Masalah PBM Guru

guruMasalah Guru yang Terkait Langsung dengan Proses Belajar Mengajar

Masalah dalam Merumuskan Tujuan

Tujuan pembelajaran bukan sekedar rumusan dengan kata-kata yang indah, tetapi harus dapat menjawab masalah pokok terkait dengan konsep yang ideal yang menjadi tujuan dan pandangan hidup masyarakat. Dalam proses belajar mengajar guru harus merumuskan tujuan secara jelas. Tujuan pembelajaran harus mencakup aspek-aspek yang menurut S. Bloom terdiri atas (1) aspek kognitif (cognitive domain), (2) aspek psikomotorik (psyichomotoric domain), dan (3) aspek afektif (affective domain).

Dalam proses belajar mengajar, kadang-kadang guru tidak memiliki tujuan yang jelas. Guru mengajar hanya berdasarkan apa yang tertuang di dalam buku paket. Tujuan hanya mencakup salah satu domain saja. Yang banyak terjadi guru hanya mengajar untuk mencapai tujuan untuk aspek kognitif saja. Begitu juga masih banyak guru yang belum bisa merumuskan tujuan pembelajaran, sehingga rumusan tujuan terkesan bukan tujuan siswa tetapi tujuan guru. Jika dihadapkan pada guru-guru yang demikian, maka jelas mereka memerlukan bantuan dengan supervisi.

Masalah dalam Memilih Metode Mengajar

Metode adalah alat komunikasi antara guru dengan murid pada waktu belajar. Komunikasi itu terjadi melalui penerapan panca indra (penglihatan, pendengaran, perasaan, perabaan, penciuman, dan sebagainya). Banyak metode yang dapat dipilih oleh guru untuk digunakan sebagai alat komunikasi belajar mengajar, di antaranya adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demonstrasi, kerja kelompok, pemecahan masalah, karya wisata, simulasi, bermain peran, studi kasus, dan inkuiri.

Untuk menerapkan dan memilih metode-metode tersebut guru berpegang pada keyakinan bahwa dengan metode yang dipilih tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal. Salah satu indikator keberhasilan belajar adalah ditandai oleh berfungsinya sebanyak mungkin atau semua indera yang dimiliki oleh siswa. Oleh karena itu, guru dapat mengkombinasikan beberapa metode untuk diterapkan dalam satu paket pembelajaran. Pada sekolah-sekolah konvensional, kebanyakan guru lebih banyak memilih metode ceramah untuk mendominasi kegiatan belajar mengajar. Padahal sebagai rambu-rambu, metode ceramah hanya bisa efektif untuk digunakan sebagai metode mengajar (khususnya untuk anak-anak) jika tidak lebih dari 15 menit. Oleh karena itu, jika metode ceramah dipilih, maka hendaknya dikombinasi dengan metode-metode yang lain.

Masalah dalam Menggunakan Sumber Belajar

Siswa belajar dengan menggunakan sumber. Model belajar yang tradisional hanya mengandalkan pada sumber yang berasal dari guru. Sumber belajar tidaklah hanya guru. Ada banyak sumber yang dapat dimanfaatkan untuk pengalaman belajar. Sumber-sumber itu ada yang sengaja direncanakan (by design) misalnya buku, jurnal, peta, alat-alat, perpustakaan, dan sebagainya. Ada juga sumber yang tidak sengajar direncanakan tetapi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran (by utilization). Sumber-sumber ini sudah ada di lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik misalnya, perkebunan, sawah, sungai, pelabuhan, danau, gunung, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial dapat berupa sumber orang seperti dokter, petani, pedagang, dan sebagainya, dan dapat pula berupa tempat sosial seperti pasar, puskesmas, rumah sakit, masjid, kantor pos, dan sebagainya.

Masalah dalam Membuat dan Menggunakan Alat Peraga

Alat peraga dapat pula disebut dengan AVA (Audio Visual Aids). Alat peraga digunakan sebagai pembantu untuk memudahkan proses terjadinya pengalaman belajar secara maksimal. Menurut bentuknya alat peraga dapat berupa media dua dimensi, yaitu (1) alat yang terletak pada satu bidang datar, misalnya peta, gambar, grafik, bagan, dan sebagainya; dan (2) media tiga dimensi, yaitu alat yang mempunyai ukuran panjang, lebar, tinggi, misalnya globe, buku, model tiruan, dan sebagainya.

Menurut fungsinya, alat peraga bisa dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1) auditif, yaitu alat yang digunakan dengan cara mendengarkan, misalnya radio, tape recorder; (2) visual, yaitu alat yang digunakan dengan cara melihat, misalnya gambar; dan (3) audio visual, yaitu alat yang digunakan dengan cara mendengarkan dan melihat, misalnya televisi.

