Konsep Dasar Pendidikan

educPekerjaan mendidik bukanlah pekerjaan yang gampang. Kebanyakan awam berpandangan bahwa mendidik hanyalah pekerjaan meniru apa yang diamati dari orang tua atau guru kemudian ditiru. Hal ini menjadi benar jika pendidikan dilaksanakan tidak secara profesional. Perbedaan antara orang yang profesional dengan yang tidak profesional adalah bagi orang yang profesional mengetahui “mengapa” ia melaksanakan laku-laku mendidik yang dia jalankan dengan dasar- dasar teori yang telah mereka kuasai, sementara orang yang sekedar meniru apa yang dilakukan orang lain tidak mengerti mengapa ia melakukannya. Untuk itu seorang pendidik harus menguasai teori-teori pendidikan dan ilmu pendidikan agar dapat melandasi kerjanya secara profesional.

Pendidikan dari segi semantik meliputi dua istilah yang hampir sama bentuknya, yaitu paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan.

Paedagogik atau ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Pedagogik berasal dari kata Yunani paedagogia yang berarti “pergaulan dengan anak-anak”. Paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Juga di rumahnya, anak- anak tersebut selalu dalam pengawasan dan penjagaan dari para paedagogos itu. Jadi, nyatalah bahwa pendidikan anak-anak Yunani Kuno sebagian besar diserahkan kepada paedagogos itu.

Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin/memfasilitasi). Perkataan paedagogos yang mulanya berarti “rendah (pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan yang mulia. Paedagoog (pendidik atau ahli didik) ialah seseorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri.

Dengan alur pemahaman semantik di atas, dapat kita katakan dengan singkat : mendidik ialah memimpin/memfasilitasi anak. Mudah benar rupanya kata-kata itu. Tetapi, sesungguhnya tidak semudah apa yang kita sangka. Ucapan tersebut mengandung banyak masalah yang dalam dan pelik. Mendidik adalah pengertian yang sangat umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejala pendidikan.

Memang, kebanyakan orang masih menganggap enteng dan mudah terhadap hal mendidik itu. Kebanyakan orang tua mendidik anak-anaknya hanya berdasarkan pengalaman-pengalaman praktisnya saja. Mereka banyak meniru perbuatan nenek moyangnya yang belum tentu benar dan baik. Mereka beranggapan bahwa kepandaian mendidik itu sudah dengan sendirinya akan dipunyai oleh setiap orang dari pergaulannya dengan anak-anak. Mereka percaya bahwa dalam setiap situasi, “intuitif” akan mendapat sikap dan yang tepat. Jadi mereka berkehendak bekerja secara “intuitif” belaka, tidak atau kurang maumempelajari dan menyelidiki hal mendidik secara ilmu pengetahuan, secara teoritis.

Bukan berarti bahwa kita tidak menghargai pengalaman-pengalaman dalam praktek dan mementingkan teori belaka. Sekali-kali tidak! Menurut pandangan ini, mendidik berdasarkan hasil-hasil penyelidikan (teori) dan berdasarkan pengalaman- pengalaman (praktek) lebih banyak dan baik hasilnya daripada hanya berdasarkan pengalaman dan intuisi belaka.

Seorang pendidik membimbing atau memimpin/memfasilitasi pertumbuhan anak, jasmani maupun rohaninya. Sama halnya tukang kebun, ia pun tidak memaksa pertumbuhan anak sekehendaknya. Ia tidak dapat membuat anak agar lekas berjalan atau berkata-kata jika memang belum waktunya. Demikian pula, ia tidak mencetak anak itu untuk menjadi dokter, insinyur, ahli negara, atau hal-hal yang memungkinkan tercapainya tujuan itu. Dalam pertumbuhannya, jasmani dan rohani, anak itu berkembang sendiri, dan perkembangannya itu menurut tempo dan iramanya sendiri pula yang tidak sama antara anak yang satu dan anak yang lain. Anak mempunyai pembawaan dan bakat sendiri-sendiri.

Pendidik hanya dapat memimpin/memfasilitasi perkembangan anak itu dengan mempengaruhinya dari luar, seperti dengan memberi makan yang cukup sehat, memberi pakaian, menjaga supaya anak terhindar dari penyakit, menyediakan alat-alat dan memberi kesempatan untuk bermain, menasehati, melarang, menghukum, menyekolahkan, dan kalau perlu memindahkan anak itu ke dalam lingkungan yang lebih menguntungkan. Nyatalah bahwa tiap-tiap tindakan pendidikan terhadap anak didiknya mengandung maksud tertentu, ada tujuan hendak dicapai. Untuk sementara, kita dapat mengatakan bahwa umumnya orang mendidik anaknya dengan maksud agar anaknya itu mempunyai bekal yang dapat dipergunakan dalam kehidupannya kelak, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Kita tidak dapat menyamakan begitu saja pekerjaan seorang pendidik dengan pekerjaan tukang kebun. Pertumbuhan seorang anak tidak dapat disamakan dengan pertumbuhan sebatang tanaman. Perkembangan anak atau manusia tidak hanya melulu biologis. Jika perkembangan anak dapat ditentukan hanya dengan hukum- hukum biologis yang sudah tetap, seperti diuraikan di atas, maka lapangan pekerjaan kita para paedagoog, akan sangat terbatas. Pekerjaan kita akan sama benar dengan tukang kebun, yang menurut L. Gurlit akan terbatas pada “membiarkan tumbuh, memelihara, menjaga, dan menolong” makhluk muda itu.

Pendirian para paedagoog naturalis memang demikian. Mereka pesimistis dalam tindakannya mendidik anak. Tetapi tugas pendidik tidak hanya “membiarkan tumbuh” pada anak didiknya. Pendidik hendaknya berusaha agar anak itu menjadi manusia yang lebih mulia. Anak atau manusia itu adalah makhluk yang berpribadi dan berkesusilaan. Ia dapat dan sanggup hidup menurut norma-norma kesusilaan; ia dapat memilih dan menempatkan apa-apa yang akan dilakukan, juga menghindari atau menolak segala yang tidak disukainya.

Jadi, teranglah bahwa perkembangan manusia tidak dapat disamakan begitu saja dengan perkembangan biologis melulu, seperti pada tumbuh-tumbuhan. Dalam hal ini, berhati-hatilah kita mengumpamakan pekerjaan mendidik itu dengan pekerjaan seorang tukang kebun.