Masalah Pribadi Guru

guruMasalah Pribadi Guru yang Secara Tidak Langsung Mempengaruhi Tugas Mengajar

Masalah dalam Latar Belakang Sosial-Ekonomi

Kondisi yang melekat pada guru dan profesinya membuat kita berpikir betapa tidak sederhana memecahkan persoalan yang berkaitan dengan guru yang terlibat di dalamnya. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh guru-guru adalah semakin rendahnya sosial-ekonomi mereka. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Tjiptosasmito dan William Cummings (dalam Supriadi, 1999) ditemukan bahwa guru-guru yang berusia tua umumnya datang dari tingkat sosial ekonomi yang lebih tinnggi dibandingkan dengan guru-guru yang berusia muda. Indikator tingkat sosial ekonomi adalah tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan orang tua dari para guru.

Pergeseran latar belakang sosial ekonomi asal guru itu mempunyai kaitan dengan hal-hal berikut: motivasi memilih profesi guru, kualitas guru, martabat guru yang berkaitan dengan penghargaan masyarakat, wibawa guru, dan sebagainya, yang muara akhirnya berimplikasi pada mutu pendidikan secara keseluruhan.

Masalah dalam Kesehatan

Guru umumnya memiliki gaji yang standar sesuai tingkat latar belakang pendidikan. Guru-guru di tingkat sekolah dasar umumnya digaji dengan jumlah yang hanya cukup untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Untuk menambah makanan tambahan, umumnya guru-guru tidak memiliki uang yang cukup. Belum lagi seiring dengan bertambahnya usia yang semakin tua, anak semakin membesar, maka kebutuhan hidup seorang guru semakin banyak, padahak kondisi fisik semakin berkurang dan bermacam-macam penyakit mulai dirasakan. Jika keadaannya demikian, bukan tidak mungkin kalau guru sering tidak masuk kerja karena sakit, tidak energik atau “loyo”, dan pada akibatnya tidak bisa melaksanakan tugas mengajar dengan baik.

Masalah dalam Transportasi

Sebagian besar jumlah sekolah dasar terletak di daerah pedesaan, dimana transportasi tidak tersedia secara memadai. Bahkan beberapa sekolah terletak di daerah terpencil yang nyaris hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki dalam waktu beberapa jam. Sementara, sebagian guru (terutama guru yang berasal dari luar daerah) merasa tidak kerasan jika harus tinggal di daerah pedalaman. Ia mencari tempat tinggal yang banyak keramaian yang jaraknya cukup jauh dari tempat tugas mengajar. Sebaliknya, guru di daerah kota besar walaupun didukung banyak alat transportasi, tetapi masalah kemacetan jalan atau masalah antri penumpang secara tidak langsung juga akan berakibat mempengaruhi keberhasilan dalam melaksanakan tugas mengajar.

Masalah dalam Orientasi Pekerjaan

Jabatan guru secara hakiki adalah suatu panggilan hati untuk melayani anak. Mengajar dan mendidik adalah suatu pekerjaan yang bersifat sosial yaitu membantu anak-anak orang lain. Suatu pandangan yang keliru sering dihadapi oleh para guru ialah mereka tergoda dengan orientasi bisnis dalam melaksanakan tugas mengajar. Segala keberhasilan diukur dengan keuntungan dalam bentuk material. Jika demikian, guru tidak dapat melaksanakan tugas mengajar secara total yang mencurahkan seluruh waktu, jiwa dan raganya untuk pelayanan umat, dan pada akhirnya berdampak pula pada keberhasilan proses belajar mengajar.

Masalah dalam Status Keluarga

Status guru dalam sistem kekeluargaan dan kekerabatan yang dimiliki kadang-kadang juga menjadi sumber masalah yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam melaksanakan tugas. Perceraian dalam keluarga sering menjadi sumber masalah, karena suami atau istri secara sendiri-sendiri menjadi “single parent” bagi anak-anaknya. Pada daerah dengan adat dan budaya tertentu, guru yang berstatus sebagai anak pertama (sulung) dalam sistem kekerabatan biasanya dibebani untuk membantu menanggung adik-adiknya. Sebaliknya, jika kebetulan berstatus sebagai anak terakhir (bungsu), dimana orang tua sudah cukup tua, ia harus merawat orang tuanya. Masalah-masalah dalam status keluarga yang demikian ini tidak jarang berdampak pada keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas mengajar di sekolah.

Masalah dalam Kondisi Psikologis

Setiap guru memiliki kondisi psikologis yang unik. Kondisi psikologis ini di samping dipengaruhi oleh faktor lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor genetis (pembawaan). Temperamen dan tipologi yang banyak bersumber dari faktor pembawaan sangat berpengaruh pada perilaku seseorang. Guru-guru yang memiliki temperamen cenderung suka marah, emosional sangat mempengarui perilakunya ketika berhadapan dengan siswa. Begitu juga guru-guru yang memiliki kemampuan dasar (inteligensi) yang rendah juga sangat menentukan keberhasilannya dalam melaksanakan tugas.