Teknik Berdiskusi

A. Hakekat Diskusi

Diskusi adalah suatu proses tukar menukar gagasan di antara para peserta guna membahas, mengkaji, memperjelas dan atau memecahkan suatu persoalan. Diskusi adalah suatu metode yang lazim dipergunakan untuk tukar pendapat di antara peserta guna mencari jalan terbaik dari berbagai alternatif yang ditawarkan.

Sebuah diskusi yang baik lazimnya memenuhi persyaratan berikut. Pertama, ada suatu topik atau tema yang dibahas sehingga seluruh pembicaraanpara peserta terfokus pada tema atau topik yang telah dientukan. Kedua, adanya kejelasan berapa lama waktu diskusi, agar ketika waktu yang ditargetkan telah habis telah dihasilkan kesimpulan diskusi. Ketiga, adanya aturan yang disepakati oleh seluruh peserta, dan semuanya berusaha untuk menjunjung tinggi auran main yang telah dibuat tersebut. Adanya deskripsi tugas dan tanggungjawab yang jelas di antara peserta diskusi, misalnya saja apa peran pembicara, peran pembanding, peran peserta, peran moderator dan peran notulis.

B. Pemimpin Diskusi

Diskusi lazimnya dipimpin oleh seorang moderator. Tugas moderator adalah memimpin diskusi. Yang dimaksud dengan memimpin diskusi di sini adalah mengatur lalu lintas pembicaraan keseluruhan peserta diskusi, baik itu pembicara atau pemrasaran, pembanding/pembahas, peserta yang bebicara, notulis dan yang lainnya.

discusSering terjadi, diskusi tidak dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, tugas pemimpin diskusilah untuk mendorong agar peserta diskusi bisa aktif berbicara. Tidak jarang juga ada peserta diskusi yang memonopoli atau mendominasi dalam pembicaaan sehingga peserta diskusi yang lain tidak berkesempatan untuk berbicara. Jika kasus demikian yang terjadi, maka pemimpin diskusi seyogyanya mampu memotong pembicaraan mereka yang mendominasi seraya memberikan kesempatan kepada peserta diskusi yang tidak aktif untuk bebicara. Dengan demikian, maka seluruh peserta diskusi dapat mendapatkan kesempatan yang nyaris sama dalam proses diskusi.

Tak jarang juga, peserta diskusi dalam berbicara keluar dari konteks topik atau tema yang dibicarakan. Jika hal demikian dibiarkan berlarut-larut, maka diskusi bisa melenceng ke topik lain, sementara topik uatamanya tidak dapat dibahas secara tuntas. Oleh karena itu, jika kasus demikian ini terjadi, hendaknya pemimpin diskusi langsung mengarahkan agar para pembicara menfokus kepada topik atau tema yang sedang dibicarakan.

Dalam suatu diskusi, tidak jarang berkembang menjadi suatu perdebatan yang demikian hangat di antara pembicara dengan argumen penyangga masing-masing. Sepanjang argumen yang dikedepankan tersebut tetap rasional, serta memberikan dukungan terhadap gagasan-gagasan yang dikedepankan, sangatlah baik dalam proses diskusi.

Yang menjadi persoalan adalah, ketika masing-masing orang “ngotot” dan bersikukuh dengan pendapatnya, didukung dengan semangat emosionalitas yang tinggi, serta masing-masing yang terlibat “ngeyel:” dan berujung di serba “pokoke”. Jika hal demikian yang terjadi, pemimpin diskusi seyogyanya mengingatkan bahwa di dalam berdikusi, yang sangat dipentingkan adalah gagasan-gagasan beserta argumen rasionalnya. Karena itu, pemimpin diskusi dapat mengarahkan pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan sehingga dapat memunculkan pikiran-pikiran cemerlang yang disertai dengan argumen rasional. Pemimpin diskusi juga patut mengarahkan semua pembicaraan agar mengerucut ke sebuah kesimpulan yang cocok dengan tema atau topik diskusi.

C. Peserta Diskusi

1. Pemrasaran adalah orang yang pertama kali diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan pikirannya, sebagai pembuka wacana bagi para peserta yang lainnya. Pemrasaran ini lazimnya membuat makalah, yang pokok-pokok pikirannya disampaikan kepada para peserta. Tidak jarang, pemrasaran dicarikan dari peserta yang dipandang lebih menguasai persoalan.

2. Pembanding adalah pembicara yang diberikan kesempatan kedua setelah pemrasaran berbicara. Pembanding lazimnya menyampaikan pikiran-pikiran alternatif yang berbeda nuansanya dengan pemrasaran. Jika pikirtan-pikiran alternatif yang disampaikan berbeda nuansanya dengan pemrasaran, lazimnya ia mendapatkan label atau sebutan pembanding. Sebutan lain yang lazim dikenakan pada pembanding adalah pembahas. Jika label ini yang diberikan kepadanya, maka yang dilakukan adalah membahas pikiran-pikiran yang dikedepankan oleh pembicara. Sebutan yang lain lagi terhadap pembanding adalah penyanggah. Jika ia diberi label sebagai penyanggah, maka ia bertugas memberikan sanggahan terhadap pokok-pokok pikiran yang dikedepankan oleh pembicara atau pemasaran.

3. Notulis adalah peserta diskusi yang diberi kesempatan untuk mencatat pokok-pokok pikiran yang dikedepankan oleh para pembiacara, baik pemrasaran, pembanding maupun dari peserta yang lain. Dengan adanya catatan-catatan tersebut, pikiran-pikian cemerlang sebagai penjabaran dari makalah yang disampaikan dapat didokumentasikan dengan baik.