Guru dapat memilih dan menggunakan alat peraga yang sudah jadi (tinggal membeli) yang dijual di tokok-toko. Namun, jika guru tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli, ia dapat membuat sendiri alat peraga yang sederhana, misalnya gambar, grafik, model tiruan, dan sebagainya.

Masalah dalam Merencanakan Program Pengajaran

Setiap guru harus membuat program pengajaran. Program pengajaran dapat disusun dan direncanakan berdasarkan waktu pelajaran, yaitu program tahunan, program semester, program bulanan, program mingguan, dan program harian. Program pengajaran hendaknya dikembangkan berdasarkan kurikulum dan ditulis dengan sistem dan format yang disepakati bersama oleh seluruh guru, sehingga memudahkan kepala sekolah untuk melakukan pengecekan dan penilaian. Biasanya Departemen Pendidikan mengeluarkan format perencanaan pengajaran berdasarkan sistem kurikulum yang sedang berlaku. Jika dahulu pernah dikenal dengan PPSI (Pengembangan Pengajaran Sistem Instruksional), sekarang diberlakukan sistem KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi).

Masalah dalam Merencanakan dan Melaksanakan Evaluasi

Untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa, guru harus melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar secara kontinyu. Untuk itu guru harus menyusun program dan alat evaluasi yang tepat. Berdasarkan waktu pelaksanaannya, ada berberapa jenis evaluasi, yaitu: (1) evaluasi harian, yang dilakukan bersamaan dan atau setelah selessai satu paket proses belajar mengajar; (2) evaluasi formatif, yang dilakukan setelah selesai proses belajar mengajar dalam satu pokok bahasan; (3) evaluasi tengah semester, yang dilakukan setelah selesai proses belajar mengajar dalam separoh program semester; (4) evaluasi semester, yang dilakukan setelah selesai proses belajar mengajar dalam satu semester; dan (5) evaluasi akhir, yang dilakukan setelah selesai proses belajar mengajar dalam satu jenjang sekolah.

Dilihat dari cara melakukan, ada beberapa jenis evaluasi, yaitu: (1) evaluasi tulis; (2) evaluasi dengan cara lisan; dan (3) evaluasi dengan cara perbuatan atau porto folio. Sedangkan dilihat dari bentuk alat evaluasi, ada dua kelompok alat evaluasi, yaitu (1) evaluasi dengan tes, yang terdiri atas tes objektif (yaitu tes yang jawabannya sudah disediakan, dan siswa tinggal memilih jawaban yang cocok); dan tes subjektif (yaitu tes yang jawabannya belum disediakan); dan (2) evaluasi dengan nontes, yang terdiri atas wawancara, observasi, angket, simulasi, dan sosiometri.

Masalah dalam Memahami dan Mengenal Karakteristik Siswa

Guru adalah orang tua kedua bagi siswa. Untuk dapat memenuhi kebutuhan siswa, ia harus memahami dan mengenali karakteristik siswanya. Siswa pada dasarnya anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Setiap siswa memiliki kebutuhan dan keunikan sendiri-sendiri. Untuk mengetahui karakteristik siswa guru dapat melakukannya dengan cara:

  • Wawancara, baik langsung kepada siswa maupun orang-orang di sekitarnya, misalnya orang tua, teman dekat, tetangga, dan sebagainya.
  • Observasi, baik observasi tingkah lakunya ketika di sekolah, maupun sesekali obervasi dengan kunjungan ke rumah.
  • Pertemuan dengan orang tua untuk mendapatkan informasi yang timbal balik tentang siswa.
  • Catatan anekdot, yaitu melakukan pencatatan terhadap kejadian-kejadian (yang tidak biasanya) yang dilakukan oleh siswa.
  • Studi kasus, yaitu mempelajari masalah yang dihadapi oleh siswa (terutama siswa yang bermasalah).
  • Sosiometri, yaitu kegiatan untuk mengetahui hubungan sosial antar siswa.
  • Otobiografi, yaitu mempelajari sejarah singkat riwayat hidup siswa.

Masalah dalam Membina Moral Kerja

Moral kerja merupakan landasan yang harus dimiliki oleh setiap guru. Moral kerja ini biasanya ditunjukkan dalam bentuk ucapan, perbuatan, dan sikap dalam melakukan kerja. Sebagian besar indikator moral kerja guru biasanya dikemas dalam bentuk kode etik jabatan guru. Tanda-tanda guru yang bermoral kerja baik antara lain:

  • Berdisiplin; yaitu taat terhadap peraturan, tidak terlambat, masuk kerja secara rajin (tidak meninggalkan tugas kecuali sangat terpaksa)
  • Bertanggung jawab; yaitu selalu menyelesaikan tugas dengan baik.
  • Jujur; yaitu selalu menepati janji.
  • Berpenampilan baik dan sopan
  • Berperilaku baik, ramah
  • Memiliki jiwa suka menolong.