat mencapai makanannya sendiri, larilah ia sekencang-kencangnya melepaskan diri dari induknya yang pelahap itu.

Laba-laba betina memakan ketika hampir masanya ia bertelur. Mungkin hal ini dilakukan untuk menjaga anak-anaknya nanti agar jangan dimakan oleh bapaknya yang pelahap itu. Jadi, untuk melindungi anaknya dari bahaya.

Lain benar cara yang berlaku pada kalajengking dan pada laba-laba itu dengan cara yang berlaku pada burung dan binatang-binatang lain. Seekor burung betina yang sedang mengerami telur di sarangnya, jarang dan hampir tidak mau meninggalkan sarangnya itu sampai telurnya menetas. Jantanlah yang bersusah payah mencari makanan untuk induk yang mengeram itu. Jika telurnya sudah menetas, Kedua burung jantan dan betina itu mencari makanan untuk anak-anaknya yang masih lemah itu. Sesudah anak-anaknya agak besar dan cukup bulunya untuk belajar terbang, datanglah waktunya sekarang bagi kedua burung melatih anak-anaknya terbang dari ranting satu ke ranting yang lain. Mula-mula dekat saja, lama-kelamaan agak jauh; mula-mula rendah dan lama-lama agak tinggi, dan seterusnya, sehingga anak-anaknya itu pandai terbang dan mencari makanan sendiri seperti induknya. Sesudah itu, lepas dan terpisahlah burung-burung muda itu dari pengawasan dan perlindungan induknya.

Demikian pula, seekor kucing yang beranak pada waktu anak-anaknya masih lemah, disusuinya anaknya itu, dibersihkan badannya dengan air ludahnya. Sebelum anaknya itu menjadi besar, anak-anaknya itu dilatih berbagai macam gerakan menerkam dan lari seperti kepandaian yang dimiliki oleh induknya. Pada saat tertentu anak-anaknya itu tidak boleh menyusu lagi. Setelah menjadi besar dan dapat mencari makanan sendiri, lepaslah anak-anak kucing itu dari induknya.

Demikianlah contoh-contoh tersebut, kita mengerti bahwa binatang pun “mendidik” atau lebih tepat dikatakan melatih anak-anaknya. Binatang memelihara, melindungi, dan mengajar anak-anaknya sampai anak-anaknya itu dapat berdiri sendiri seperti induknya.

educSamakah pendidikan yang dilakukan binatang-binatang itu dengan pendidikan yang dilakukan manusia? Terus terang, kita katakan tidak. Manusia mempunyai kelebihan dari binatang. Binatang “mendidik” anak-anaknya secara instingtif. Kepandaian “mendidik” yang ada pada binatang bukan karena dipelajari dari binatang lain, melainkan kepandaian yang sudah ada pada tiap-tiap jenis binatang dan sifatnya tetap, tidak berubah atau hampir tidak berubah. Juga kemampuan-kemampuan untuk belajar yang ada pada binatang-binatang muda itu adalah kemampuan-kemampuan yang sudah ada dalam pembawaan dan akan berkembang dengan sendirinya tanpa pengaruh dari luar. Belajar secara demikian dalam psikologi disebut sebagai instingtif. Hal yang demikian juga lebih dekat dikatakan pengajaran instingtif. Jadi, tindakan-tindakan yang kita lakukan terhadap hewan itu bukanlah pendidikan, melainkan “dresur”. Demikianlah, kita dapat mendresur anjing untuk keperluan berburu, kuda untuk menarik pedati atau delman, kerbau atau lembu untuk membajak, dan sebagainya.

Pertama-tama, pada tindakan insting tidak terdapat pengertian tentang tujuan terakhir dari tindakan itu. Marilah kita mengambil dua contoh. Bayi yang baru lahir, yang menyusu, tidak tahu bahwa dengan begitu ia sedang mengambil makanan, apalagi mengetahui bahwa hal itu sangat perlu untuk kelangsungan hidupnya. Jadi disini tidak ada pandangan tentang apa yang akhirnya harus dicapai. Bayi tadi menurut terus pada nafsu. Begitu pula anjing jika mengejar binatang buruan karena menuruti kecenderungan bawaannya. Ia tidak dapat bertindak lain, ia didorong ke situ. Disinilah terlihat ciri yang kedua dari tindakan instink: tindakan itu dilakukan otomatis dan tidak bebas. Ciri yang pertama dari tindakan instinktif ialah tindakan itu dilakukan sekaligus dan tidak sesudah beberapa percobaan; tindakan itu tidak dipelajari dan tidak berdasarkan pengalaman

Lain halnya dengan apa yang terdapat dalam situasi pendidikan yang sesungguhnya. Jika kita menyuruh anak mengerjakan sesuatu, tentulah kita menganggap bahwa anak tadi dapat mengerti diperintah kita. Pengertian mengenai apa yang diharapkan dilakukan olehnya merupakan syarat supaya ia dapat menurut perintah itu.

Dari uraian di atas jelas bahwa dresur tidak dapat disamakan dengan pendidikan. Dengan kata lain, “pendidikan yang dilakukan terhadap binatang berlainan dengan pendidikan yang dilakukan terhadap manusia. Dalam beberapa hal memang ada persamaan. Persamaan itu umumnya terletak pada pertumbuhan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan perkembangan jasmaniah, sedangkan pada manusia haruslah diperhitungkan pula perkembangan psikisnya.

Binatang adalah makhluk alam, yang tidak berkebudayaan. Manusia bilangan alam, tetapi juga termasuk bilangan kebudayaan. Manusia adalah makhluk yang lebih tinggi daripada binatang; manusia adalah makhluk yang berbudi, berpikir; manusia adalah anggota dari persatuan, masyarakat. Dengan adanya budi dan pikiran itu, manusia dapat menimbang-nimbang, memilih mana yang akan dilakukan dan mana yang tidak. Ia dapat memilih dan menentukan dari berbagai kemungkinan yang akan dilakukannya. Ia lebih bebas dalam melakukannya, tetapi pertanggungjawabannya lebih besar pula.

Sedangkan pada binatang tidak demikian. Perbuatan binatang terikat oleh alam, oleh instingnya; binatang tidak mengenal tanggung jawab. Karena perbuatan itulah, kehidupan manusia jauh lebih sulit daripada kehidupan binatang. Itu pula yang menyebabkan mengapa masa muda pada manusia itu lebih lama daripada masa muda yang dialami oleh binatang.