4. Audience adalah para peserta diskusi yang lazimnya mendengarkan pembicaraan pemrasaran dan pembanding. Setelah para pemrasaran dan pembanding berbicara, lazimnya audience ini diberikan kesempatan oleh moderator untuk mengajukan pertanyaan, mengajukan gagasan dan pikirannya, serta boleh juga menyanggah terhadap apa yang dikedepankan oleh pemrasaran dan pembanding. Lazimnya, apa yang dikedepankan oleh audience tersebut, ditanggapi lagi oleh pemrasaran dan pembanding. Tentu saja, kalau jumlah pemrasaran lazimnya satu sampai tiga orang, pembanding juga satu sampai dengan tiga orang, maka audience ini jumlahnya sangat banyak. Dengan perkataan lain, peserta dskusi yang terbanyak adalah audience.

D. Argumen & Argumentasi

Salah satu ciri diskusi yang baik adalah berkembangnya argumentasi dalam hampir setiap apa yang dikedepankan oleh para pembicara. Bahkan keberadaan argumentasi inilah, yang secara tajam akan membedakan antara diskusi dan sekedar debat kusir.

Dalam berargumen seseorang dapat mengedepankan gagasannya dengan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif; meskipun juga tidak menutup kemungkinan dengan mengedepankan pikiran-pikiran yang bersifat non konvensional. Yang jelas, nalar yang dipergunakan dalam beragumen hendaknya jelas. Dengan demikian, hal-hal yang dikedepankan senantiasa masuk akal.

Sebuah argumen niscaya akan benar manakala jelas dan benar premis mayor dan premis minornya, serta benar juga dalam cara menarik konklusi atau kesimpulannya. Jika premis mayornya benar, kemudian premis minornya salah, lazimnya juga berending di konklusi yang salah. Demikian juga jika premis mayornya salah, kemudian premis minornya benar, lazimnya juga berujung di konklusi yang salah. Tetapi juga bisa terjadi, bahwa premis mayor dan minornya benar, tetapi kalau cara menarik kesimpulan salah, akhirnya menjadi argumen yang salah juga.

E. Model-Model Diskusi

1. Diskusi panel adalah suatu diskusi yang pemrasarannya terdiri atas panelis ahli. Lazimnya, panelis ahli terdiri atas orang yang ahli di bidangnya. Para panelis lazimnya diminta untuk menyampaikan pikiran-pikian yang sesuai dengan keahliannya.

2. Diskusi kelas adalah suatu diskusi yang dilakukan oleh peserta kuliah dalam forum kelas. Lazimnya, diskusi kelas dilakukan terkait dengan tugas yang diberikan oleh dosen pembina. Dalam diskusi kelas, seseorang atau sekelompok orang yang ditugasi oleh dosen diminta untuk tampil dalam forum kelas.

3. Diskusi kelompok adalah suau diskusi yang dilakukan dalam forum kelompok, lazimnya terdiri atas 3 sampai dengan 10 orang peserta. Diskusi kelompok, bisa merupakan kelanjutan dari diskusi kelas dan bisa berdiri sendiri yang terlepas dari diskusi kelas. Dalam diskusi kelompok lazimnya membahas topik dengan cakupan yang lebih kecil dibandingkan dengan disksi kelas. Hasil diskusi kelompok, lazim juga dilaporkan dalam suatu diskusi pleno.

4. Diskusi pleno adalah suatu diskusi yang merupakan kulminasi dari diskusi kelompok, meskipun tidak selalu suatu diskusi kelompok mesti ditindaklanjuti dengan diskusi pleno. Dalam diskusi pleno, masing-masing kelompok yang telah menyelesaikan tugasnya, atau tugas diskusi kelmpok, diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya ke dalam forum yang lebih luas (pleno).

5. Focuss Group Discussion atau FGD adalah suatu diskusi yang dihadiri oleh sekelompok orang, yang masing-masing orang tersebut mempunyai kapasitas tertentu yang berbeda. Tatkala mereka berbicara tidak keluar dari koridor kapasitas yang sedang diembannya; misalnya sebagai mahasiswa, sebagai pengamat politik, sebagai ahli pendidikan, sebagai birokrat atau pejabat, sebagai tokoh masyarakat informal dan sebagainya.

6. Seminar adalah suatu model diskusi yang didahului dengan pemaparan oleh pemrasaran. Lazimnya, seminar dimaksudkan sebagai wahana untuk mendapatkan masukan-masukan dari peserta. Tidak jarang seminar dimaksudkan untuk mensosialisasikan wacana baru, gagasan baru dan kebijakan baru, agar segera diketahui oleh khalayak. Arti seminar sendiri adalah menabur, yang berarti menabur gagasan dan pikiran kepada khalayak agar khalayak mendapatkan informasi, pengetahuan dan atau gagasan baru.

7. Debat adalah suatu teknik diskusi yang lebih memberikan kebebasan kepada peserta untuk menyampaikan gagasan yang berbeda dengan yang lain. Para pembicara, oleh pemimpn debat, lazimnya diminta menyampaikan pikiran yang berbeda dengan pembicara lain, dengan maksud agar pendengar mendapatkan informasi dari perspektif yang berbeda. Tidak jarang, pemimpin debat meminta ketidaksetujuan seorang pembicara terhadap gagasan yang disampaikan oleh pembicara lainnya.

8. Brainstorming adalah suatu forum di mana para peserta bebas menyampaikan pokok pikirannya, tanpa saling menyanggah satu sama lain. Brainstorming lazim juga disebut sebagai curah pendapat atau curpat.